MagetanPeristiwa

Perbaiki Sambungan Pipa, Ngaidin Terjatuh di Dasar Jurang

Lancar-tidaknya air keran yang mengalir di rumah anda, sedikit banyak berkat kerja keras petugas PDAM Lawu Tirta di lapangan. Loyalitas itu ditunjukkan Ngaidin, tukang ledeng asal Sidorejo, Magetan. Nyawanya nyaris dipertaruhkan gara-gara terpeleset saat memperbaiki pipa di kawasan air terjun Tirta Gumarang, Cemoro Sewu, Plaosan.

_________________________

FATIHAH IBNU FIQRI, Magetan, Jawa Pos Radar Magetan

HARI menjelang siang, Ngaidin tidak sendirian. Rusaknya jaringan pipa di Tirta Gumarang itu diperbaiki bersama tiga rekannya. Keempat petugas itu harus menuruni curamnya jurang. Di tengah perbaikan sekitar pukul 11.30, tiba-tiba Ngaidin terjatuh. Terempas ke dasar jurang. Meski tak terlampau dalam, tubuh pria 44 tahun itu lemas dengan luka serius di kepala. ‘’Petugas kami tak bisa melakukan evakuasi sendiri. Kondisinya tidak memungkinkan,’’ kata Direktur Teknik PDAM Lawu Tirta Wiyono.

PDAM Lawu Tirta pun lekas berkoordinasi dengan BPDB Magetan. Proses evakuasi di Desa Ngancar itu berlangsung hingga pukul 17.30. Medan yang harus ditempuh petugas penyelamat tidak mudah. Harus menuruni jalan setapak yang cukup licin seusai diguyur hujan. Beberapa bagian setapaknya juga mepet jurang. ‘’Evakuasinya tidak lewat jalur pipa karena terlalu sempit dan jauh. Petugas menembus jalur menuju air terjun,’’ terang Wiyono.

Selain menggunakan tandu, evakuasi juga menggunakan pengait dan tali. Karena korban tidak memungkinkan untuk diangkut secara manual. Beruntung, cuaca kemarin cerah. Korban berhasil diangkat sebelum gelap untuk dilarikan ke puskesmas terdekat. ‘’Bersamaan evakuasi, ada dua mobil ambulans yang disiagakan. Tim dari PMI (Palang Merah Indonesia, Red) juga ikut siaga,’’ imbuhnya.

Wiyono menjelaskan, jaringan pipa yang diperbaiki itu untuk mengalirkan air menuju BTA Sarangan. Stasiun air itu digunakan menampung dan mengatur air untuk pelayanan di tiga kecamatan meliputi Plaosan, Panekan, dan sebagian Poncol. ‘’Pipa yang diperbaiki itu sebenarnya rusak sedikit setelah diguyur hujan dari wilayah atas,’’ ujarnya.

Wiyono membeberkan, pipa di pegunungan memang rentan karena sering tertimpa longsor. Terkadang bocor karena debit airnya terlalu kencang. Pun, jaringan pipa di wilayah ekstrem itu hanya bisa ditembus dengan berjalan kaki. Jalan setapak di sekitarnya, untuk dilewati roda dua saja tidak memungkinkan. ‘’Sekali perbaikan minimal dilakukan empat orang,’’ ucapnya berharap kejadian ini tak terulang. *** (fin/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button