features

Praminto Nugroho, Dokter Spesialis Mata yang Hobi Fotografi

Bukan mentang-mentang dokter spesialis mata jika Praminto Nugroho memadankan pancaindra manusia dengan kamera. Fungsi pupil, retina, dan kornea itu ternyata sama halnya dengan masing-masing bagian pada alat memotret.

RONAA NISA, Jawa Pos Radar Ponorogo

BERUNTUNGLAH para dokter spesialis mata yang hobi fotografi. Apa sebab? Mereka dengan mudah memadankan cara kerja mata dengan kamera. Keduanya sama-sama bersinggungan dengan cahaya dan pembiasan. Pupil pada mata, misalnya, berfungsi mengatur diafragma. Retina sama dengan sensor di kamera. Sedangkan kornea layaknya lensa pada kamera pula. ‘’Semua itu bagian dari teknik dasar fotografi,’’ kata Praminto Nugroho.

Di belakang nama Praminto Nugroho ada gelar SpM (spesialis mata). Di depan tertera titel dr (dokter). Itok –sapaan Praminto Nugroho– tegas-tegas tidak setuju dengan aplikasi editing foto. Sebab, kerja seorang fotografer sesungguhnya mengatur kamera sedemikian rupa sebelum memencet tombol shutter. ‘’Sedapat mungkin meminimalkan pengeditan usai mengambil gambar,’’ jelas Itok.

Tatkala mengambil foto, Itok dengan saksama menghitung arah cahaya, komposisi objek, dan teknik lainnya. Dia sedapat mungkin mencari angle (sudut pandang) yang tepat. Proses editing masih dapat dimaklumi jika sekadar membetulkan kesalahan kecil dalam pemotretan. Di antaranya, foto yang miring, memotong sebagian gambar yang tidak perlu, atau menegaskan cahaya dan bayangan. ‘’Saya ini termasuk fotografer lawasan, terbiasa mengedit lebih dulu sebelum memotret,’’ ungkapnya.

Peminat fotografi belakangan dimudahkan dengan seabrek aplikasi dan kecanggihan kamera. Kendati begitu, momen pengambilan foto amatlah singkat. Seorang fotografer pantang ketinggalan waktu yang tidak mungkin terulang. Itok juga harus sigap mengatur kamera jika cuaca mendadak berubah. ‘’Pengambilan foto menganut kaidah masing-masing pemegang kamera. Terpenting harus ada estetika dan fokus pada objeknya,’’ papar laki-laki 56 tahun itu.

Itok selama ini rajin ikut forum diskusi fotografi. Baginya, setiap foto harus terbuka untuk dikritik. Misalnya, pesan yang disampaikan oleh si pengambil gambar sesuai atau tidak. Setiap foto mengusung pesannya masing-masing. Teman-teman fotografer sekomunitas dengan Itok juga kerap membahas tentang perkembangan dunia fotografi. ‘’Pokoknya gibah tentang fotografi,’’ ucapnya.

Bapak tiga anak itu sudah hobi fotografi sejak masih berseragam putih dan biru. Itok aktif di kegiatan ekstrakurikuler fotografi. Hobi memotret harus dipinggirkannya saat kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga sejak 1983. Itok juga terpaksa gantung kamera tatkala mengambil program spesialis mata di Universitas Gadjah Mada. ‘’Saya mulai memotret lagi setelah jadi dokter mata di Ponorogo,’’ terangnya sembari menyebut tahun 2002.

Ketika senggang, dia sering menyempatkan diri hunting foto. Itok biasa menyasar pusat keramaian. Seperti pasar, arena car free day (CFD), dan pentas reyog. Dia kadang blusukan ke desa dan daerah pegunungan. Namun, Itok lebih suka memotret suasana jalanan dan momen yang berbau human interest. ‘’Saya sering hunting sambil dolan ke Solo dan Jogja,’’ ujarnya.

Itok juga gemar memotret kereta api. Tak urung, dia hafal semua jalur kereta api di Jawa. Dia pernah rela menunggu selama berjam-jam di atas bukit karena buta jadwal kereta lewat. Itok ingin gambar kereta api melintas di atas jembatan. ‘’Kehausan atau kepanasan itu sudah biasa,’’ pungkasnya. *(hw/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button