Bupati Menulis

PON XX di Papua sebagai Alat Pemersatu

JUST accidental. Secara kebetulan PON XX tahun ini dilaksanakan di Papua. Ketika isu Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) terus mengemuka. Disadari maupun tidak, pesta olahraga terbesar di Indonesia itu cenderung dimaknai sebagai barometer prestasi. Bahkan, sebagian berpandangan hanya prestasi daerah di bidang olahraga semata.

Kalau PON is PON it self atau sekadar PON, maka go to hell-lah menurut saya. Ada makna besar di balik PON itu diselenggarakan. Kita ingat PON pertama yang dilaksanakan 8-12 September 1948 di Surakarta. PON yang hanya mempertandingkan sembilan cabang olahraga dan memperebutkan 108 medali. Ketika itu tidak dipandang sebagai event olahraga semata.

PON pertama digagas untuk menunjukkan pada dunia. Bahwa di tengah upaya mempertahankan kemerdekaan, Indonesia masih bisa menunjukkan persatuan dan kesatuan melalui olahraga. Apresiasi masyarakat ketika itu sangat positif. Semua sepakat PON pertama di Surakarta telah membangkitkan rasa nasionalisme yang tinggi.

Demikian juga pesta olahraga di Papua. Ada banyak sisi yang membuat PON Papua memiliki nilai lebih dari sekadar pesta olahraga. Tanpa mengecilkan arti optimalisasi prestasi di bidang olahraga sebagai main goal-nya. PON sebenarnya memiliki fungsi strategis yang tak kalah penting, yaitu sebagai wahana memupuk semangat persatuan dalam wacana bhinneka yang tunggal ika. Unity in diversity, kemanunggalan dalam keanekaragaman.

Latah bila mengukur keberhasilan PON hanya dari sisi olahraga. Sebab, dapat menimbulkan fanatisme daerah yang berlebihan. Bahkan menumbuhsuburkan sikap primordialisme.

Kita bisa belajar dari PON XIV di Jakarta 1996 lalu. Serta PON sebelumnya dan sesudahnya. Persaingan menuju prestasi puncak saat itu telah berkembang menuju revalitas adu gengsi antardaerah yang berlangsung cukup sengit. Bajak membajak atlet unggulan untuk memperkuat daerah dengan bumbu kesejahteraan dan bonus tinggi telah melahirkan preseden buruk.

Tentu kerugian bagi dunia olahraga Indonesia. Nilai sportivitas menjadi tersubordinasi dengan motif komersialitas. Sayang, pembina olahraga di daerah sering hanya melihat keberhasilan daerahnya hanya dari berapa keping medali emas yang di dapat di venue.

Bila itu masih terjadi, nanti muncul kesan satu daerah akan menjadi pemenang. Sementara daerah yang lain pecundang. Padahal, para pencetus PON dahulu menggelar perhelatan olahraga nasional bukan sekadar aktualisasi diri untuk menunjukkan dominasi suatu daerah atas daerah lain. Namun, untuk mementaskan keindahan olahraga demi soliditas persatuan bangsa.

Persaingan antardaerah untuk merebut prestasi puncak boleh jadi sangat seru. Namun, tidak perlu sampai menerbitkan rasa permusuhan atau malah perpecahan antarkontingen. Harusnya disadari bahwa kemenangan dan target rekor bukanlah tujuan yang mesti dicapai dengan menghalalkan segala cara. Namun, merupakan titik kulminasi dari perjuangan dan kerja keras. Sementara kekalahan harus disikapi secara kesatria sebagai bukti belum tercapainya optimalisasi pembinaan olahraga di daerah yang bersangkutan.

Yang tercepat, terkuat, terjauh, tertinggi, atau rekor lain yang pecah, harus dipandang sebagai prestasi bangsa secara keseluruhan. Bila tidak, PON dikhawatirkan menjadi pemicu dan pemacu semangat perpecahan. Bila hasilnya demikian, sebaiknya PON tidak usah diselenggarakan. Toh atlet yang bertanding sudah sering bertemu di kejurnas cabang olahraga masing-masing. Kekuatan dan kelemahan telah diketahui karena seringnya bertemu.

Akan lebih baik bila setiap daerah ditentukan cabang olahraga unggulan masing-masing yang perlu dibina. Misalnya, kalau NTT gudangnya atletik, diberi tugas untuk membina, kemudian atletnya dikirim ke kejuaraan internasional. Kalau Maluku gudangnya petinju, maka diberi tugas membina petinju yang kemudian dikirim ke kancah internasional.

Daerah lain, DKI Jakarta dengan tenisnya, Jawa Timur panahan, Papua sepak bola, Jawa Tengah bulu tangkis, dan Lampung angkat besi. Sehingga orientasinya sudah persaingan internasional. Siap untuk Olimpiade maupun kejuaraan kelas dunia lainnya. Tidak seperti sekarang. Kita hanya bisa berbicara di beberapa cabang olahraga di persaingan dunia.

Sekali lagi, PON diadakan bukan sekadar itu. Maka, perlu direaktualisasikan kembali semangat PON di Surakarta dulu. Bukan sebatas slogan, melainkan diwujudkan secara nyata. Tindakan yang mengingkari sportivitas, pembajakan atlet, wasit yang memihak (utamanya pada pertandingan yang tidak terukur), serta tindakan yang menimbulkan perseteruan harus dijauhkan. Dan, media hendaknya menghapus predikat juara umum dalam PON. Karena bukan itu tujuan utamanya.

PON XX diikuti sekitar 6.400 atlet. Sebanyak 34 provinsi akan ambil bagian, dengan total 37 cabang olahraga dipertandingkan. PON XX Papua akan berlangsung 2-15 Oktober 2021. Pulau di ujung timur Indonesia yang penuh dinamika. Dengan mengusung slogan Torang Bisa yang merupakan frasa dalam bahasa Melayu Papua yang bermakna kita bisa. Harapan kita semua, dari ujung timur Indonesia akan bersinar matahari pagi nan indah. Seperti indahnya perbedaan dalam kesatuan yang dipancarkan dari PON XX di Papua. Bukan sebaliknya. Semoga!

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button