Magetan

Pinca Bank BRI Magetan Rahadi Kristiyono Berani Tinggalkan Zona Nyaman

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Nasib Rahadi Kristiyono bisa jadi tidak akan seperti sekarang jika pada 2005 silam tak membuat keputusan berani. Dia meninggalkan kursi front liner Bank BRI yang sudah empat tahun diduduki. Lalu, mencoba peruntungan dengan mendaftar menjadi calon staf jalur khusus pengembangan staf. ‘’Kalau saya main di zona nyaman, mungkin akan gitu-gitu saja,’’ kata Rahadi.

Ya, dua tahun pertama bergabung BRI, Rahadi sejatinya sudah merasa nyaman. Menyiapkan administrasi dan melayani nasabah. Namun, setelah itu dia mulai dilanda kejenuhan lantaran pekerjaannya tidak menuntut banyak berinovasi. ”Mungkin saya akan stagnan jika tidak berani ambil keputusan saat itu,’’ terang pria bersodiak cancer ini.

Tak disangka, dewi fortuna berpihak kepadanya. Dia diterima, lalu menjalani pendidikan di Jakarta dan job training di Indramayu selama hampir setahun. Penempatan pertamanya yakni di kantor cabang Situbondo sebagai tenaga marketing.

Pada 2008 dia dipindahtugaskan menjadi account officer di kantor wilayah Jakarta 1 selama setahun empat bulan. Kemampuannya terus meningkat hingga dipindahkan ke kantor wilayah Bandung yang saat itu membutuhkan tenaga khusus penyelamatan pinjaman. ‘’Kebetulan hanya tiga orang,”  terang ayah dua anak itu.

Karirnya terus meningkat. Dia kemudian dipromosikan menjadi manager pemasaran di kantor cabang Malang Kawi. Di sana Rahadi membawahi hingga 38 tenaga marketing.  Setahun  berselang dia dipromosikan lagi menjadi pemimpin kantor cabang pembantu Sribawono, Lampung.

Tangga karirnya terus menanjak menjadi pinca BRI Lubuk Sikaping, Padang, kemudian bergeser ke kantor cabang Lahat. Kinerjanya bahkan membuhakan prestasi peringkat pertama se-Kantor Wilayah Palembang (SumSel-Jambi-Babel). ‘’Akhirnya saya dipindahtugaskan kembali ke Jawa, di kantor cabang Ajibarang,’’ ungkap suami Arnik Dhian Nursita itu.

Dua tahun empat bulan setelahnya, dia diberi kepercayaan memimpin kantor cabang Magetan. Selama pindah dari satu kota ke kota lainnya, pria yang juga hobi gowes itu selalu mengajak serta keluarganya. ‘’Pola berpindah seperti ini memberikan pengalaman khusus kepada mereka bagaimana beradaptasi dengan lingkungan dan budaya baru,” jelas alumnus Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro Semarang ini.

Rahadi memiliki trik agar berhasil menjadi pemimpin. Salah satunya memahami karakter anak buah. Dia juga dituntut memahami permasalahan yang dipicu faktor tertentu sehingga membutuhkan penanganan khusus. ‘’Saya juga terus belajar. Belajar dari mereka yang sudah berhasil serta mereka yg belum berhasil dan masih berproses menuju keberhasilan. Supaya saya tidak melakukan kesalahan yang sama,’’ pungkasnya. (bel/isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button