features

Produktif Menulis ala Raden Agus Anggoro Seto

Pilih Wiridan saat Ide Alami Kebuntuan

Raden Agus Anggoro Seto terbilang penulis produktif di Kota Madiun. Berbagai resensi, opini, makalah, cerpen, hingga puisi telah dihasilkan pria 39 tahun itu. Tema apa saja yang kerap diangkat?

SRI MULYANI, Jawa Pos Radar Madiun

JARI tangan Raden Agus Anggoro Seto terlihat begitu gesit menari-nari di atas keyboard laptop, merangkai kata demi kata. Sesekali pria itu berhenti mengetik. Kemudian, mengambil buku referensi. Setelah menemukan sesuatu yang dicari, dia kembali fokus pada layar laptop dan melanjutkan tulisannya.

Seto aktif menulis sejak duduk di bangku SMP. Dia ingat betul, dulu masih menggunakan mesin ketik ketika menulis. Dalam sebulan, sedikitnya dua naskah lahir. Mayoritas tentang sesuatu yang dari segi sejarah mulai termarginalkan masyarakat. Misalnya, jenang gempol. Sebagian karyanya mengangkat unsur budaya dan agama.

Beberapa karyanya antara lain berjudul Pencak Silat dan Islam, Pendekatan Kultural dalam Melawan Politik Kolonialisme (era 1903-1930). Ada pula Toilet dan Proses Inkulturasi Masyarakat Jawa menjadi Masyarakat Kolonial di Surakarta Abad XX. Seto juga melahirkan Demitologi dan Desakralisasi Kupat dan Lepet. ”Saya kalau menulis suka yang nyeleneh atau ora umum,” akunya.

Warga Jalan Gajah Mada Gang Masjid, Manguharjo, itu juga menghasilkan karya ilmiah, resensi, opini, makalah, cerpen, hingga puisi. Selain termuat di beberapa media cetak, sebagian sudah dibukukan. ‘’Saya juga sering terlibat digitalisasi naskah kuno Keraton Jogjakarta dalam menjaga keawetan naskah,’’ ungkapnya.

Di tengah kesibukannya menulis, Seto juga mengelola sebuah yayasan pendidikan Islam dan menjadi penyuluh agama. ”Saat ini sedang berproses menulis sejarah Masjid Kuncen,’’ ujarnya. ‘’Dulu sempat menulis sejarah Masjid Mantingan, Jepara,” imbuh pria 39 tahun itu.

Alumnus IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta itu memiliki kebiasaan membawa catatan ke mana pun bepergian. Ketika mendadak muncul ide dalam pikirannya langsung ditulis kerangkanya. ‘’Setelah sampai rumah baru disusun secara lengkap,’’ tuturnya.

Lazimnya seorang penulis, Seto pun sesekali mengalami writing block alias kebuntuan menulis. Jika sudah begitu, biasanya dia ngopi atau wiridan untuk mengembalikan ide. ”Menulis itu membuat orang tidak gampang pikun dan tidak sombong. Dan, pastinya jika ingin produktif menulis harus diiringi dengan rajin membaca,” ujarnya. * (isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button