Mejayan

Perkotaan Caruban Belum Nyata Terlihat, Sebatas di Atas Kertas

MEJAYAN, Jawa Pos Radar Caruban – Pengakuan Caruban sebagai ibu kota Kabupaten Madiun masih sebatas di atas kertas. Secara de jure termaktub dalam Peraturan Pemerintah (PP) 52/2010 tentang Pemindahan Ibu Kota Kabupaten Madiun dari Kota Madiun ke Kecamatan Mejayan dan regulasi perubahannya PP 3/2019.

Bupati Madiun Ahmad Dawami tidak memungkiri wajah perkotaan di Kecamatan Mejayan dan sekitarnya belum terlihat secara nyata. Langkah membangun Caruban menjadi kawasan urban menapaki garis start. Tanpa menyebutkan konsep detailnya, dia mengaku bakal menerapkan ilmu yang didapatkan dari Amerika Serikat. Hasil mengikuti program International Visitor Leadership Program (IVLP) awal tahun ini. ‘’Kami itu membangun (kawasan perkotaan), bukan memperbaiki,’’ ujarnya seraya menyebut rencana memulai penataan tahun ini mundur karena pandemi Covid-19.

Kaji Mbing, sapaan akrab bupati, menyebut, produksi sampah atas keberadaan kawasan perkotaan perlu diperhatikan. Dampak lingkungan itu memerlukan manajemen khusus. Pembuatan regulasi yang diikuti pembangunan tempat pembuangan sementara (TPS) hingga tempat pembuangan akhir (TPA).

Di luar itu, sejumlah sarana pendukung kawasan perkotaan saat ini sudah ada. ‘’Seperti kampus (Universitas Sebelas Maret Surakarta di Mejayan, Red) dan perindustrian yang bergeliat di sekitar Caruban,’’ ungkapnya.

Menurut bupati, pembangunan wilayah perkotaan harus ada keseimbangan. Penguatan infrastruktur dengan sumber daya masyarakat (SDM) harus berjalan beriringan. Jangan sampai kebijakan yang dimunculkan berbuah ketegangan.

Misalnya, bila kelak ada investor berniat mendirikan mal. Kearifan lokal menjadi pertimbangan utama untuk menyaring masuknya calon penanam modal itu. ‘’Prinsipnya semua harus seimbang (investor dan masyarakat), tidak ada yang terkalahkan. Termasuk perihal dampak ekonomi, sosial, budaya, dan lain-lain,’’ terang Kaji Mbing.

Pembangunan versi Kaji Mbing bukan melulu infrastruktur, melainkan juga SDM. Dalam kasus cipta kota Caruban, menyiapkan karakter masyarakat urban menjadi tantangan berat. Menurut dia, masih banyak kebiasaan belum mencerminkan roh tersebut. Contohnya, menerobos lampu merah tanda tidak tertib berlalu lintas. ‘’Tantangannya bukan masalah infrastruktur. Tapi, perilaku masyarakat menuju kawasan perkotaan,’’ ujarnya.

Bupati menambahkan, kecepatan membangun kawasan Kota Caruban juga bergantung ketersediaan anggaran. Keuangan daerah harus dibagi kebutuhan lainnya. ‘’Wilayah lain (206 desa/kelurahan) juga memerlukan perhatian,’’ tandasnya. (den/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button