Madiun

Pers ibarat Angin

Penulis adalah Wali Kota Madiun Drs. H. Maidi, SH, MM, MPd

SABTU kemarin saya kembali meninjau area parkir Sumber Umis. Areal yang tengah dikerjakan menjadi taman dan pedestrian itu. Pernah jadi materi tulisan saya minggu lalu. Ingin rasanya meneruskan tema yang kemarin itu. Ada yang belum saya sebut dalam rencana pembangunan taman di kawasan jantung kota itu. Seperti sungai di tengah yang akan jadi wisata air. Jadi olahraga arum jeram atau tubing. Yang hanya pakai pelampung ban itu.

Materi itu saya urungkan. Bisa untuk lain kali. Saya ganti tentang pers. Momentumnya tepat. Hari Pers Nasional. Jatuh pas hari Minggu kemarin. Rasanya kurang afdal kalau tidak menyapa teman-teman media di Kota Pendekar. Besar peran media bagi Kota Madiun. Segala capaian Kota Madiun tidak akan diketahui khalayak luas tanpa peran pers. Upaya pemerintah saja tidak akan cukup. Pers itu partner pemerintah.

Namanya partner selalu memberikan yang terbaik. Terbaik bukan berarti menyuguhkan berita yang baik-baik. Bukan berarti asal bapak senang. Saya malah tidak suka itu. Saya jadi tidak tahu kekurangan saya. Kekurangan pemerintah dalam melayani masyarakat. Hal itu bahaya. Karena yang terpenting bukan penampilan di media. Tetapi kepuasaan masyarakat pada umumnya. Disitu peran pers dibutuhkan. Dimana ada kekurangan pers mengkritisnya. Bagi saya, itu postif. Mengkritisi demi kebaikan ke depan.

Itu penting karena semua tidak luput dari kesalahan. Termasuk saya yang sering lupa. Pers harus jadi pengontrol. Jadi pengingat tatkala itu salah dan jadi agen informasi tatkala itu hal baik. Sekali lagi, bukan asal pimpinan senang. Yang baik ya diberitakan baik. Begitu juga sebaliknya. Pers itu ibarat angin. Selalu apa adanya. Tatkala angin melewati bunga akan tersebar aroma harum. Sebaliknya, angin akan menyebarkan aroma busuk ketika melewati tumpukan sampah. Begitu pula pers. Selalu apa adanya.

Yang jelek silahkan dikritisi. Diberi masukan yang membangun. Tetapi, bukan kritikan yang membabi buta tanpa ada solusi. Tatkala itu berjalan pemerintahan akan semakin baik ke depan. Saya memang suka masukan dan saran. Setiap kali bertatap muka dengan warga, saya pasti melakukan itu. Memberi kesempatan untuk kasih saran dan masukan. Begitu juga dengan pers. Saran dan masukannya selalu penting. Karena pers selalu mengikuti jalannya pemerintahan. Baik yang di daerah maupun skala nasional. Setiap masukannya selalu penting.

Pelaku media di kota kita sudah melakukan itu. Hal itu terlihat saat pertemuan setiap bulan. Saya memang selalu bertatap muka dengan awak media dalam forum kehumasan. Forum ini difasilitasi Dinas Komunikasi dan Informatika. Forum mengangkat tema-tema yang tengan in saat itu. Juga program pemerintah. Di akhir acara, saya selalu ngobrol dengan teman-teman wartawan. Diskusi berlangsung di sana biarpun sebentar. Saya senang, karena semuanya didiskusikan dulu sebelum diinformasikan kepada publik. Biarpun itu membahas kekurangan. Saya hargai itu. Kekurangan yang dimaksud jadi jelas. Saya juga bisa memberikan solusinya. Bukan diberitakan tetapi belum jelas dimana kekurangannya.

Saya yakin media di Kota Madiun tidak seperti itu. Apalagi menyebarkan berita bohong alias hoax. Sebaliknya, media turut mengonter berita semacam itu. Awak media di dalamnya sudah kredibel. Mereka justru memerangi hoax. Saya sering melihat media-media tersebut menginformasikan pemberitaan yang ternyata hoax itu lengkap dengan informasi kebenarnya. Memang seharusnya seperti itu. Media jadi pembukti atas informasi. Media seperti pemegang cap halal pada makanan. Begitu informasi dilabeli media, dapat dipastikan kebenarannya.

Seperti yang saya katakan tadi, pelaku media merupakan orang professional. Satu informasi yang dipublikasi sudah melewati beberapa tahapan konfirmasi. Bukan asal memberitakan. Perusahaan media tentu selalu mewajibkan wartawannya seperti itu. Mengedepankan profesionalisme. Saya sangat setuju itu. Semua wartawan di Kota Madiun harus seperti itu. Bagi yang belum, akan saya ikutkan uji kompetensi. Dibiayai pemerintah. Mereka harus lulus dan mendapatkan sertifikasi. Itu ibarat SIM saat berkendara. Surat penting yang harus dibawa. Saya yakin semua wartawan ingin mengikuti itu. Tetapi kadang terbentur waktu dan biaya. Ini saya ingin memfasilitasi itu. Ibarat ulang tahun, ini kado yang tepat. Selamat Hari Pers Nasional teman-teman media. Semoga selalu jadi pilar keempat demokrasi kita. (*)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button