Ponorogo

Ponorogo di Panggung Dunia

SATU minggu lalu menjadi momen yang sulit dilupakan. Ponorogo International Mask and Folklore Festival (PIMFF) 2019 sukses menjadi magnet bagi wisatawan untuk berkunjung ke Ponorogo. Tak hanya wisatawan dalam negeri. Juga, mancanegara. Mengikuti rangkaian acara dari awal sampai akhir, langsung tebersit di benak saya bahwa PIMFF perlu dilanjutkan. Dan, tentu saja dikembangkan lebih besar lagi.

Di PIMFF, delegasi dari tujuh negara berkesempatan menampilkan kesenian tradisional. Mulai dari Slovakia, Korsel, Uzbekistan, Rusia, Meksiko, Ekuador, hingga Timor Leste. Semua penampilan berlangsung spektakuler. Masing-masing negara memperkenalkan kesenian lokalnya kepada masyarakat tanah air. Begitu juga kita, yang menampilkan Reyog Ponorogo serta sejumlah kesenian tradisional dari berbagai daerah.

Di PIMFF, semua senang. Wisatawan dari dalam dan luar negeri yang datang pun senang. Termasuk sekitar 180 delegasi dari tujuh negara. Semua senang karena bisa menyaksikan dan saling mengenal seni dan budaya dari negara lain.

Apalagi, mereka ini tampilnya tidak dibayar. Kami hanya memfasilitasi akomodasi dan sedikit uang sebagai ganti tampil selama empat hari. Karena mereka bukan grup sirkus. Bukan seniman profesional yang berkesenian karena dibayar. Mereka adalah orang-orang yang memang mewakili negaranya dalam membangun dialog antar negara melalui seni. Sama seperti reyog ketika diminta tampil di berbagai negara.

Inilah yang kami angankan dari penyelenggaraan PIMFF. Event yang tak hanya menjadi hiburan bagi wisatawan. Juga, ruang di mana setiap negara saling mengenal satu dengan yang lain. Saling mengenal adalah langkah awal dalam membangun hubungan yang harmonis. Seperti diutarakan Dubes Slovakia Jaroslav Chlebo, yang datang menyaksikan langsung PIMFF. Cara terbaik mengenal satu sama lain adalah melalui seni dan budaya.

Ponorogo juga terkena banyak imbas positif. Reyog Ponorogo yang dipentaskan rupanya sangat disukai masyarakat mancanegara. Dinilai sebagai seni tari yang dinamis dan merakyat. Juga disebut sebagai seni topeng terbesar yang pernah mereka saksikan. Berarti, satu tujuan telah tercapai. Yakni, semakin memperkenalkan Reyog Ponorogo ke kancah internasional. Sebab, pengalaman mereka menyaksikan reyog akan mereka ceritakan ke masyarakat di negaranya.

Pertanyaannya kemudian, apa yang perlu kita lakukan setelah PIMFF berakhir? Tentu yang utama, kita perlu melestarikan kesenian Reyog Ponorogo. Terus menerus mengasah diri melalui pergelaran demi pergelaran. Termasuk menggebyak reyog lewat agenda reyog obyok pada tanggal 11 di setiap bulan. Langkah lainnya, dengan melakukan pembenahan. Kami akan memperbesar skala PIMFF pada pergelaran berikutnya.

Tentu saja, kesenian kebanggaan kita akan kembali dipentaskan di PIMFF mendatang. Bahkan, kalau perlu, berkolaborasi dengan berbagai kesenian dari mancanegara. Kesenian lain dari Ponorogo juga sangat mungkin untuk ditampilkan. Supaya Ponorogo semakin dikenal di mancanegara. Agar semakin banyak wisatawan yang berkunjung ke Ponorogo. Selain untuk menyaksikan berbagai kesenian lokal kita yang luar biasa, juga menikmati keindahan alam dan membeli oleh-oleh bikinan kita. Supaya warga Ponorogo semakin sejahtera. Jadi ayo, bersama membangun pariwisata Ponorogo. (*)

*Penulis adalah Bupati Ponorogo, Drs H Ipong Muchlissoni

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button