Ponorogo

Petugas Terbatas, PAD dari Perparkiran Tak Maksimal

PONOROGO – Pendapatan asli daerah (PAD) yang dihimpun dari urusan parkir memang cukup menjanjikan. Sayangnya, dishub terkendala jumlah SDM untuk mengoptimalkan pendapatan dari jasa penitipan kendaraan tersebut. ‘’Sepanjang 2018 terhimpun Rp 800 juta. Itu masih pendapatan bruto, karena 50 persennya untuk upah jukir (juru parkir, Red),’’ kata Kepala Dishub Djunaedi kepada Radar Ponorogo.

Djunaedi tak menampik bahwa tak bisa memetik untung maksimal dari pengelolaan parkir. Sekalipun potensinya cukup menjanjikan. Itu karena SDM yang dimiliki dishub dalam mengelola jukir hanya tujuh orang. Pun, mereka hanya disokong anggaran operasional tak lebih dari Rp 30 juta per tahun. Duit sebanyak itu sudah termasuk untuk monitoring hingga membiayai operasional rapat dan membeli bahan bakar dalam setahun. ‘’Sementara mitra kami ada 214 jukir. Kalau jujur berpikir ke depan, ya akan rugi. Tapi, untuk mendongkrak, perlu ada perbaikan di SDM dan anggaran,’’ ujarnya.

Padahal, target PAD dari pajak dan retribusi parkir naik hingga Rp 1 miliar tahun ini. Sebab, masih banyak lahan parkir baru yang belum ditarik resmi oleh pemkab. ‘’Kenaikan target ini bagian dari intensifikasi. Ekstensifikasinya menambah lahan parkir baru,’’ tuturnya.

Diakui Djunaedi, manisnya potensi PAD dari parkir membuat swasta kepincut untuk mengajukan kerja sama. Namun, sebelum merentangkan tangan, Djunaedi ingin pihak swasta itu dapat memberi paparan yang gamblang. Meliputi sistem manajemen jukir hingga angka pasti potensi PAD yang berani ditargetkan mereka. ‘’Kalau swasta mau, harus berani patok target pendapatan berapa. Jadi, pihak swasta bisa untung, jukir dan daerah juga untung. Kami tidak ingin ada permasalahan di kemudian hari,’’ tandasnya. (naz/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close