Madiun

Percikan Air Hilangkan Penat

NYESSS…. Percikan air terjun terasa dingin kala mengenai kulit. Kesejukan air di wanawisata Desa Brumbun, Wungu, Kabupaten Madiun, itu seakan menghipnotis pengunjung untuk segera mandi atau sekadar cuci muka. ‘’Suasananya damai sekali,’’ kata Ferry Hermawan, wisatawan asal Kartoharjo, Kota Madiun.

Bersama anak-anaknya, Ferry baru kali pertama datang ke Brumbun. Sengaja berwisata di alam pedesaan untuk menghilangkan penat dari urusan pekerjaan. ‘’Anak-anak senang river tubing dan main air terjun mini,’’ ujarnya.

Iwan Setyono, pengelola Wanawisata Brumbun, menyebut dua pilihan susur sungai. Bertualang di sungai besar atau kanal. Namun, belum semuanya dapat digunakan karena sungai masih mengering. ‘’Wisata ini sedang direnovasi dan masa pengembangan. Tapi, tetap dibuka untuk pengunjung,’’ terangnya. (mg4/c1/cor)

Nongko Ijo Belum Habis

BELASAN kilometer dari Brumbun, ada wanawisata Hutan Pinus Nongko Ijo. Panorama objek wisata di Desa/Kecamatan Kare itu tidak kalah asri. Meski tanpa wisata air, teduhnya pepohonan dan semilir angin membuat pengunjung betah berlama-lama. ‘’Sudah dua kali ke sini. Nggak bosan,’’ kata Adinda Syafira, salah seorang pengunjung.

Dinda menilai eksistensi wanawisata Hutan Pinus Nongko Ijo belum habis. Sebab spot fotonya variatif dan instagramable. Favoritnya adalah selfie deck dan rumah pohon. Karena bisa berswafoto dengan latar belakang panorama alam. ‘’Semua sudah bagus, toiletnya juga bersih. Tapi sepertinya tidak ada musala,’’ ujar wisatawan asal Kecamatan Taman, Kota Madiun, itu.

Ferry Yulian, ketua pengelola wanawisata Hutan Pinus Nongko Ijo, menyebut wisata mulai dibuka 1 September lalu. Setelah berbulan tutup karena pandemi Covid-19. Protokol kesehatan (prokes) ketat diterapkan bagi pengunjung dan pengelola. ‘’Yang tidak pakai masker tidak boleh masuk,’’ katanya sembari menyebut pembangunan musala tertunda karena korona. (mg4/c1/cor)

Pengunjung Tidak Dipatok Tarif

GELIAT ekonomi di Gligi Forest Park, Desa Kepel, Kare, kembali berdenyut. Wanawisata itu mulai dikunjungi wisatawan September lalu. Setelah berbulan-bulan tutup karena pandemi Covid-19. ‘’Meski belum banyak, tapi lebih baik ketimbang tidak ada sama sekali,’’ kata Bayu Setiawan, pengelola Gligi Forest Park.

Bayu menyebut, tarif tiket untuk pengunjung masih fleksibel. Termasuk biaya sewa bumi perkemahan. ‘’Kami tidak mematok harga,’’ ujarnya.

Bagus Eko, salah seorang pengunjung, sudah dua kali ke Gligi Forest Park. Udara sejuk, kicauan burung, dan pemandangan yang asri membuat hatinya tenang. ‘’Cocok untuk refreshing,’’ katanya. (mg4/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button