Madiun

Pipa PDAM Putus, Ribuan Warga Kesulitan Air Bersih

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Surati dan Damirah, dua perempuan warga Dusun Seklueng, Batok, Gemarang, mesti bersusah payah untuk mendapatkan air bersih. Meski saat ini bukan musim kemarau atau sedang kekeringan. Bahkan, bisa dibilang musim penghujan sedang di puncaknya.

Biangnya, pipa saluran air PDAM ke rumah mereka putus diterjang air bah. Tak hanya dua tulang punggung keluarga ini, ratusan warga lain di dusun tersebut juga harus naik-turun bukit demi mencukupi kebutuhan sehari-hari. ‘’Ambil air ke sumber untuk masak dan minum,’’ kata Surati Jumat (8/4).

Sejak Kamis malam pekan lalu (1/4), keran air PDAM di rumah Surati mampet. Bak penampung air maupun jeding menjadi kering. Tak ada air bersih untuk dikonsumsi. Sementara, dia dan keluarga perlu minum dan memasak setiap hari. ‘’Saya cari air sendiri karena suami merantau ke luar Jawa,’’ ujar ibu dua anak itu.

Sumber air Genen yang terdekat untuk dijangkau Surati. Jaraknya sekitar 500 meter dari rumah. Namun, bagi perempuan 42 tahun itu bukan pekerjaan ringan. Dia mesti jalan kaki. Padahal, salah satu kakinya lama sering sakit-sakitan. Pun medan yang ditempuh kawasan perbukitan. Berangkat ke sumber turun, pulangnya mendaki. ‘’Sehari dua kali ambil air, karena tidak berani bawa banyak,’’ ungkapnya.

Surati membawa jeriken ukuran empat liter dan ember kecil untuk ngangsu. Sebagian ruas jalan yang sudah dirabat justru membuatnya mesti ekstrahati-hati. Sebab, jalan menjadi licin lantaran berlumut. Ditambah beban air yang dibawa pulang. Jeriken digendong, ember dijinjing. Surati kerap menjadi yang terakhir sampai rumah. Sebab, dia perlu tiga kali istirahat. ‘’Ya capek, ’’ tutur Surati terengah-engah.

Damirah, 53, warga lain, senasib Surati. Ibu tiga anak itu mesti mencari air bersih sendiri lantaran suaminya sakit. Tak kuat berjalan ke sumber air. Damirah hanya ngangsu untuk keperluan minum dan masak. Untuk mandi, sungai dengan air kecokelatan tak masalah. Tak jauh dari sumber air memang ada sungai. Namun, bilasan terakhir tetap menggunakan air sumber agar tidak gatal. Itu pun mesti cepat-cepat karena harus bergantian dengan warga lain. ‘’Kadang juga nampung air hujan untuk mandi,’’ ujar Damirah.

Keluh kesah Surati dan Damirah adalah gambaran warga Dusun Seklueng. Ramin Didit Riyanto, 50, tokoh masyarakat setempat, menyebut ada 140 kepala keluarga (KK) di dusun tersebut. Mayoritas terdampak putusnya pipa PDAM.

Ramin mengungkapkan sempat ada dropping air bersih Senin lalu (5/4). Namun, jatah warga habis untuk satu hari. Pun baru sekali itu kiriman datang sejak keran mampet gegara banjir bandang. ‘’Kami berharap pipa yang rusak bisa cepat diperbaiki agar tidak kesulitan air lagi,’’ tuturnya. (den/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button