Ponorogo

Ponorogo Belum Miliki Sekolah Khusus Celebral Palsy

Hak Difabel Belum Terpenuhi

PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo – Pelayanan publik bagi difabel belum terpenuhi dengan baik. Baik di sektor pendidikan, kesehatan, maupun pelayanan publik lainnya. Di sektor pendidikan, tidak semua sekolah luar biasa (SLB) telah mencakup seluruh cabang disabilitas. Kegelisahan itu disampaikan Komunitas Orang Tua Anak Spesial (KOAS) Ponorogo.

Ketua KOAS Ponorogo Erna Dwi Wahyuni sampai memilih hijrah ke Solo, Jateng. Demi memenuhi kebutuhan pendidikan bagi anaknya yang cerebral palsy dengan gangguan pendengaran (tunarungu). ‘’Karena di Ponorogo tidak ada sekolahnya,’’ kata Erna Jumat (6/12).

Sejatinya, hak mendapatkan pendidikan berkualitas tak bisa dibedakan. Semua berhak mendapatkannya, termasuk bagi anak berkebutuhan khusus (ABK). Pendidikan penting sebagai bekal di masa mendatang. Namun, faktanya orang tua ABK kerap kebingungan menyekolahkan putra-putrinya. Sampai ada yang beranggapan jika ABK tak bisa menempuh jalur pendidikan formal. ‘’Masih ada orang tua yang bingung hendak menyekolahkan anaknya di mana,’’ ujarnya.

Pun, persebaran pendidikan inklusi di Ponorogo belum merata. Keberadaannya selama ini masih berkutat di wilayah perkotaan. Kondisi ini kian menyulitkan orang tua ABK di wilayah pedesaan. ‘’Pendidikan inklusi di Ponorogo belum maksimal,’’ tegasnya.

Kesehatan, kebutuhan dasar yang tidak kalah pentingnya ini pun belum terpenuhi maksimal. Ambil contoh, terapis berbicara yang belum tersedia di RSUD dr Harjono. Orang tua pun membutuhkan biaya yang cukup untuk melakukan terapi. ‘’Seminggu bisa dua kali, fasilitas terapi perlu dilengkapi,’’ tuturnya.

Ruang publik ramah difabel juga patut menjadi perhatian. Mulai toilet khusus, kursi tunggu, hingga akses jalan di dalam gedung. Kurangnya pemenuhan fasilitas ini tentu membuat waswas difabel ketika berada di ruang publik. Keterlibatan pemkab dalam administrasi atau pendataan di setiap kelurahan juga dirasakan masih kurang. ‘’Di Solo, ada pendataan setiap kelurahan,’’ ujarnya. (dil/c1/fin)

Tahun Depan Siap Sekolah Inklusi

TAHUN depan, jenjang pendidikan mulai TK/SD/SMP diproyeksikan menjadi sekolah inklusi. Butuh persiapan bertahap untuk merealisasikannya. Paling utama, mempersiapkan tenaga pendidiknya.

Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Ponorogo Endang Retno Wulandari mengatakan, sebanyak 120 tenaga pendidik telah diikutkan dalam pelatihan di Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) di Bandung. ‘’Ada 200 guru yang mendaftar. Tapi, Ponorogo jatahnya tiga kelas, jadi 120 orang,’’ ujarnya Jumat (6/12).

Ratusan guru yang belum berkesempatan mengikuti pelatihan bakal diikutikan di tahun berikutnya. Banyaknya guru yang mendaftar dipandang Retno sebagai tolok ukur kesiapan tenaga dindik di kabupaten ini menyongsong sekolah inklusi. ‘’Antusiasnya cukup tinggi,’’ sebutnya.

Selain tenaga pengajar, orang tua dan murid juga perlu dipersiapkan. Pasalnya, ada keraguan dari kalangan orang tua menyekolahkan anaknya di sekolah inklusi. Sekolah inklusi juga melatih kepekaan dan empati antarsiswa. ‘’Rasa empati bakal terbentuk dengan sendirinya. Saya pernah melihat siswa yang sukarela membantu memakaikan kaos kaki temannya yang disabilitas,’’ ungkapnya.

Berapa total pelajar difabel di Ponorogo? Retno belum siap menjabarkan data. Menurut dia, perlu ada pembenahan dan pengklasifikasian ABK masuk sekolah khusus atau umum. Pemilahan itu perlu menggandeng pakar kesehatan. ‘’Kami juga perlu koordinasi dengan Cabdindik Jatim untuk anak-anak yang harus bersekolah khusus ini,’’ bebernya.

Pendataan itu dijanjikan kelar awal tahun depan. Selanjutnya, masyarakat diharapkan lebih proaktif mengoordinasikan ke koordinator wilayah (korwil) maupun kepala sekolah. ‘’Saya minta masyarakat menyampaikan kalau ada anggota keluarga yang disabilitas. Anak-anak di Ponorogo semua sama, termasuk ABK. Memiliki akses pendidikan yang sama untuk masa depan mereka,’’ ucapnya. (dil/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close