MadiunPendidikan

PPDB Kota Madiun: Banyak Keluhan Koordinat GPS Tidak Tepat

MADIUN – Pelaksanaan pendaftaran peserta didik baru (PPDB) SD-SMP di Kota Madiun menjumpai berbagai masalah teknis. Pantauan Jawa Pos Radar Madiun ketika berkunjung ke ruang server SMKN 1 Madiun banyak masalah muncul terkait titik koordinat rumah. Sebab, banyak yang mengklaim tidak tepat sehingga berpengaruh pada jarak rumah dengan sekolah yang dituju.

Problem ini kian serius lantaran koordinat GPS menjadi alat seleksi untuk jalur zonasi. Sementara jalur zonasi menjadi persentase terbesar dibanding jalur prestasi dan perpindahan orang tua.  ’’Paling banyak masalah titik koordinat rumah wali murid yang kurang tepat,’’ kata Bambang Widianto, salah seorang tim developer system PPDB Kota Madiun.

Dia mencontohkan, salah seorang wali murid mengadu jarak rumahnya itu berada di Jalan Barito. Sekolah yang dituju ke SMPN 4 Madiun tercantum 15 kilometer. Ternyata, setelah ditelusuri, operator dari sekolah tersebut keliru menempatkan titik koodinat rumah siswa tersebut. Jalan Barito yang diklik dalam google map adalah Jalan Barito, Dagangan. ’’Jika salah begitu masih bisa diperbaiki datanya. Dan ditempatkan titik koordinat yang tepat, perubahan yang ada ini sekolah kami minta menyerahkan berita acara,’’ paparnya.

Bambang menegaskan, bukan berarti kesalahan sepenuhnya dari operator. Melainkan, orang tua juga lalai memantau print out peta koordinat yang diterima siswa ketika PIN selesai dibuat di masing-masing sekolah dasar (SD). Nah, hasil dari print out itulah yang kemudian baiknya dicek oleh wali murid. Jika ternyata ada yang keliru bisa langsung konfirmasi ke operator sekolah. ’’Jadi, memang diputuskan bersama waktu sosialisasi PPDB  dengan operator di Gedung Adiwiyata, Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Madiun bahwa PIN dibuat oleh operator di masing-masing sekolah. Totalnya ada 202 operator,’’ jelasnya.

Lebih lanjut, kata Bambang, idealnya memang ketika pembuatan PIN atau menentukan titik koordinat itu operator mengajak serta wali murid. Menetukan titik koordinat itu disesuaikan dengan lokasi rumah menggunakan aplikasi google map. Pointer koordinat dalam map diarahkan persis di atap rumah siswa. ’’Nggak bisa persis pas. Ditoleransi jaraknya dari pointer itu sekitar 10 meter,’’ ungkapnya.

Dia menambahkan, saat sosialisasi PPDB bersama seluruh operator, Bambang lebih banyak menekankan masalah koordinat. Namun, terlepas dari permasalahan keakurasian koordinat yang perlu digarisbawahi adalah sosialisasi sedini mungkin. ’’Apalagi kalau perubahan PPDB perbedaannya cukup signifikan dengan PPDB tahun sebelumnya. Baiknya, sosialisasi sedini mungkin. Sosilasasi PPDB dari dindik kan juga menanti perwali. Tapi kan nggak mungkin menyalahkan wali kota kan?,’’ paparnya.

Karena itu, permasalahan yang ada menjadi bahan evaluasi bersama untuk pelaksanaan PPDB di tahun berikutnya.Pendek kata, aturan PPDB setiap tahunnya mengalami perubahan. Lantaran baru tahun ini PPDB dengan jalur zonasi diterapkan tidak heran  menimbulkan permasalahan. ‘’Sosialisasi dini itu penting,’’ paparnya.

Sampai hari kedua PPDB, pihaknya menerima sejumlah berita acara terkait perubahan data maupun perubahan PIN siswa. Untuk kemudian diolah dan diverikasi di tanggal 28-29 Juni mendatang.

‘’Masa kritisnya itu justru di hari pengolahan dan verifikasi data,  karena ada perubahan data yang ditampilkan di website. Masyarakat tahunya kalau sudah selesai pendaftaran (tanggal 27 Juni) berarti selesai, padahal masih ada tahapan verifikasi dan pengolahan  data yang memungkinkan di website PPDB itu ada perubahan data karena proses validasi itu tadi,’’ paparnya.  (dil/ota)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button