MejayanPendidikan

Peserta Uji Coba PTM SMPN 1 Mejayan Hanya Libatkan Kelas IX

MEJAYAN, Jawa Pos Radar Caruban – SMPN 1 Mejayan selektif memilih siswa peserta uji coba pembelajaran tatap muka (PTM). Lembaga pendidikan itu hanya melibatkan peserta didik dari kelas IX. Keputusan tidak mengikutsertakan siswa kelas VII dan VIII itu mengantisipasi hal tidak diinginkan.

Sekalipun jumlah siswa pelaksana PTM dikurangi separo. Sarana dan prasarana (sarpras) sesuai protokol kesehatan juga telah disiapkan matang. ‘’Karena anak-anak kelas IX lebih mudah diarahkan. Yang kelas VII dan VIII lumayan sulit,’’ kata Kepala SMPN 1 Mejayan Agus Sucipto Kamis (17/9).

Total siswa SMPN 1 Mejayan ada 867. Dari jumlah itu, PTM hanya diikuti 288 siswa kelas IX. Agus mengerucutkan kembali dengan mengambil separo. ‘’Bangku yang biasanya dipakai dua siswa, nantinya hanya untuk satu siswa,’’ ujarnya.

Agus belajar dari pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Banyak siswa kelas VII dan VIII yang tidak langsung pulang setelah mengumpulkan tugas. Mereka memilih nongkrong lebih dulu di sekolah. ‘’Meski tetap bermasker, kami mengingatkan untuk segera pulang,’’ ucapnya.

Dia mengatakan, uji coba PTM tidak langsung digeber kencang. Pihaknya melakukan simulasi terlebih dulu 26 September nanti. Pesertanya hanya beberapa siswa. ‘’Tata cara PTM selama latihan (simulasi, Red) akan divideo. Kemudian, disebarluaskan ke siswa lain agar mereka lebih paham,’’ terangnya.

SMPN 1 Mejayan menyambut baik uji coba PTM. Sebab, hakikat utama kegiatan belajar-mengajar adalah dengan tatap muka. Karena pandemi Covid-19, sistem itu harus mengalami penyesuaian dengan memperhatikan protokol kesehatan. ‘’Kami siap memulai uji coba,’’ tegasnya.

Demi menekan aktivitas siswa di sekolah, jam istirahat ditiadakan. KBM digelar dalam dua sesi. Akses masuk lingkungan sekolah dipecah menjadi tiga sesuai kelompok kelas untuk mengurai kerumunan. Masing-masing jalur disediakan alat pengecek suhu tubuh berupa portal. Peranti itu tidak akan terbuka jika suhu tubuh siswa melebihi 38 derajat Celsius. ‘’Jalan keluar saat pulang dibedakan dengan masuk,’’ sebut Agus.

Kemarin Agus mengundang anggota muspika, tokoh masyarakat, dan petugas puskesmas setempat untuk menilai dan memberikan saran persiapan PTM. Salah satunya Ferry Sudarsono, warga Desa Klecorejo. ‘’Meski sudah zona kuning dan boleh belajar tatap muka, tapi jangan terlena. Protokol kesehatan harus diperkuat dan jangan sampai ada klaster sekolah,’’ ucap ketua DPRD Kabupaten Madiun itu. (den/c1/cor)

Ketati Pengawasan Siswa SD

PEMKAB Madiun menunjuk SDN 1 Mejayan dan SMPN 1 Mejayan pelaksana uji coba pembelajaran tatap muka (PTM). Komisi A DPRD mewanti-wanti agar kedua lembaga pendidikan itu hati-hati dalam pelaksanaannya kelak. ‘’Juga harus bertanggung jawab dan semaksimal mungkin,’’ kata Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Madiun Hari Puryadi Kamis (17/9).

Komisi A sempat menanyakan latar belakang rencana uji coba PTM ke dinas pendidikan dan kebudayaan (dikbud) saat rapat dengar pendapat (RDP) beberapa hari lalu. Tidak lain kekhawatiran kualitas pendidikan menurun selama pembelajaran jarak jauh (PJJ). Juga banyaknya keluhan diterima dikbud.

Antara lain, orang tua atau wali murid tidak menguasai materi pelajaran. Juga tenaga pendidik yang harus bekerja ekstrakeras. ‘’Termasuk penyesuaian SKB (Surat Keputusan Bersama, Red) Empat Menteri yang membolehkan PTM dengan penerapan protokol kesehatan ketat,’’ ujarnya.

Menurut Hari, dari hasil hearing, penunjukan SDN 1 Mejayan dan SMPN 1 Mejayan sebagai pelaksana uji coba karena beberapa faktor. Salah satunya tingkat persebaran korona di Kecamatan Mejayan rendah. ‘’Syarat kategori zona terpenuhi. Kecamatan Mejayan masuk zona kuning,’’ ungkapnya.

Komisi A mengingatkan kedua lembaga itu betapa krusialnya persetujuan wali murid atas pelaksanaan PTM. ‘’Kalau ada yang tidak mengizinkan, ya tidak apa-apa. Tapi, hak belajar siswa tetap harus dipenuhi dengan belajar daring,’’ tutur politikus Partai Demokrat tersebut.

Hari menekankan peningkatan pengawasan terhadap siswa selama pelaksanaan uji coba PTM. Baik di dalam kelas, lingkungan sekolah, maupun saat keluar dari lingkungan sekolah. Terutama anak SD yang perlu pengawasan ekstraketat. ‘’Jika uji coba berhasil, maka akan dilanjutkan PTM ke sekolah lain. Tapi, harus dengan evaluasi lebih dulu,’’ pungkasnya. (den/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

?php /** * The template for displaying the footer * */ defined( 'ABSPATH' ) || exit; // Exit if accessed directly do_action( 'TieLabs/after_main_content' ); TIELABS_HELPER::get_template_part( 'templates/footer' ); ?>
Close
               
         
close