Ngawi

Pingkan-Aini Meregang Nyawa Disambar Kereta Api Sritanjung

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Kesedihan mendalam dirasakan Lasimin. Minggu (9/5) kakek 60 tahun itu kehilangan dua cucunya, Pingkan Andarista Kumalasari, 23, dan Aini, 6. Mereka tewas setelah tersambar kereta api (KA) Sritanjung jurusan Jogjakarta-Banyuwangi di jalur perlintasan double track tanpa palang pintu di Desa Tambakromo, Kecamatan Geneng, Ngawi. ‘’Ini kejadian (tewasnya Pingkan dan Aini, Red) yang kali ketiga dalam sembilan tahun terakhir,’’ kata Kepala Desa Tambakromo Muhammad Suhadi.

Informasi yang dihimpun di TKP, Pingkan membonceng Aini bersepeda menuju rumah kerabatnya. Kedua kakak beradik warga setempat itu hendak mengantarkan jajanan Lebaran. Pingkan sempat berhenti di timur perlintasan menunggu KA Argo Wilis jurusan Surabaya-Bandung melintas dari selatan di track timur. Merasa aman, Pingkan menyeberangi perlintasan.

Tak disangka, dalam hitungan detik melaju dari arah utara KA Sritanjung di track barat. Karena jarak yang sudah dekat, kedua penyandang disabilitas itu tidak bisa menghindar. Kerasnya benturan membuat Pingkan dan Aini terpental ke barat sejauh sekitar 22 meter dari titik tabrakan. Kondisi keduanya mengenaskan. Sepeda yang dikendarai juga terhempas hingga mengenai tugu tak jauh dari perlintasan.

Suhadi menyebut, saat kejadian kondisi perlintasan sepi. Sehingga tidak ada orang yang mengingatkan Pingkan untuk tidak melintas terlebih dahulu. Di samping itu, perlintasan tidak dilengkapi early warning system (EWS). ‘’Dengan adanya peristiwa ini, kami mohon pemkab atau KAI (Kereta Api Indonesia) memasang palang pintu. Karena ruas ini jalan poros yang cukup ramai,’’ ungkapnya.

Kapolsek Geneng AKP Dhanang Prasmoko mengatakan, Pingkan hanya melihat KA Argo Wilis. Karenanya, dia bergegas melintas setelah KA itu lewat. ‘’Ternyata ada kereta lagi dari arah berlawanan,’’ ujarnya. (mg3/c1/cor/her)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button