features

Perjuangan Sutini-Miren Rawat Anak yang Idap Gangguan Jiwa

Di usia senjanya, pasangan Sutini dan Miren masih harus merawat Mariyanto, orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang tak lain anak bungsunya. Pun, saban malam pasutri renta itu harus ’’mengungsi’’ untuk mengantisipasi amukan sang anak jika kambuh.

SRI MULYANI, Jawa Pos Radar Madiun

USIA keduanya sudah tidak muda lagi. Sutini 76 tahun dan Miren, suaminya, 90 tahun. Seharusnya pasangan itu bisa menikmati hari tuanya dengan nyaman. Namun, nasib berkata lain. Saban hari Sutini dan Miren harus merawat Mariyanto, anak bungsunya yang menderita gangguan jiwa.

Yang membuat waswas, jika Mariyanto kambuh dan mengamuk terkadang mengancam keselamatan jiwa pasangan warga Jalan Kalimosodo, Demangan, tersebut. Karena itu, Sutini-Miren setiap malam memilih tidur terpisah dari rumah yang ditinggali si anak bungsu. ‘’Kalau (Mariyanto) ditemani, malah mau mencekik,” ujar Sutini.

Awalnya ruangan ‘’tempat pengungsian’’ Sutini-Miren itu saat malam hanya diterangi ublik alias lampu minyak. Pasalnya, aliran listrik dari rumah utama terkadang diputus oleh Mariyanto. Beruntung, dua hari lalu ada dermawan yang memasangkan listrik terpisah dari rumah belakang.

Mariyanto sendiri mengalami gangguan jiwa sepulang dari merantau di Jakarta sekitar 20 tahun lalu. Sutini maupun Miren tidak mengetahui penyebab pasti sang anak terganggu kejiwaannya. ”Setelah dari Jakarta itu sering tertawa sendiri. Saya bilang le, ojo ngguya ngguyu dhewe. Tapi, dia (Mariyanto, Red) diam saja,” ungkapnya.

Orang tua Mariyanto sebenarnya sudah mengupayakan pengobatan. Pria itu sempat empat kali diperiksakan ke rumah sakit jiwa (RSJ) di Surabaya dan lima kali di Solo. Namun, tidak membuahkan hasil berarti. ‘’Di rumah hanya diam, tidak bisa bekerja,” tutur Sutini.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Miren bekerja sebagai juru parkir di kawasan Jalan Serayu. Sedangkan Sutini menjadi tukang pijat. ‘’Dibayar seikhlasnya. Itu pun kalau ada panggilan. Berapa pun dapatnya rezeki dicukup-cukupkan,’’ ucap Sutini. ‘’Kadang juga dapat bantuan sembako dan uang,” imbuhnya.

Pasangan Sutini-Miren memiliki tiga anak. Si sulung sudah meninggal. Sedangkan anak kedua telah berkeluarga dan merantau di Jakarta. Sementara, anak bungsu dalam kondisi menderita gangguan jiwa. ”Anak kedua biasanya setahun sekali pulang ke sini,’’ ujarnya. * (isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button