Bupati Menulis

Penulisan Sejarah Kabupaten Magetan

PADA waktu tahun 20018 saya mengikuti HUT kabupaten Magetan yang pertama kali sebagai bupati.  Dalam buku saku yang menjadi acuan acara selama peringatan, ada hal-hal yang membuat saya bertanya-tanya. Utamanya angka tahun yang dihubungkan dengan sebuah peristiwa. Kok rasanya ada yang kurang betul menurut logika dan pemahaman saya. Sehingga ketika itu saya langsung punya niat untuk membentuk tim, guna menulis sejarah Kabupaten Magetan dengan mendasarkan pada referensi dan sumber lainnya yang bisa dipercaya.

Akan tetapi nampaknya urgensi tentang penulisan sejarah tersebut menjadi terkubur kembali ketika banyak program di Kabupaten Magetan yang harus lebih diutamakan. Bukan berarti penulisan sejarah bukan utama, tetapi bisa ditunda sementara waktu. Oleh sebab itu karena penulisan sejarah kabupaten perlu waktu, mulai pembentukan tim, riset, penulisan dan kemudian hasilnya didiskusikan, maka harus segera dimulai.

Momentum itu akhirnya tiba ketika tahun ini, tepatnya tanggal 12 Oktober nanti Kabupaten akan memperingati hari jadinya yang ke-345. Sebuah usia yang cukup panjang matang dari sebuah perjalanan sejarah sebuah wilayah. Namun buku sejarah yang resmi dengan berbagai periodesasi dan berbagai aspeknya belum pernah dibuat.

Tambahan lagi ada kritik di media sosial (medsos), bahwa urutan bupati Magetan yang ditulis di dinding pendopo Surya Graha dengan yang tertulis di tugu “Nol Km” Magetan tidak sama. Ada kekosongan jabatan bupati yang lama tidak diketahui siapa yang menjabat. Maka perlu segera perlu digali, kemudian disusun dan dinarasikan agar penulisan sejarah Kabupaten Magetan secara resmi bisa dilakukan.

Hari Sabtu tanggal 26 Oktober 2020 jam 18.00 sd jam 20.30 kemarin saya mengumpulkan Kadis Kominfo, Kadis Dikpora, Kadis Arpus ditambah pengarang buku “Magetan di Panggung Sejarah Indonesia,” tim hujan buku Kabupaten Magetan untuk membicarakan hal tersebut. Sebelum diskusi dimulai saya memberikan gambaran, betapa sedikitnya sumber tertulis yang mencatat tentang Kabupaten Magetan.

Dari berbagai sumber yang saya baca, yang menyinggung tentang Kabupaten Magetan sangat sedikit sekali. Sumber sejarah yang agak panjang menyinggung Kabupaten Magetan saya peroleh ketika saya membaca buku “Madiun dalam Kemelut Sejarah.” Buku karya sejarawan dari UI, Ong Hok Ham tersebut merupakan sebuah disertasi di Universitas Yale, New Haven, AS tahun 1975 bagi saya sangat amat berarti sebagai salah satu sumber informasi.

Sesuai dengan judulnya, tentu yang paling banyak dibahas dalam buku tersebut adalah Madiun. Tentu wajar, karena memang Madiun sejak dulu menempati posisi sebagai pusat pemerintahan sejak lama. Baik sebelum kekuasaan Belanda maupun setelah kekuasaan Belanda mulai menamcapkan kukunya di wilayah Madiun.

Tentu sumber-sumber atau referensi untuk sebuah penulisan informasi tentang madiun akan lebih banyak. Baik berupa catatan dari pemerintah Belanda seperti laporan dari residen kepada pemerintah pusat bahkan babad. Sedang untuk babad, Ponorogo dan Pacitan justru memiliki babad. Tidak demikian Magetan. Untuk Magetan sendiri tidak diketemukan babad yang kalau dimiliki juga bisa dijadikan salah satu referensi dalam penulisan.

Tidak mengherankan bila dalam pembahasan tentang hal-hal yang menyangkut Pacitan dan Ponorogo salah satu sumber penting Ong Hok Ham adalah babad tadi. Sedang pembahasan tentang Magetan semua bersumber dari catatan-catatan pemerintahan Belanda. Karena sumber tertulis sama sekali tidak ada sebelumnya.

Yang justru pembahasan tentang Magetan dalam buku disertasi Ong Hok Ham malahan dibahas dalam sub bab tersendiri adalah “Kasus Candu di Magetan.” Tentu ini sesuai dengan judul disertasinya, tentang kemelut. Kasus candu yang dilaporkan melibatkan Bupati Magetan ini dibahas dalam enam halaman tersendiri. Sumbernya sama, yaitu dokumen laporan mulai Mr 1890, No: 152 dan 384/G, Mr 1890, No: 219, Mr 1890, No: 384/G dan Mr 1892, No: 172.

