Pacitan

Perdagangan Daging Hiu Tumbuh Subur di Pacitan

Transaksi Kelong dari Pasar hingga Pinggir Jalanan

Perdagangan daging hiu tumbuh subur di Pacitan. Praktik jual-beli hewan pemangsa yang beberapa jenisnya dilindungi itu berjalan terang-terangan di Pasar Arjowinangun. Pengepul terbesar ikan itu ada di Desa Nirboyo.

————————————————

MULYATI salah seorang pedagang Pasar Arjowinangun yang mengeruk untung dari berjualan ikan kelong –sebutan hiu bagi warga Pacitan. Tiga tahun lamanya dia berjualan. Mengeruk untung Rp 20 ribu per kilogram. Harga dari pengepul Rp 30 ribu per kilogram, dijual kembali Rp 50 ribu per kilogram. Rata-rata empat kuintal daging hiu yang disimpan dalam boks pendingin bisa habis dalam sepekan. Mayoritas pembelinya warga penyuka hiu dan pemilik warung. ‘’Berat kelong susut banyak karena di-freezer. Dari delapan kilogram turun lima atau enam kilogram,’’ ujar warga Desa Sirnoboyo, Pacitan, tersebut.

Daging hiu yang dijual Mulyati masih mentah dan dalam bentuk potongan. Tidak ada bagian kepala, sirip, ekor, dan jerohan. Ihwal kondisi tersebut, perempuan 56 tahun ini tidak tahu menahu. Daging hiu sudah dalam kondisi seperti itu sejak diterima dari pengepul. ‘’Sebelum habis pesan dulu ke pengepul di Pacitan, biar tidak telat,’’ ucapnya.

Daging hiu dalam bentuk kuliner juga mudah ditemukan di Kota 1.001 gua. Wisatawan bisa dengan mudah mengetahui karena ada petunjuk banner bertuliskan gamblang. Dijajakan semacam gorengan di pinggir jalan. Diasap dan digoreng adalah jenis olahan kelong yang paling digemari. ‘’Kelong asap Rp 12 ribu satu ikat (12 tusuk) kalau digoreng Rp 80 ribu per kilogram,’’ ungkap Niya Sari, 30, salah seorang pedagang kuliner hiu.

Warga Desa Sirnoboyo itu berjualan kuliner daging hiu di depan rumahnya sudah dua tahun. Makanan olahan itu cukup diletakkan di atas meja. Pembeli datang dengan sendirinya. Sekitar 30 kilogram kelong bisa habis dalam sehari. Duit Rp 1 juta bisa dikantongi dari hasil penjualan itu. ‘’Saya ambil dari bos-bos ikan di Pacitan atau luar daerah. Biasanya dua hari sekali,’’ paparnya.

Pengepul ikan hiu terbesar di Pacitan ternyata tinggal satu desa dengan Mulyati dan Niya. Namanya adalah Marwoto yang sudah sejak 1993 menekuni bisnis perdagangan berbagai jenis hasil laut. Namun demikian, daging hiu hanya dijual bila ada permintaan. Barangnya juga tidak diperoleh dari nelayan kabupaten ini. ‘’Saya paling sering ambil dari perusahaan di Surabaya, Probolinggo, Cilacap (Jawa Barat) dan Jakarta,’’ ungkapnya.

Marwoto order dua hari sekali sebanyak tiga ton. Angka tersebut bisa naik atau turun tergantung seberapa banyak permintaan. Selama ini sedikitnya 20 pedagang yang kerap minta bantuannya. Dalam sekali memesan, satu pedagang bisa meminta 50 kilogram hingga lima kuintal. Daging hiu juga tidak pernah distok. Sebab setiap datang langsung dikirimkan ke pemesannya. ‘’Demi menjaga kesegaran ikan,’’ ujarnya.

Dia mengamini adanya keuntungan dari berdagang daging hiu. Peluangnya pun menjanjikan hingga memunculkan pelaku usaha baru. Disinggung adanya larangan pemerintah pusat menangkap beberapa jenis ikan hiu, Marwoto mengetahuinya. Tapi, tidak mengetahui apakah yang dipasok termasuk yang diharamkan. Sebab selama ini sekaadar memasok. Pihak yang diajak kerjasama diyakini sudah mengetahui aturan mainnya. ‘’Prinsip, ikan tangkapan yang bisa dikonsumsi dan diminati kok dilarang,’’ tandasnya. (den/cor)

Peredaran tanpa Identifikasi dan Pengawasan

BONGKAR: Nelayan Pelabuhan Tamperan menunjukkan tangkapan hiu.

