Opini

Pesenku Mung Siji, Sing Ati-Ati

CATATAN

Satmiko Supraptono, Jurnalis Jawa Pos Radar Madiun

PERNAH melihat foto prewedding berlatar objek wisata? Atau video clip musik mellow dengan background destinasi piknik? Tentu terbayang suasana syahdu nan romantis. Dunia serasa milik berdua.

Pernah melihat karya fotografi atau videografi bertema pariwisata? Tentu tergambar pemandangan yang asri dan menenangkan. Bersih, rapi, nyaman, dan menyejukkan.

Sayang, tidak mudah menemukan suasana dan pemandangan seperti itu. Terutama kala holiday (hari libur) atau weekend (akhir pekan). Setidaknya, dulu, sebelum wabah korona melanda.

Sulit menikmati dunia serasa milik berdua. Sekadar mendapatkan view foto yang bagus pun harus antre dengan pengunjung lain. Belum lagi harus sabar dengan berseliwerannya pelancong lain.

Susah menikmati pemandangan asri dan nyaman. Terkecoh. Sebab, para fotografer dan videografer mengambil sudut pandang terbaik. Di-setting dan dikondisikan sedemikian rupa untuk menghindari yang tak elok.

Intinya, destinasi wisata selalu berjubel manusia saat liburan. Pun belum tentu nyaman. Nyaman dalam arti luas. Terutama di objek wisata alam. Meski tidak bisa digebyah uyah.

Tak bisa dimungkiri, sektor pariwisata memang menggiurkan dari sisi bisnis. Sebab, mampu menggerakkan roda perekonomian. Sehingga, pengelolanya –pemerintah maupun swasta— acap mengeksploitasi tanpa batas. Sebagai sumber pendapatan andalan.

Masa liburan bagi mereka adalah kesempatan mendulang pundi-pundi rupiah sebanyak-banyaknya. Terkadang diiming-imingi hiburan. Untuk Menarik wisatawan duyun-duyun berdatangan. Kenyamanan nomor sekian.

Itu berbanding lurus dengan keinginan wisatawan. Bagi mereka, liburan adalah saat terbaik untuk pelesiran. Refreshing dari suntuknya aktivitas sehari-hari. Agar tidak stres. Tidak piknik tidak asyik. Begitulah jargonnya.

Mengelola objek wisata alam ibarat menemukan angsa bertelur emas. Tak butuh modal besar, bisa terus menghasilkan keuntungan. Karena itu harus diopeni dengan saksama. Agar terus bertelur.

Namun, jika hanya mampu bertelur sehari sebutir, jangan paksa angsa bertelur dua atau tiga butir sehari. Sebab, bisa-bisa malah merusak organ reproduksinya. Bahkan, mati.

Masa pandemi Covid-19 pelajaran berharga bagi para pengelola dan pelaku usaha sektor pariwisata. Bahwa eksploitasi tanpa batas bukan cara bijaksana. Alhasil, ketika di-lockdown, semua kena imbasnya.

Tatanan kehidupan baru atau new normal adalah jalan yang harus dilalui ketika sektor pariwisata direlaksasi. Protokol kesehatan pencegahan penularan Covid-19 wajib ditaati.

Tetap jaga jarak, hindari kerumunan, pakai masker, hingga rajin cuci tangan pakai sabun harus dijalani. Syukur-syukur dibudayakan hingga usai pandemi. Bukan kembali pada kebiasaan sebelum pagebluk.

Namun, jika memilih Dalan Liyane (jalan lain), seperti lagu karya Hendra Kumbara yang disaksikan belasan juta kali di YouTube itu, maka:

Pesenku mung siji, sing ati-ati

Isoku mung mendhem isuk tekan sonten

Mergo sadar diri, kulo dudu sinten-sinten

Terjemahan bebasnya: //Pesan saya hanya satu, berhati-hatilah//Saya hanya bisa memendam (harapan) pagi hingga petang//Sebab sadar diri, saya bukan siapa-siapa (bukan pihak yang berkompeten)//.

Selamat piknik agar selalu asyik dan tidak stres. (*)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button