Madiun

Pertimbangan Tahun Politik, Nyekar Bareng Warga PSHT Ditiadakan

MADIUN – Tradisi nyekar bareng warga Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) pada 1 Muharam resmi ditiadakan. Keputusan bersama ini diambil oleh perwakilan Pemkot Madiun, Polres Madiun Kota, TNI, dan pengurus PSHT. ’’Seluruh pihak sudah sepakat ditiadakan. Juga tidak ada mobilisasi dari luar daerah,’’ kata Kapolres Madiun Kota AKBP Nasrun Pasaribu usai pertemuan terbatas di gedung diklat, Jumat (31/8).

Kata dia, pertimbangan utama demi menjaga kondusivitas wilayah di tahun politik. Nasrun beralasan tak ingin wilayah hukum yang dipimpinnya bergejolak karena tradisi Suroan tersebut. Tradisi tersebut, sebagaimana diketahui masyarakat umum, terdiri dari dua kegiatan utama. Pertama, nyekar ke makam leluhur PSHT. Kedua, pengesahan  warga baru PSHT. Untuk nyekar biasanya pada malam 1 Suro dan tepat 1 Suro. Sedangkan, pengesahan pada bulan Suro. Untuk pengesahan tidak dipersoalkan. ’’Kami imbau untuk tidak ada mobilisasi massa dalam pelaksanaan Suroan. Di kota tidak ada, di luar daerah juga diimbau tetap berada di daerahnya saja jika ingin tetap melaksanakan tradisi Suroan,’’ ujar Nasrun.

Meski demikian, Nasrun tetap akan mengantisipasi potensi pergerakan massa pada momen Suroan nanti. Pihaknya akan mengerahkan personel di sejumlah lokasi strategis guna membendung pergerakan massa pesilat dari luar daerah. Namun, Nasrun percaya pihak PSHT dapat ikut berkomitmen dengan keputusan bersama itu. Pun, pengurus pusatnya sudah berkoordinasi dengan pengurus PSHT di wilayah Jatim hingga Jateng mengenai kebijakan tersebut.

’’Sementara untuk Suran Agung (tradisi PSH Winongo Tunas Muda, Red) akan ada pembahasan tersendiri. Tapi arahnya juga kami imbau supaya meniadakan karena tahun politik,’’ tuturnya.

Wakil Wali (Wawali) Kota Madiun Armaya alias Yayak meminta berbagai pihak untuk menghormati keputusan tersebut. Dia juga berterima kasih, baik kepada aparat kepolisian, TNI, maupun pihak PSHT atas tercapainya kesepakatan untuk meniadakan kegiatan nyekar bareng pada tahun ini. Diakui Yayak, tradisi itu memang identik digelar setiap tahun baru Islam di Kota Madiun. Namun, kondusivitas wilayah tetap harus diutamakan. ’’Karena tahun politik, kami meminta semua pihak untuk menghormati keputusan ini. Madiun harus tetap kondusif,’’ pesannya.

Ketua Umum PSHT Parapatan Luhur 2017 Moerdjoko mengatakan, pihaknya berkomitmen menepati kesepakatan. Pun, dia menilai nyekar ke makam leluhur bisa diselenggarakan kapan pun. Baik di bulan Suro maupun di luar bulan Suro. Tanpa harus dilakukan tepat pada awal bulan tersebut. Pihaknya pun mengimbau kepada seluruh pesilat PSHT untuk menaati keputusan. ’’Harus dihormati karena ini tahun politik. Lagipula nyekar tidak harus di malam Suro, di bulan biasa pun bisa. Karena yang terpenting itu niat,’’ ujarnya.

Moerdjoko mengaku sudah berkoordinasi dengan seluruh pengurus cabang PSHT di berbagai daerah Indonesia. Pengurus pusat sudah mengimbau untuk tidak ada mobilisasi massa masuk Kota Madiun saat Suroan. ‘’Kami dukung apa yang diharapkan pemerintah, polisi, dan TNI dalam mengamankan wilayah di tahun politik ini. Tradisi bisa tetap berjalan, tapi cukup di daerah masing-masing,’’ pungkasnya. (naz/c1/ota)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
close