Madiun

Perjalanan Hidup drg Sudarto, Jadi Komedian hingga Figuran Film Mendiang Suzana

Jalan terjal harus dilalui Sudarto semasa kuliah sebelum akhirnya menyandang gelar dokter gigi. Untuk membiayai kuliah, kala itu dia memanfaatkan bakat seninya untuk mengais rezeki. Bagaimana kisahnya?

==================

NUR WACHID, Madiun, Jawa Pos Radar Madiun

SEJUMLAH lukisan menyapu pandangan mata begitu memasuki rumah drg Sudarto di Jalan Slamet Riyadi Kota Madiun. Ada yang bergambar bunga amarilis karya maestro seni lukis Affandi. Lukisan tersebut dibuat pelukis aliran ekspresionis itu pada 1973 silam.

Lukisan lain yang tak kalah menyita perhatian bergambar perahu kayu yang tengah bersandar. Lukisan berjudul Sandar yang berukuran cukup besar itu dibuat dengan media akrilik. Pelukisnya Yudi Dogol, seniman asal Lamongan.

Suasana semakin hangat dengan iringan musik karawitan dan campursari dari televisi LED yang menempel di atas pintu masuk menuju ruang belakang. Begitu melewati pintu itu, tampak berbagai foto terpajang di tembok sisi timur.

Ada foto si pemilik rumah bersama Didi Kempot, Anie Carera, dan Kelik Pelipur Lara. Selebihnya, terpampang koleksi uang dari berbagai negara di belahan dunia. ‘’Dari semua yang terpajang itulah perjalanan hidup saya dimulai,’’ kata Sudarto.

Yang menarik perhatian lagi, foto lawas berukuran besar di ruangan itu. Dalam foto itu terdapat lima orang berpakaian jadul. Di bawahnya bertuliskan The ‘’Bloon Group’’. Nama masing-masing ditulis dengan spidol. Ada Bening, Gareng Rakasiwi, Fredy Roterdam, dan Kelik Pelipur Lara.

Di antara Fredy dan Kelik yang saat itu masih remaja terdapat seorang berperawakan tinggi kurus. Tidak ada keterangan nama. Siapa yang menyangka dia adalah Sudarto saat masih kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta.

Dia bersama seniman kondang lainnya membentuk grup itu 1979 silam. Latar belakangnya karena para personel ketika itu terimpit ekonomi. Termasuk Sudarto yang harus berjuang membiayai kuliah dan hidupnya sendiri. ‘’Otodidak, bagaimana bisa membuat orang tertawa,’’ ungkap pria kelahiran 1958 ini.

Nama The ‘’Bloon Group’’ cukup eksis pada era itu. Jadwal manggung pun terbilang padat. Karena itu, Sudarto harus pandai-pandai membagi waktu. Tiap kali manggung, mereka mendapat honor Rp 7.500. ’’Waktu itu Kelik masih kelas 1 SMP,’’ ujarnya.

Meski begitu, bukan berarti Sudarto terbebas dari impitan ekonomi. Dia kerap makan nasi intip untuk sekadar mengganjal perut. Untuk menopang kebutuhan hidup kala itu, Sudarto sempat mengais rezeki dengan menulis skenario sinetron. Pernah pula menjadi pemain figuran dalam film Perkawinan Nyi Blorong I yang dibintangi mendiang Suzana. Tak cukup itu, dia juga rela menjadi pekerja yang menyiapkan konsumsi bagi pemain dalam film tersebut. ‘’Rasanya ingin nangis jika ingat perjuangan berat ketika itu,’’ tuturnya.

Perjuangan itu terbayar lunas saat Sudarto lulus kuliah dan mendapatkan gelar dokter gigi setelah menempuh studi selama lima tahun, tepatnya 1984 silam. Begitu lulus dia ditawari menjadi dosen di Universitas Negeri Jember (Unej).

Setahun berselang, Sudarto diangkat menjadi dokter gigi di Rumah Sakit TNI-AD Kota Madiun. Meski begitu, jiwa seninya tidak luntur. Dia selalu mengenakan belangkon dan kerap menyanyi campursari di acara hajatan. Bahkan, sempat ditawari membuat album kompilasi oleh Didi Kempot dan Anie Carera. ‘’Saya pensiun dari RS TNI-AD tahun lalu,’’ imbuh suami Soesi Suarsi ini.

Kini, di masa pensiunnya, dia banyak menghabiskan waktunya untuk kegiatan sosial. ‘’Pelajaran penting untuk anak muda yang selalu saya sampaikan pada pasien. Kalau disapih (dilepaskan, Red), bisakah mandiri? Jawabnya harus bisa,’’ ucap Sudarto. *** (isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button