Bupati Menulis

Perilaku Masyarakat Selama PPKM Darurat

TERIMA kasih BPS Magetan yang telah melakukan survei “Perilaku Masyarakat Kabupaten Magetan pada Masa Pandemi Covid-19.” Khususnya saat PPKM darurat yang berlangsung pada 13-20 Juli. Dengan waktu relatif cepat, kita dapat melihat hasil survei. Praktis memang di era digital ini.

Survei yang dilakukan secara online itu diikuti 1.916 responden. Didominasi kelompok usia di bawah 45 tahun dengan status menikah. Empat puluh lima persen lebih berpendidikan sarjana. Pendidikan dasar hanya sekitar 20 persen. Sisanya SMA sederajat dan diploma.
Hasil survei online dapat dijadikan dasar pembuatan keputusan. Karena memberi gambaran bagaimana perilaku masyarakat di masa pandemi. Tentu ada kelemahan. Analisis ini merupakan gambaran dari individu yang secara sukarela berpartisipasi. Tidak mewakili masyarakat secara keseluruhan.

Ada korelasi positif antara pendidikan dengan tingkat kesadaran untuk menaati protokol kesehatan (prokes) selama PPKM darurat. Kepatuhan memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, dan menjaga jarak (3M) rata-rata sudah 80 persen.

PPKM darurat ditujukan untuk mengurangi mobilitas. Magetan masuk zona hitam bersama sepuluh daerah lain di Jawa Timur. Sebab, kalau malam masih banyak lampu menyala. Demikian juga mobilitas masih tinggi. Evaluasi ini tidak mungkin bisa dibohongi karena melalui citra satelit. Tindakan pengetatan langsung kami lakukan.

Sayangnya, walau telah menerapkan PPKM darurat, ketika pertanyaan survei dilanjutkan dengan kepatuhan memakai dua masker, persentasenya turun menjadi 59 persen. Artinya, hampir separo responden belum memakai masker rangkap. Kita tahu, penularan virus varian baru (Delta) sangat cepat. Lengah sedikit saja, akibatnya bisa fatal. Pemakaian masker rangkap diperlukan agar tidak tertular maupun menularkan.

Sekitar 26 persen responden belum menjaga jarak saat berinteraksi dengan orang lain. Bahkan, sekitar 20 persen tidak menjauhi kerumunan. Ini sangat berbahaya, mengingat potensi penularan dalam jarak dekat dan di kerumunan begitu besar.

PPKM darurat mulai 3-20 Juli akhirnya diperpanjang. Karena lonjakan kasus nasional yang luar biasa. Baik yang terpapar maupun yang meninggal. IGD dan ICU di semua rumah sakit penuh. Perpanjangan dilakukan lagi dari 21-25 Juli. Dengan istilah yang berbeda, PPKM level 4. Kasus masih saja tinggi. Pada akhirnya diperpanjang lagi sampai 2 Agustus.

Perpanjangan PPKM level 4 dengan penyekatan dan pembatasan mobilitas mulai menunjukkan hasil. Kasus mulai menurun. Juga terekam dalam survei, 83,35 persen responden mengurangi mobilitas. Yang melegakan, 73 persen responden hanya keluar rumah untuk belanja kebutuhan. Sedangkan yang bekerja hampir 50 persen.

Alat yang digunakan, jalan kaki 26 persen. Berkendara sepeda motor sekitar 80 persen. Bila menggunakan kendaraan, tentu jarak yang ditempuh cukup jauh. Selain itu, tujuan keluar rumah untuk beribadah sebesar 28 persen. Cukup tinggi. Padahal sudah diimbau pemerintah dan lembaga keagamaan untuk sementara beribadah di rumah. Namun, hampir sepertiga responden masih berjamaah. Yang melegakan, mereka tetap menerapkan prokes.

Yang mengkhawatirkan, responden juga mengungkap beberapa pelanggaran. Warung dan kafe masih buka. Pun pedagang kaki lima yang bebas berjualan ketika PPKM darurat. Angkanya 6,47 persen. Sementara minimarket, toko kelontong, dan pasar tradisional yang masih buka di atas pukul 20.00 sebanyak 3 persen.

Fasilitas umum (fasum) di lingkungan, yang masih dibuka seperti biasa, sebanyak 28,13 persen. Namun, prokes tetap diterapkan. Sedangkan 4,12 buka biasa tanpa prokes. Sementara fasum yang tutup 47 persen. Bila dihubungkan dengan tingkat kejenuhan yang mencapai 60 persen, fasum bisa jadi merupakan salah satu tempat melepas kejenuhan.

Kita tahu, disiplin penerapan prokes merupakan kunci. Seperti di berbagai negara, khususnya negara maju. Warganya sangat disiplin. Karena, jika tidak disiplin akan berakibat fatal. Pelayanan kesehatan bisa terkendala karena beban yang demikian melebihi kapasitas.
Selama PPKM darurat, tingkat keterisian tempat tidur di hampir semua rumah sakit 100 persen. Baik perawatan, IGD, maupun ICU.

entu ini tidak dialami Magetan saja. Tetapi seluruh Jawa-Bali. Walaupun sudah membuka rumah sakit darurat dan menambah relawan nakes, tetap saja pelayanan jadi kurang optimal.

Ada benarnya jika 21 persen responden mengatakan bahwa PPKM darurat membuat mereka sulit mengakses pelayanan kesehatan. Juga sulit mendapatkan obat dan oksigen. Tidak salah, karena ketika survei digelar, jumlah kasus sedemikian banyak. Saya harus meminta maaf, baik selaku pimpinan daerah maupun atas nama nakes.

Namun, saya harus beterima kasih kepada BPS Magetan yang telah melakukan survei. Hasilnya bisa kita lihat dan pelajari bersama. Muaranya, kita semua harus bersama-sama memperbaiki segala kekurangan. Karena pandemi ini musuh bersama. Tidak hanya pemerintah. Semua komponen masyarakat harus ikut mendukung. (*/naz/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button