Madiun

Petugas Pemakaman Jenazah Korona Lelah dan Kewalahan

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Lonjakan kasus baru konfirmasi Covid-19 dan kematian belum berhenti. Petugas pemakaman kelelahan dan kewalahan. Awal Juli (9 hari), mereka telah memakamkan 51 jenazah pasien korona. Baik konfirmasi Covid-19 maupun masih menunggu hasil swab test.

Kasi Pelayanan Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Madiun Yulius Victoria mengatakan, dalam sehari dia dan timnya rata-rata memakamkan lima jenazah dengan prosedur protokol kesehatan (prokes) Covid-19. Tak jarang mereka tiduran di makam sembari menunggu jenazah datang. ‘’Lelah itu pasti. Bayangkan, dari subuh sampai subuh lagi,’’ katanya, Sabtu (10/7).

Kelik, sapaan akrabnya, mengakui lonjakan kematian membuat dia bersama timnya kewalahan. Bahkan, pernah dalam sehari memakamkan 11 jenazah. Tim harus menyelesaikan pemakaman hari itu juga. Tim pemakaman terdiri 13 personel yang dibagi dua tim. Tiap tim 6-7 personel. ‘’Kami mohon masyarakat tidak menganggap remeh virus ini (Covid-19, Red). Tetap disiplin prokes,’’ pintanya.

Sementara itu, dugaan serangan virus varian baru hingga kini belum terdeteksi. Plh Direktur RSUD Soedono Madiun (RSSM) Dwi Siwi Mardiati menyebut bahwa pihaknya belum mendapat permintaan untuk memeriksa varian baru tersebut. ‘’Kami belum pernah diminta sampel oleh dinkes kota maupun Kabupaten Madiun untuk itu,’’ ungkap Siwi.

Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes-PPKB) Kota Madiun Denik Wuryani juga menyebut belum melakukan pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) untuk memastikan virus varian baru. Sebab, belum ada petunjuk dari pemprov maupun pusat. ‘’Varian baru atau bukan, tapi dari provinsi sepertinya begitu. Jadi, kami tunggu petunjuk provinsi,’’ ujar Denik.

Denik menjelaskan, pemeriksaan varian baru harus dilakukan di laboratorium khusus. Saat ini pihaknya fokus pelayanan serta penanganan Covid-19. Sembari menunggu petunjuk dari pemprov terkait pengiriman sampel genom untuk diperiksa lebih lanjut.

Di bagian lain, Denik menyebut bahwa kasus kematian Covid-19 didominasi lanjut usia (lansia) dan sebagian karena penyakit penyerta. Dari sisi usia, 56 persen usia 60 tahun ke atas, 39 persen usia 45-59 tahun, dan lima persen sisanya usia 25-45 tahun. ‘’Sebagian besar lansia dan komorbid,’’ urainya.

Diketahui beberapa varian baru telah masuk tanah air. Mutasi virus korona itu pun memiliki ciri khas masing-masing dengan tingkat infeksi lebih tinggi. Varian B.1.1.7 dari Inggris yang disebut Alfa memiliki ciri khas cepat menular. Varian B.1.617.2 dari India yang disebut Delta memiliki ciri cepat memberat. (kid/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button