Opini

Puasa, Lapar Itu Biasa

Oleh: H Soenarwoto Prono Leksono

(Pimpinan Ladima Tour & Travel)

MOHON dengan sangat, saat ini jangan mem-posting foto-foto makanan dan minuman. Apalagi, menu masakan yang menggundang selera makan. Tidak usah. Kecuali Anda sedang berjualan. Mem-posting foto-foto makanan dan minuman saat ini sungguh sangat tidak baik. Jaga perasaan lain. Begitu sahabat saya, mantan wartawan yang tinggal di Depok, kemarin sore menjelang berbuka puasa menulis status di Facebook bernada mengingatkan kepada segenap pengguna medsos.

Sahabat saya menulis “peringatan” itu karena sangat prihatin. Prihatin dengan kian maraknya orang pada bulan Ramadan ini mem-posting foto-foto makanan dan minuman di Facebook, Instagram, dan WhatsApp. Hampir setiap hari “pamer” foto-foto makanan dan minuman. Sedangkan mereka bukan pengusaha makanan atau pemilik warung.Tapi, niat baik sahabat saya itu malah mendapat hujatan dari sejumlah pengguna medsos.

“Lho, kenapa memang. Ada yang salah dengan kita mem-posting foto-foto makanan di Facebook, Instagram, dan WhatsApp?  Apa karena Anda sedang berpuasa, lalu dengan seenaknya melarang orang lain tidak boleh mem-posting foto-foto makanan? Kalau nggak kuat lapar, nggak usah puasa bro,” protes salah seorang pengguna medsos kepada sahabat saya.

Bukan hanya satu orang, akhirnya banyak juga yang memprotes. “Pengguna medsos itu bukan orang Islam saja bro. Pemeluk agama lain juga banyak. Jangan asal larang, itu intoleran. Kalau tidak kuat melihat foto-foto makanan mending tidak puasa. Kalau ilmu cethek, tidak usah pula berkotbah. Jangan sok alim, jangan sok beriman,” protes yang lain tambah menghujat.

Mendapat hujatan-hujatan tadi, sahabat saya  pun membalasnya dengan santai dan detail. Agar tidak salah paham dan tidak salah pengertian. “Maaf, Anda jangan terlalu sensitif dulu. Ini bukan soal agama atau puasa. Bagi kita, lapar itu biasa. Kita bukan pada bulan Ramadan saja berpuasa. Tapi, pada bulan-bulan lain dan hari-hari lain juga berpuasa,” jawab sahabat saya dengan tenang.

Di antaranya puasa hari Arofah, Asyura, sepuluh hari bulan Zulhijah, dan sepuluh hari pertama di bulan Muharram. Juga ada puasa Senin-Kamis dan puasa Daud, mengikuti jejak Nabi Daud AS. Sehari puasa, sehari makan atau “sehari lapar, sehari kenyang”, yang dilakukan sepanjang tahun kecuali hari yang dilarang berpuasa. Yakni Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha serta hari tasyrik (tanggal 11, 12, 13 Zulhijah). “Jadi, umat muslim itu sudah terbiasa dengan berpuasa. Sudah terbiasa dengan perutnya lapar,” jelas sahabat saya.

Tapi, laparnya orang berpuasa itu beda dengan orang “kelaparan”. Kalau laparnya orang berpuasa, itu sudah diniatkan untuk ibadah. Siap lapar. Tidak marah saat lapar.

Jangankan cuma melihat foto, insya Allah berhadapan langsung dengan makanan pun tidak tergoda, meskipun makanan yang di hadapannya sangat lezat. Berbeda dengan orang kelaparan. Orang kelaparan itu tidak bisa makan akibat tidak memiliki makanan yang bisa dimakan. Tidak siap lapar. Orang kelaparan bisa marah ketika mereka tidak mendapatkan makan.

“Maaf, sampai di sini  bisa dimengerti. Jika tak mengerti, berarti Anda tidak memiliki sensitivitas atau kepekaan sebagai orang  Indonesia yang ber-Pancasila. Dalam keadaan banyak orang “kelaparan” saat ini, Anda masih tega-teganya mem-posting foto-foto makanan,” sentil sahabat saya.

Pada masa pandemi Covid-19 ini, banyak orang miskin tidak bisa makan. Lihat, hampir setiap hari sekarang televisi menayangkan orang miskin berebut sembako. Dan, jumlah orang miskin sekarang juga bertambah banyak. Ribuan karyawan perusahaan swasta dan BUMN telah dirumahkan dan di-PHK. Mereka hampir dua bulan lebih selama stay at home ini harus mencukupi kebutuhannya sendiri untuk makan.

Itu belum lagi harus bayar listrik, air PDAM, biaya anak sekolah, biaya anak berobat karena sakit, bayar cicilan kredit motor, cicilan rumah, dan biaya-biaya lainnya. Uang pesangon dan tabungan mereka sudah habis. Mereka kini juga tercatat menjadi “orang miskin baru” (OMB). Mereka juga sulit untuk mendapatkan makan. Butuh bantuan.

Tapi, bantuan yang dijanjikan pemerintah juga tak kunjung datang. Kalaupun ada, itu pun banyak yang salah nama dan alamat. Seperti kasus di DKI, Sukabumi, dan Subang yang sempat viral di medsos gegara salah sasaran. Beda data di meja pejabat, beda nama di kantong RT dan Pak Kades. Malah, ada nama mantan anggota dewan (DPRD) dapat bansos. Lho, kok bisa? “Itulah Indonesia.”

Padahal, para pemangku pemerintahan seperti presiden, menteri terkait, hingga gubernur, bupati, dan wali kota sudah berminggu-minggu memastikan ada bantuan dari negara untuk mereka. Nyatanya? Ada yang mati diduga kelaparan, atau pilih gantung diri karena stres tak bisa makan, digebukin massa karena mencuri, dan ada yang nekat melanggar PSBB karena hati pedih mendengar anak menangis dan merintih serta istri uring-uringan karena tak bisa belanja sembako. Maaf, semoga sampai di sini bisa dimengerti. Ini bukan soal lapar berpuasa.(*)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close