Magetan

Profesor Magetan Lulusan Jepang, Belgia, Jerman

Prof Arief Sabdo Yuwono tergerak mengurai masalah persampahan di Magetan. Guru besar teknik lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB) itu asli Magetan.

==================

CHOIRUN NAFIA, Magetan, Jawa Pos Radar Magetan

SAMPAH organik dari potongan sayur dan buah itu ditempatkan pada bak penampungan di rumah composting. Saringan terpasang di bagian tengahnya. Ada telur black soldier fly (BSF) di dalam saringan tersebut. ‘’Telur ini akan menetas menjadi larva dan akan memakan sampah,’’ terang Arief.

19 tahun belakangan, guru besar teknik lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB) itu  berkutat dengan teknologi degradasi sampah dengan bantuan BSF. Sengaja memilih kampung halamannya sebagai objek penelitian. Tak banyak yang tahu jika Arief warga asli Ringinagung, Magetan. Rumahnya kini digunakan kantor DPC Partai Demokrat. ‘’Sudah dijual. Sekarang saya berdomisili di Bogor,’’ kata pria kelahiran 21 Maret 1966 itu.

Selepas lulus dari SMAN 1 Magetan tahun 1984, dia sempat membeli formulir untuk masuk perguruan tinggi. Namun, Arief diterima lewat jalur penelusuran minat dan kemampuan (PMDK). Formulir yang telanjur dibeli itu akhirnya dijual kembali. Dia merupakan angkatan pertama IPB jalur PMDK. Empat setengah tahun ditempuhnya hingga menyandang sarjana teknik pertanian. ‘’Angkatan saya dulu, pertama masuk tidak langsung penjurusan seperti sekarang,’’ ujar ayah dua putra ini.

Lulus S-1, Arief mendapatkan beasiswa dari Japan International Cooperation Agency (JICA). Selama setahun, Arief mempelajari environment control system. Di Jepang, dia membulatkan tekad untuk mempelajari lingkungan. Di Negeri Sakura itu, membuang sampah ditentukan harinya. Seorang temannya yang tak bisa membaca huruf kanji sempat menjadi gunjingan warga setempat karena menyalahi aturan. Sampah yang telanjur dibuang pun tak diambil petugas kebersihan. ‘’Sebagai mahasiswa dari Indonesia, saya merasa malu,’’ ungkap suami dr Wati itu.

Setelah kembali ke Indonesia, Arief melanjutkan pendidikan magister di Belgia, juga dari beasiswa. Universiteit Gent Katholieke Universiteit Leuven menjadi jujukannya untuk mempelajari sanitasi lingkungan. Tahun 1996 Arief lulus. Kemudian melanjutkan pendidikan doktoral ke Jerman, juga dari beasiswa. Tahun 2003, Arief lulus dari Rheinische Friedrich Wilhelms Universitat Bonn. ‘’Waktu itu saya harus belajar bahasa dan budaya setengah tahun dulu,’’ terangnya.

Saat di Jerman, Arief dikenal sebagai tukang reparasi sepeda. Sepeda bekas dia perbaiki. Sepeda itu diberikan kepada mahasiswa Indonesia yang belajar di Jerman. Maklum, di sana tidak sembarangan orang memiliki kendaraan pribadi. Untuk memiliki SIM saja butuh waktu dua tahun uji coba. Sekali melanggar, SIM tidak akan bisa didapatkan. ‘’Jadi, ke mana-mana naik sepeda,’’ katanya.

Arief juga menjadi kuli panggul. Dia biasa menerima jasa pindahan kantor. Waktunya juga diisi menjadi guru bahasa Indonesia. Bahkan, dia kebablasan sampai menjual bakso. Saat mengadakan acara, istrinya menyuguhkan bakso. Tak disangka, disukai tamu-tamunya. Lantas banyak yang pesan. ‘’Banyak yang saya kerjakan di sana. Kalau hanya sekolah, pasti bosan dan tidak ada pengalaman,’’ ujarnya.

Selama menimba ilmu di negeri orang, Arief tak pernah meninggalkan istrinya. Bahkan, anak pertamanya lahir di Belgia. Meski kini sudah menetap di Bogor, namun Arief tak pernah lupa dengan Magetan. Setiap Lebaran, dia mudik ke kampung istrinya di Duwet, Bendo. ‘’Tidak lupa dengan daerah asal,’’ ucapnya. ***(fin/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close