Bupati Menulis

Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-76

KETIKA saya menerima undangan untuk hadir di peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-76 tanggal 13 Mei 2019 saya sangat terkejut. Apa benar? Apakah ini tidak salah. Saat ini masih bulan Mei, kok ada peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-76. Oleh sebab itu saya minta sekretaris pribadi saya menghubungi panitia. Apakah undangan ini betul.

Apalagi di tengah suasana habis pilpres dan suasana masih belum dingin. Ditambah lagi pertentangan antar pendukung pasangan nomer 01 dan 02 kelihatan belum selesai. Kok ini ada undangan peringatan HUT Kemerdekaan RI kok dalam bulan Mei.

Bukankah kalau ini betul perayaan tahun 2019 baru dirayakan untuk kemerdekaan yang ke-74. Namun dalam undangan untuk perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-76. Tentu sebagai aparat pemerintah, mempunyai kewajiban untuk bertanya dan melakukan analisa disetiap persoalan yang muncul. Sifat kehati-hatian harus tetap terjaga.

Hasil konfirmasi sekretaris saya kepada panitia memang betul. Undangan dari Pondok Pesantren Cokrokertopati Takeran Hari Senin tanggal 13 Mei 2019 mengundang saya hadir jam 20.00, untuk ikut merayakan HUT Kemerdekaan RI ke-76. Karena saya sudah mengenal sangat baik dengan pimpinan pondok pesantren Cokrokertopati Kiai Zuhdi Tafsir, dan tidak meragukan nasionalismenya, maka sejak menerima undangan beliau yang berbeda dari biasanya itu saya  tetap berketetapan untuk hadir.

Apalagi, saya tahu betul cara berpikir dan bertindak Kiai Zuhdi memang selalu tidak dalam tindakan mainstream. Selalu tampil dan berpikir beda. Ambil contoh saja, setiap pondok mengadakan peringatan seperti HUT Kemerdekaan RI selalu nanggap pertunjukkan wayang kulit. Demikian juga pada peringatan keagamaan tertentu juga demikian.

Setelah sembahyang tarawih saya segera bergegas menuju pondok yang beliau pimpin di Takeran. Sampai di pondok, baru mengerti dan jelas setelah ketua panitia menjelaskan dalam pengantarnya bahwa peringatan HUT Kemerdekaan RI yang dilakukan setiap bulan Puasa Ramadan dilakukan setiap tahun. Jadi sejak pondok pesantren Cokrokertopati didirikan tahun 2010, sudah enam kali peringatan dilakukan. Peringatan ini dilakukan sebagai bentuk upaya “melawan lupa.”

Sungguh saya seperti diingatkan kembali dalam peristiwa ini. Oleh sebab itu sejarah harus dibuka kembali. Ketika Sukarno-Hatta sebagai dwi tunggal menyatakan kemerdekaan bangsa Indonesia, jatuh pada hari Jumat tanggal 9 Ramadan 1334 H atau tanggal 17 Agustus 1945. Kalau kemudian pondok pesantren Cokrokertopati merayakan HUT Kemerdekaan RI ke-76 tanggal 8 malam 9 Ramadan 1440 H menurut saya betul-betul melawan lupa. Sebagai mana tema peringatan sekaligus topik diskusi malam itu.

Memang kita seringkali melupakan hal-hal seperti ini. Apalagi di tengah situasi politik sejak menjelang dan setelah pileg dan pilpres yang terus dalam suhu tinggi. Perlu ada sebuah pemantik untuk menimbulkan kesadaran kembali dari bangsa ini untuk melawan lupa. Bahwa kita pada bulan yang penuh rahmat dan ampunan ini, dan memang sengaja dipilih karena diyakini sebagai bulan dan tanggal yang baik.

Ketika dua kota Jepang, Hirosima dan Nagasaki dibom atom oleh Amerika menjadi luluh lantak, enam hari kemudian setelah pengeboman di Nagasaki tanggal 15 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada Sekutu. Dengan menyerahnya Jepang maka berakhirlah Perang Dunia II. Tentu penyerahan Jepang kepada Sekutu dalam pandangan kaum muda bangsa Indonesia waktu itu sudah harusnya dijadikan momentum untuk segera menyatakan kemerdekaan. Mengingat Indonesia saat itu merupakan jajahan Jepang. Ketika Jepang kalah perang dan menyerah adalah kesempatan emas untuk segera melakukan atau menyatakan kemerdekaan.

Oleh sebab itu para pemuda berusaha ketemu Sukarno mendesak agar segera dan saat itu juga membacakan teks proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia. Namun sukarno tidak bersedia atas desakan para pemuda tersebut. Karena Sukarno punya rencana sendiri. Oleh sebab itu dengan adanya penolakan, para pemuda kemudian mengambil sikap melakukan penculikan terhadap Sukarno.

Para pemuda yang melakukan penculikan diantaranya Soekarni, Wikana, Aidit dan Chaerul Saleh dari perkumpulan “Menteng 31.” Peristiwa ini terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 03.00 dini hari.

Sukarno pada dinihari itu juga oleh para pemuda dibawa ke Rangasdengklok. Namun tidak lama kemudian pada tanggal yang sama, yaitu tanggal 16 Agustus 1945 Sukarno sudah dijemput oleh beberapa orang dan dan tengah malam sudah berada di Jakarta. Esok harinya, yaitu hari Jum’at (Jum’at legi dalam hari dan pasaran Jawa)  tanggal 17 Agustus 1945 dipilihlah kediaman Sukarno Jln Pegangsaan Timur No.56 Jakarta untuk dibacakan teks Proklamasi. Yang rencana sebelumnya di Lapangan IKADA.

Mengapa Sukarno tidak bersedia memenuhi desakan para pemuda untuk segera membacakan teks proklamasi. Ada beberapa alasan yang mendasarinya. Menurut keyakinannya mengapa justru diambil tanggal 17, mengapa tidak didesak para pemuda atau tanggal 16. Menurut penjelasannya,”Saya orang yang percaya pada mistik. Saya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, tidak dapat menjelaskan mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku bahwa dua hari lagi adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka keramat. 17 adalah angka suci.”

Selanjutnya dijelaskan, ”Pertama-tama, kita sedang berada dalam bulan Ramadhan, waktu kita semua sedang berpuasa. Hari Jumat ini Jumat Legi. Jumat yang berbahagia dan suci. Dan, hari Jumat tanggal 17. Alquran diturunkan tanggal 17. Orang Islam sembahyang 17 rakaat dalam sehari. Mengapa Nabi Muhammad memerintahkan 17 rakaat, mengapa tidak 10 atau 20 saja? Karena itu, kesucian angka 17 bukan buatan manusia.”

Itulah fakta sejarah yang tidak mungkin harus kita lupakan. Bahwa bangsa ini menyatakan kemerdekaan dipilih oleh founding fathers kita pada tanggal 17 Agustus 1945 bukan tanpa alasan. Penuh dengan perhitungan yang matang. Baik dari pertimbangan Budaya, keyakinan dan juga ajaran agama. Usaha Pondok Pesantren Cokrokertopati melawan lupa sungguh sebuah usaha yang perlu mendapat apresiasi. Mengapa saat ini, di bulan suci yang penuh berkah dan ampunan kita semua tidak justru mengambil hikmah dari peristiwa bersejarah bangsa tersebut untuk menuju rekonsiliasi. Seolah justru kita sendiri yang ingin  menodainya. Betapa sedihnya!!!!!!! (*/ota)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button