KriminalitasPacitan

Polres Pacitan Sita 1.021 Pil Dobel L

PACITAN, Jawa Pos Radar Pacitan – Rantai peredaran narkoba di Pacitan terbongkar. Lima pengguna sekaligus pengedar jenis pil dobel L diringkus aparat kepolisian. Mereka mendekam di ruang tahanan Polres Pacitan. Sebanyak 1.021 butir obat haram itu diamankan sebagai barang bukti (BB). ‘’Ini merupakan jaringan yang ada di Pacitan,’’ kata Kapolres Pacitan AKBP Sugandi Kamis (5/12).

Kelima pengedar sekaligus pemakai pil koplo itu adalah Danang Wijaya Kusuma, 20, asal Desa Wates, Slahung. Selanjutnya Fendi Aprilia Hermawan, 22; Yanuar Dwi Wijaya, 24; dan Rohmad Widiono, 19, yang ketiganya warga Desa Gemaharjo, Tegalombo. Sementara seorang lagi Agus Nur Efendi, 20, asal Ploso, Tegalombo. ‘’Penangkapan dilakukan selama beberapa hari dari hasil pengembangan. Total barang bukti yang diamankan sebanyak 1.021 butir dobel L,’’ bebernya.

Terbongkarnya aksi kelima pengedar pil koplo itu bermula dari salah seorang pemakai pil koplo yang sedang teler di Jalan Pacitan-Ponorogo, masuk Desa Krajan, Arjosari, pukul 20.30 Rabu (27/11). Seorang pemakai yang kemudian sebagai saksi itu diamankan petugas Polsek Pacitan berdasar laporan masyarakat. Lantas, dari ocehannya terbongkar rantai peredaran pil koplo di Pacitan itu. ‘’Barang dipasok dari luar Pacitan. Target peredarannya ke seluruh wilayah Pacitan,’’ jelas Sugandi.

Model transaksi yang diterapkan lima pengedar ini bermacam-macam. Salah satunya dengan transaksi langsung tunai. Jaringan tersebut juga mengedarkan pil dobel L dalam bentuk paket. Yakni, berupa lintingan kertas gerenjeng rokok. Satu linting berisi tiga butir, dijual seharga Rp 10 ribu. ‘’Sasarannya remaja dan pemuda. Saat ini kami juga sedang malakukan penyelidikan lebih lanjut tentang kemungkinan peredaran ke kalangan pelajar,’’ ujarnya.

Selain 1.021 butir pil koplo, petugas juga mengamankan lima unit handphone dari kelima tersangka sebagai barang bukti. Sementara, kelima tersangka yang kini mendekam di ruang tahanan Polres Pacitan itu dijerat pasal 197 UU 36/2009 tentang Kesehatan. Para tersangka terancam penjara 15 tahun dan denda paling banyak Rp 1,5 miliar. ‘’Akan terus dilakukan pengembangan. Diduga kuat masih ada jaringan lain,’’ pungkasnya. (den/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button