Madiun

Perjuangan Petugas Pekerjaan dalam Keadaan Bertegangan

Selalu Pamit Keluarga setiap Berangkat Kerja

Di balik mudahnya orang menikmati listrik sampai hari ini, terselip perjuangan para petugas yang langsung berhadapan dengan risiko kematian. Para pemberani itu rela bekerja tanpa memutus aliran arus listrik bertegangan tinggi.

=====================

NUR WACHID, Madiun, Jawa Pos Radar Madiun

BAJU berwarna cokelat muda itu seperti karung goni. Setelan jahitannya tersambung hingga bawah selayaknya pakaian kerja di pabrik. Bahannya berserat dan terlihat warna silver menyerupai serat tembaga. Pakaian antisetrum yang didatangkan khusus dari pabrikan Amerika itu dikenakan dua petugas pekerjaan dalam keadaan bertegangan (PDKB) PLN UPT Madiun.

Dengan tetap berhati-hati, keduanya perlahan naik menuju tiang konduktor bertegangan 150 kV atau setara 150 ribu volt melalui scaffolding yang dipasang 14 petugas PDKB lainnya. Scaffolding yang digunakan berbahan isolator. Terdengar bunyi setrum mendengung nyaring dari tiang di sekitarnya. ‘’Karena ini kerja tim maka harus kerja sama, dan masing-masing petugas melaksanakan tugasnya masing-masing,’’ kata Bambang Pujo, satu dari dua PDKB PLN UPT Madiun, itu.

Dalam pemeliharaan yang dilakukan dua tahunan itu, petugas bekerja tanpa mematikan arus listrik bertegangan tinggi. Agar masyarakat dapat menikmati energi listrik. Pemeliharaan untuk memperpanjang usia peralatan sehingga listrik dapat tersalurkan dengan baik. Jika saat pemeliharaan listrik dipadamkan, bisa jadi selama tujuh hari masyarakat terkena dampaknya hidup tanpa listrik. ‘’Karena itu, arus bertegangan tinggi ini tidak dimatikan,’’ ujarnya.

Saat berangkat kerja, Bambang selalu berpamitan dengan keluarga. Mengharap restu dan doa agar diberikan keselamatan. Rasa khawatir selalu membayangi benaknya dan wajah keluarganya. Risiko tinggi itu selalu diminimalkan dengan mengintensifkan komunikasi dengan tim. ‘’Komunikasi dengan keluarga juga selalu terjaga,’’ ungkapnya.

Kekhawatiran itu juga dirasakan seluruh keluarga personel PDKB yang jumlahnya mencapai 16 petugas. Namun, semua dilakoni sebagai pengabdian kepada bangsa dan negara. Sekaligus turut andil agar hajat orang banyak dapat menikmati energi listrik. Karenanya, mereka rela bertaruh nyawa menjalani pekerjaan berisiko tinggi ini.

Seluruh personel memiliki tugas masing-masing. Harus sesuai dengan instruksi dan standard operating procedure (SOP). Ada tiga tahapan dalam pemeliharaan yang masing-masing bagiannya diselesaikan dalam sehari.

Pertama, pelepasan konduktor dari peralatan assisting. Tahap ini harus dilakukan oleh petugas khusus yang disebut hot and man yang mengenakan pakaian antisetrum. Bunyi setrum terdengar nyaring saat petugas memegang peralatan. Prosedur kerja dan keselamatan wajib dipatuhi. ‘’Salah sedikit saja, nyawa taruhannya,’’ ucap Bambang.

Kedua, pemeliharaan dan shutdown measurement. Petugas membersihkan lengan pisau, isolator pos, serta pengujian tahanan kontak, tahanan isolasi, tahanan pentanahan, serta mengecek keserempakan. Proses ini pun harus dilakukan secara teliti. Jika tidak dilakukan pemeliharaan, alat yang seharusnya berusia lima tahun turun menjadi dua tahun. ‘’Pemeliharaan ini dapat memperpanjang usia peralatan,’’ terangnya.

Ketiga, mengembalikan konduktor pada posisi semula. Sebelum dipasang kembali, petugas harus menguji peralatan terlebih dahulu untuk memastikan alat dapat bekerja normal. ‘’Dalam proses ini pun arus listrik tetap menyala,’’ katanya. *** (fin/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button