Ponorogo

Prestasi di Grass Track Antar Satrio Terbang ke Malaysia

Saban Minggu ke Ngawi untuk Latihan

Usianya baru 14 tahun. Namun, sepak terjang Satrio Bangun Putra Pratama di lintasan grass track pantas diacungi jempol. Teranyar, siswa kelas VIII SMPN 2 Ponorogo itu mengikuti pelatihan teknik dari pabrikan motor Yamaha di Malaysia.

=============================

MIZAN AHSANI, Ponorogo, Jawa Pos Radar Ponorogo

SEKILAS, perawakan Satrio Bangun Putra Pratama tak seperti pebalap motor pada umumnya. Berat badannya 82 kilogram hingga terlihat chubby. Namun, siapa sangka saat di lintasan balap, Satrio mampu bermanuver dengan lincah.

Pun, pada ajang Ngawi Grasstrack Motocross 2019, remaja 14 tahun mampu menyabet juara I kategori bebek standar pemula. ‘’Sirkuitnya menyulitkan. Lawannya juga bagus-bagus,’’ kata pelajar SMPN 2 Ponorogo itu.

Ngawi Grasstrack Motocross 2019 digelar di Sirkuit Tengger, Kandangan, 26-27 Oktober lalu. Kala itu, Satrio turun di kategori bebek standar pemula mengusung bendera Anugerah Mandiri Racing Factory (AMRF) Jatim.

Menunggangi Yamaha Jupiter 125 cc, warga Keniten, Ponorogo, itu sukses melibas lawan-lawannya yang sama-sama pebalap pemula dengan usia maksimal 14 tahun. Satu putaran dilahap hanya dalam waktu semenit. ‘’Treknya gronjal-gronjal (tidak rata, Red). Perlawanan dari tim Ngawi juga sengit,’’ kenangnya.

Prestasi yang diraih Satrio tidak terlepas dari kerja kerasnya. Dia harus jauh-jauh ke Pacitan, Kediri, Blitar, atau Ngawi, untuk berlatih. Sebab, di sana ada sirkuit tanah. ‘’Saya latihannya hanya Minggu, pas libur sekolah,’’ ujar putra pasangan David Surya Pratama dan Yuntri Wahyuni itu.

Satrio akrab dengan motor grass track sejak dua tahun lalu ketika masih duduk di bangku kelas VI SD. Dulu sempat terbesit di benaknya menekuni road race. David ayahnya yang juga pentolan AMRF lantas memasukkan sang anak ke tim.

Satrio menjalani debut di kejuaraan resmi dua tahun lalu di Pacitan. Namun, hasilnya jauh dari harapan. Alih-alih juara, dia justru mengalami insiden. ‘’Saya jatuh, punggung sampai berdarah,’’ kisahnya.

Putus asa sempat menghinggapi. Namun, Satrio tak ingin berlama-lama larut dalam keterpurukan. Rasa penasarannya membawanya kembali ke sirkuit tanah di Salatiga, masih di tahun yang sama. Pada ajang kejuaraan daerah tersebut dia sukses finis ketiga. ‘’Senang sekali. Setelah itu, saya semakin giat berlatih,’’ kata dia.

Satrio pun semakin sering terjun di balapan grass track. Mulai tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional. Kejuaraan yang diikuti terbanyak di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat. Dari berbagai kejuaran selama dua tahun ini, Satrio berhasil mengumpulkan puluhan trofi.

Prestasi yang diraih Satrio mengantarkannya ke Malaysia. Dia mendapat kesempatan belajar langsung pada pabrikan motor Yamaha selama empat hari di Sirkuit Sepang. ‘’Tiga kali seminggu saya lari sepulang sekolah. Jam 19.00 belajar dan les privat. Minggu latihan,’’ ujarnya menceritakan rutinitas kesehariannya. *** (isd/bar)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button