Madiun

Perjuangan Fauzan Ilham Maulana dkk Rakit Mobil Listrik

Kreativitas mahasiswa Politeknik Negeri Madiun pantas diacungi jempol. Fauzan Ilham Maulana dan sejumlah rekannya, misalnya, berhasil menelurkan mobil listrik yang sempat turun di ajang kompetisi tingkat nasional.

——————

SEJUMLAH mahasiswa mengenakan seragam biru sibuk mengelas potongan baja di laboratorium otomotif kampus Politeknik Negeri Madiun (PNM). Ada pula yang asyik mengecat bodi mobil berbahan dasar fiberglass dengan polesan warna merah.

Fauzan Ilham Maulana lantas menunjukkan foto lainnya. Sejumlah mahasiswa tampak mengerubungi sebuah mobil listrik bergaya sport kelir merah. Pada bodinya ada tulisan Fusena  serta logo kampus dan tim. ‘’Kebetulan saya yang jadi driver-nya saat ikut KMLI (kompetisi mobil listrik Indonesia, Red) di Politeknik Negeri Bandung November 2018 lalu,’’ kata Fauzan.

Fusena merupakan kreasi Fauzan bersama delapan teman kampusnya yang tergabung dalam tim Molikom AE. Dalam kompetisi KMLI di Bandung, mobil dengan panjang 2,23 meter dan tinggi 125 centimeter itu menempati peringkat sembilan.

Kendati belum berhasil menyabet juara, Fauzan dkk tetap merasa bangga. ‘’Soalnya target kami waktu itu mobil sekadar bisa melintasi track dengan lancar dan sampai garis finis,’’ imbuh Alfiyan Dwi Nurcahya, rekan Fauzan.

Di ajang tahunan itu Fusena mencatat waktu 90 detik dalam jarak satu kilometer. Terpaut 20 detik dengan mobil listrik peserta yang meraih juara. ‘’Mobil ini masih terus dikembangkan agar bisa melaju lebih cepat,’’ ujarnya sembari menyebut pada 2017 Fusena generasi pertama menduduki peringkat dua di kategori penilaian kecepatan.

Fusena dirakit selama 10 bulan. Proses menyinkronkan komponen dengan sistem penggerak yang dirasakan memakan waktu lama. Sebab, jika hasil pengukuran tidak pas, mobil dengan baterai sebagai sumber energi utama itu tidak akan melaju maksimal. ‘’Dulu kami uji coba keliling jalanan sekitaran kampus dan Taman Bantaran,’’ kenangnya.

Hampir setiap hari sepulang kampus, waktu mereka dihabiskan di laboratorium otomotif. Tak jarang Fauzan dkk pulang larut malam. Bahkan, tiga bulan menjelang kompetisi mereka rela menginap di kampus.

Kendala lain adalah saat komponen pendukung mobil listrik sulit ditemukan di Madiun. Akhirnya, mereka harus mengkreasikan sendiri dengan memanfaatkan onderdil tertentu. Sebut saja motor controller yang berfungsi untuk mengatur pengoperasian kendaraan listrik.  ‘’Ibaratnya otaknya kendaraan, itu teman-teman kreasikan sendiri,’’ kata Wahyu Pribadi, salah seorang dosen pembimbing.

Kini, Fusena memasuki generasi ketiga. Tahun ini, sejumlah mahasiswa dengan tim yang beda kembali berinovasi menciptakan mobil listrik yang lebih canggih dari sebelumnya. ‘’Sekarang kami fokus mengoptimalkan sistem penggeraknya untuk mencapai target waktu yang lebih baik,’’ jelasnya. ***(dila rahmatika/isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button