Bupati Menulis

Perpustakaan Pribadi

SAYA pernah bersumpah untuk membeli buku setiap bulannya. Saat kuliah di Jogjakarta dulu, saya selalu tidak kebagian buku wajib atau penunjang di perpustakaan. Setiap semester dan mengambil mata kuliah baru, banyak mahasiswa berebut mencari buku tersebut di perpustakaan fakultas.

Beli buku bisa kesampaian setelah menjadi pegawai pada 1984. Sementara, kebutuhan bacaan wajib atau penunjang selama kuliah disiasati dengan berkunjung ke berbagai perpustakaan perguruan tinggi. Seperti IKIP Jogjakarta (sekarang Universitas Negeri Yogyakarta) atau IKIP Sanata Dharma (kini Universitas Sanata Dharma). Selain itu, perpustakaan umum milik pemda dan Hatta Foundation –sekarang tutup dan koleksi serta pengelolaannya diserahkan ke perpustakaan UGM.

Mengapa berkunjung ke perpustakaan tersebut? Mahasiswa keguruan jarang mencari buku yang saya perlukan. Antara lain, ilmu sosial, politik, pemerintahan, administrasi negara (publik). Meski tidak boleh dibawa pulang, saya bersyukur boleh baca di tempat. Sebab bukan mahasiswa setempat.

Koleksi buku saya banyak yang hilang ketika bekerja dan tinggal di Surabaya. Saking seringnya pindah lokasi rumah atau instansi. Totalnya enam kali mulai 1984 hingga 2005. Saya merasa kehilangan buku atau majalah langka. Seperti, buku tulisan aksara Jawa, majalah terbitan 1930-an, dan kumpulan majalah nasional Star Weekly yang legendaris dengan salah satu tiras terbesar di zamannya.

Saya mendapatkan buku bekas dari berbagai toko di tanah air. Kebanyakan cetakan 1980-an akhir hingga 1990-an. Harganya kala itu masih murah. Paling sering berburu di Jawa. Malang, misalnya, di depan stasiun kereta api. Lokasinya saat ini pindah di Simpang Wilis. Kalau di Surabaya, jujukannya Pasar Blauran dan Jalan Semarang.

Sedangkan di Solo, saya pergi ke Sriwedari dan depan keraton. Tempat lainnya, Palasari, Bandung, dan Pasar Senen atau Blok M, Jakarta. Hingga saat ini saya masih sering membeli buku di tempat tersebut.

Sejumlah buku hilang karena dianggap tidak penting oleh orang yang membantu membereskan. Ada pula rusak karena kertasnya lapuk dan dimakan rayap. Sungguh sedih kalau mengingatnya.

Saking banyaknya buku, saya selalu memikirkan tempat khusus untuk menempatkannya setiap kali pindah tempat tinggal. Karena itu, rumah pribadi atau dinas selalu ada perpustakaan pribadi. Contohnya, rumah dinas kompeks Jalan Bandilan, Waru, Sidoarjo. Karena bangunan besar dan tanahnya luas, saya membuat perpustakaan pribadi di belakang rumah. Koleksi buku pun tersimpan aman selama saya berdinas di dinas komunikasi dan informatika Jawa Timur.

Saya juga menyediakan ruang perpustakaan pribadi begitu bertugas di Magetan. Lokasinya teras belakang rumah dinas. Sengaja disekat kaca agar pandangan saya leluasa ketika membaca atau menulis. Penempatan itu membuat pikiran tenang dan mudah berkonsentrasi saat menulis di malam hari.

Saya menunjukkan perpustakaan pribadi itu ke beberapa teman wartawan saat jumpa pers beberapa waktu lalu. Ada pertanyaan mengenai berapa total koleksi buku. Saya tidak pernah menghitungnya. Namun, perkiraan lebih dari lima ribu judul. Jumlah itu belum termasuk buku yang ditinggal di rumah pribadi Surabaya.

Pertanyaan lainnya, berapa dana yang saya sediakan setiap bulan untuk membeli buku. Saya tidak pernah mengaggarkan secara spesifik. Seringnya tidak terkontrol. Saya pernah belanja 200 judul buku via online dalam sebulan. Alasannya karena senang saja. Ada kepuasan tersendiri kalau sudah duduk di antara buku-buku di perpustakaan. Mungkin sama halnya dengan perasaan petani yang bahagia duduk memandang tanaman hijau atau padi menguning.

Buku menjadi teman yang paling tenang, bijak, dan bahkan sabar dalam mengajar. Sebagaimana dikatakan Charles William Eliot: “Books are the quietest and most constant of friends; they are the most accessible and wisest of counselors, and the most patient of teachers.” (*/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button