Madiun

PSM Madiun Dijual

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Nama PSM Madiun kembali disebut-sebut setelah dua tahun ditenggelamkan pandemi Covid-19. Menyusul rencana sang ketua umum (ketum) Nono Djatikusumo menjual klub berjuluk Banteng Wilis itu ke investor. ‘’Supaya PSM bisa bangkit lagi,’’ kata Nono, Kamis (22/4).

Diakuinya mengurusi PSM Madiun serbasulit. Selain tekanan dari internal begitu besar, juga dibutuhkan banyak modal. Karena untuk mengikuti kompetisi Liga 3 Jatim saja diperlukan duit sekitar Rp 300–400 juta. Di antaranya untuk keperluan operasional tim, akomodasi, honor pemain dan ofisial. ‘’Tentu saya senang sekali kalau ada yang mau menyelematkan PSM Madiun,’’ ujar mantan kepala dispendukcapil tersebut.

Nono tak menampik memang PSM Madiun disuntik APBD melalui dana hibah dari Koni yang dilewatkan ke Askot PSSI. Tapi, anggaran yang diterima tidak mencukupi. ‘’Biaya dari APBD hanya sekitar Rp 150 juta. Itu untuk mencukupi pembinaan dan kompetisi internal. Tapi, kalau untuk Liga 3 Jatim tentu tidak cukup. Jadi, diperlukan adanya investor masuk,’’ terang Ketua Askot PSSI Madiun itu.

PSM Madiun di-take over oleh Nono dari tangan Sulistyono pada 2018. Nilainya cuma Rp 30 juta. Adapun pengambilalihan salah satu klub pendiri PSSI tersebut tak lepas dari peran Maidi, Wali Kota Madiun terpilih saat itu. Dia kemudian mendorong agar PSM dikelola secara semi-profesional. ‘’Saya berharap siapa pun investornya nanti PSM harus bermain di Kota Madiun. Dan, saya sendiri selanjutnya akan fokus untuk mengurusi pembinaan klub internal,’’ jelas Nono.

Rencana penjualan PSM Madiun itu mendapat tanggapan dari kalangan suporter. Mayoritas di antara mereka setuju kalau PSM dilego. ‘’Saya sebagai suporter tidak mempermasalahkan kalau memang PSM Madiun mau dijual. Yang jelas, namanya tidak bisa diganti sesuai statuta (PSSI),’’ kata Abi Respati, anggota kelompok suporter Madioensche Vokoid Brigade (MVB).

Abi meminta agar manajemen PSM dirombak setelah dikelola investor baru. Orang-orang yang dulunya pernah bercokol di kepengurusan disarankan diganti. ‘’Jika klub dikelola secara profesional dan modern pastri prestasi bisa diraih dan klub akan hidup-menghidupi,’’ tuturnya. (her)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button