Ngawi

Perjalanan KH. Khoirul Anam Mu’min Membangun Ponpes Al Hidayah

Tidak direstui keluarga mertua dan lingkungan, Khoirul Anam Mu’min tidak patah arang merintis Ponpes Al Hidayah. Pembelajaran dari satu rumah ke rumah lainnya membukakan pintu datangnya donatur.

————————-

DENI KURNIAWAN, Ngawi

DI TENGAH situasi krisis moneter (krismon) 1998, KH. Khoirul Anam Mu’min berjuang mendirikan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Hidayah. Pesantren di Dusun Sondriyan, Mojoasem, Kendal, Ngawi itu kini dijadikan tempat menimba ilmu 900 santri dan 500 santri mukim. Perkembangan yang tidak disangka-sangka oleh pria asli Jombang tersebut. ‘’Berat sekali mulai dari nol,’’ ucap Anam.

Mulai 1981 selama 16 tahun Anam menimba ilmu di Ponpes Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang tak jauh dari tempat tinggalnya. Di ponpes KH. Wahab Hasbullah, itu pria 50 tahun ini mendalami ajaran agama Islam yang berorientasi terhadap permasalahan masyarakat. ‘’Salah satunya cerita seorang mualaf yang bingung ingin berkurban dengan bertanya ke dua kiai sekaligus,’’ katanya.

Setelah belasan tahun mondok, Anam mempersunting Endah. Dia pindah tempat tinggal di rumah istrinya yang kini menjadi tempat tinggalnya di Dusun Sondriyan. Migrasi ke Bumi Orek-Orek membuatnya jauh dengan keseharian pesantren layaknya di Jombang. Terlebih ketika diminta mengelola toko bangunan milik mertuanya. Permintaan itu tidak bisa diolak meski merasa tidak punya sentuhan bisnis. Tugas yang membuat Anam bergulat dengan transaksi material bangunan itu dijalani dengan perasaan dongkol. ‘’Akhirnya toko bangkrut bertepatan krisis moneter,’’ ujarnya.

Anam mengibarkan bendera putih dengan mengembalikan “kunci” mengelola toko ke mertuanya. Sebagai gantinya berniat mendirikan tempat pembelajaran Alquran (TPA). Langkah tersebut mendapat sambutan sinis dan penolakan. Baik dari keluarga istri dan lingkungan tempat tinggal.  Sebab, Sondriyan kala itu dikenal sebagai lokasi prostitusi berkedok warung remang (warem). Anam tak patah arang. Dia nekat mendatangi satu per satu rumah warga menawarkan anak-anaknya belajar mengaji. ‘’Saya ingat pesan guru pondok, membuat sangkar tidak akan berguna tanpa memiliki burung,’’ ucap bapak empat anak itu.

Singkatnya, prestasi sekolah sejumlah anak yang diajari mengaji membaik. Hingga membuat para guru dan orang tua terkaget-kaget. Situasi mulai berbalik. Anak-anak yang berganti mendatangi rumah Anam hingga rela menginap untuk belajar. Tidak sekadar mengaji, tapi juga belajar pelajaran sekolah. ‘’Ada pembagian tugas, istri mengajarkan agama, kalau saya pendidikan formalnya,’’ katanya.

Karena yang datang bertambah banyak, Anam memberanikan diri memohon ke mertuanya menggunakan bangunan produksi tegel sebagai tempat belajarnya anak-anak. Ruang belajar pun ala kadarnya. Atapnya menggunakan seng dengan sekat triplek membagi menjadi tiga ruangan. Kegiatan belajar-mengajar (KBM) dilakukan lesehan dengan media belajar menggunakan papan tulis dan kapur. ‘’Mertua jelas kaget dengan permohonan saya,’’ ujarnya sembari menyebut sarana belajar lantas dicukupi para donatur.

Predikat lokasi prostitusi Sondriyan perlahan pudar dengan menghilangnya kupu-kupu malam yang kerap mangkal di warem. Anam sempat membuyarkan pasangan kumpul kebo dengan cara mendatangkan petugas kantor urusan agama (KUA) setempat. Siasatnya menikahkan secara sah pasangan yang sejatinya telah berkeluarga. Sejak itu, Anam dianggap sebagai sosok penting di lingkungan tempat tinggalnya. ‘’Langkah yang saya terapkan mengedepankan rasa humanis,’’ tutur pria yang juga anggota DPRD Ngawi tersebut. ***(cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close