BERTON-TON daging hiu beredar di Pacitan setiap harinya. Akan tetapi, UPT Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tamperan Pacitan tidak mengetahui jenis ikan pemangsa yang dijual bebas itu termasuk kategori dilindungi atau tidaknya. Instansi tersebut berdalih tidak punya kuasa masuk lebih dalam terhadap praktik jual-beli tersebut. ‘’Tugas kami hanya di pelabuhan,’’ kata Kepala UPT PPP Tamperan Pacitan Ninik Setyorini Minggu (3/11).

Ninik menyebut, pengawasan langsung Pemprov Jawa Timur. Wilayah Pacitan berada dalam pantauan Cabang Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Timur di Kabupaten Blitar. Terlepas itu, dia meyakini tidak ada nelayan yang sengaja berburu hiu. Meskipun wilayah laut selatan Jawa merupakan ekosistem yang cocok untuk populasi hiu. ‘’Yang ada nelayan tidak sengaja menangkap hiu. Tapi kalau secara khusus, tidak ada,’’ ujarnya seraya mengklaim belum pernah menemukan hiu dilindungi tertangkap di pelabuhan.

Dia menyebut dua jenis hiu dilindungi. Jenis martil dan hiu koboi sesuai Permen-KP 5/2018 tentang Larangan Pengeluaran Ikan Hiu Koboi dan Ikan Hiu Martil. ‘’Beberapa kasus yang saya ketahui, sirip punggung hiu itu diekspor untuk bahan kosmetik atau untuk konsumsi seperti sup sirip hiu,’’ terangnya.

Staf Perencanaan Kebutuhan Sarana dan Prasarana UPT PPP Tamperan Pacitan Zakki Rahmadani menambahkan, selama ini tidak ada pengawasan peredaran hiu. Termasuk identifikasi kepastian dilindungi atau tidaknya. ‘’Kalaupun ada kunjungan dari pemprov yang lebih diperhatikan adalah benur,’’ ujarnya. (den/cor)

Terkandung Merkuri, Rusak Sistem Reproduksi

PROFIT: Pedagang hiu di Pasar Arjowinangun melayani pembeli.

DAGING ikan hiu tidak baik bagi kesehatan. Berposisi sebagai pemuncak rantai makanan di laut, hiu punya kandungan merkuri yang tinggi. ‘’Zat merkuri itu berbahaya, tidak boleh ada di makanan atau masuk ke tubuh manusia,’’ kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Pacitan Eko Budiono Minggu (3/11).

Eko menyebut, merkuri yang masuk dalam tubuh manusia bisa berdampak fatal. Salah satunya sistem reproduksi. Bila merkuri yang masuk dalam jumlah banyak, berpotensi melahirkan anak cacat. Kasus tersebut pernah terjadi di Jepang beberapa tahun silam. Kasus di sana ikan yang dikonsumsi terkontaminasi limbah pabrik penuh kandungan merkuri. ‘’Dampaknya gen manusia akan rusak,’’ ujarnya.

Bahaya merkuri untuk manusia tertuang dalam Permenkes 57/2016 tentang Rencana Aksi Nasional Pengendalian Dampak Kesehatan Akibat Pajanan Merkuri Tahun 2016-2020. Ada dampak jangka pendek atau akut dan kronis atau jangka panjang. Tanda dampak akut itu seperti demam, meriang, sakit dada, lemas, sakit kepala, dan muntah-muntah. ‘’Yang lebih berbahaya kalau terpapar merkuri dalam waktu yang lama,’’ ucapnya.

Eko menjelaskan, dampak kronis merkuri membuat seseorang tremor dan bicara menjadi kurang jelas. Selain itu hipertensi, hilang ingatan, hingga depresi pada sistem saraf pusat. ‘’Juga kelainan pada kulit, ginjal, sistem reproduksi, sampai kehilangan berat badan,’’ bebernya.

Ekosistem laut sejatinya juga menjadi penentu seberapa tinggi kandungan merkuri dalam tubuh hiu. Terlepas itu, merkuri sangat berbahaya. ‘’Dari sudut pandang medis, sangat tidak dianjurkan mengonsumsi makanan mengandung merkuri,’’ pungkas Eko. (den/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button