Dalam dokumen tersebut diceritakan bagaimana tuduhan kepada Bupati magetan yang diduga terlibat dalam perdagangan gelap candu. Dalam halaman 267 dituliskan,”…….Bupati magetan adalah keturunan bupati yang hampir tidak terputus di daerah ini sejak 1837. Pada tahun 1890, RMA Kerto Adinegoro yang hanya seorang menantu dari pendahulunya menjabat sebagai bupati (1887-1912). Kabupaten ini banyak mempunyai kerabat miskin, yang tinggal bersamanya di Kabupaten Magetan. Lagi pula, ia menjadi bupati hanya karena dukungan Belanda, sementara beberapa dari pihak keluarga lebih memilih saudara tirinya, seorang asisten jaksa kepala di Magetan, yang lebih berhak menduduki jabatan ini. Situasi semacam ini menciptakan kindisi intrik yang memerangkap Residen Madiun saat itu, C. Donker Curtius.

…..saudara tiri bupati, asisten jaksa kepala di Magetan, melapor kepada jaksa kepala Madiun bahwa ia mencurigai bupati terlibat penyelundupan candu. Residen pada saat itu adalah Mullemeister, salah satu pejabat sipil paling hebat pada abad ke-19 dengan pengalaman panjang di tanah Jawa, yang tak lama setelah itu menduduki jabatan bergengsi sebagai residen di keratin Yogyakarta. Kabar burung ini diabaikan oleh Mullemeister, tidak ditindaklanjuti, dan mungkin tidak diteruskan kepada penggantinya, Donker Curtius..”

Namun diceritakan selanjutnya dalam beberapa halaman buku, bahwa setelah bupati melakukan protes ke Batavia atas tuduhan itu, maka diturunkan Inspektur Candu, HL Ch. Ter Mechelen ditugaskan untuk menyelidiki perkara ini secara independen. Setelah dilakukan penyelidikan selama sepuluh hari, ternyata informan yang dijadikan dasar tuduhan kepada bupati ternyata palsu. Dan Bupati Magetan dibebaskan atas tuduhan terhadap penyelundupan candu yang dituduhkan bekerjasama dengan Letnan Cina yang kebetulan berteman sangat baik dengan Bupati Magetan.

Tentu yang kita perlukan untuk penulisan sejarah Kabupaten Magetan nantinya bukan hanya informasi semacam ini, namun juga urutan siapa Bupati Magetan dari period eke periode berikutnya secara berurutan. Karena ada periode yang diduga ada kekosongan jabatan. Demikian juga seperti apa kehidupan para priyayi dan masyarakat di Magetan dari jaman ke jaman. Demikian juga bagaimana sistem sosial, ekonomi, politik, pendidikan. Banyak hal yang bisa digali dan dituliskan.

Oleh sebab itu, diperlukan kajian yang lebih serius dengan sumber-sumber yang dapat dipercaya. Akhirnya dalam pertemuan malam itu, disepakati pada akhir bulan depan (Oktober 2020) akan dilakukan sarasehan dahulu dengan mengundang narasumber yang memang ahli di bidangnya. Juga pemerhati sejarah khususnya Magetan yang betul-betul memahami persoalan yang dapat memberikan masukan.

 Narasumber yang akan diminta hadir seperti Prof Peter Cerey ahli sejarah Indonesia yang menulis begitu banyak tentang Diponegoro termasuk disertasi beliau. Demikian juga Dr. Purwadi yang begitu banyak menulis buku tentang falsafah jawa, kebudayaan jawa, sejarah Jawa, sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa. Beliau juga dosen sejarah di sebuah universitas negeri di Yogyakarta.

Saya secara pribadi sudah kontak dengan Dr Purwadi, dan beliau menyatakan bersedia hadir. Sedang untuk Prof Peter Cerey, yang pernah berkunjung ke Magetan dan bertemu dengan saya waktu itu (telah saya tulis di rubrik ini juga) mudah-mudahan ada waktu dan bersedia hadir untuk memberi kontribusi dan informasi tentang Magetan. Siapa tahu beliau malahan bisa memberikan referensi tentang Magetan yang mungkin beliau miliki. Mengingat beliau waktu menulis disertasi maupun buku-buku tentang Diponegoro begitu banyak referensi dari berbegai sumber dan diperoleh dari berbagai tempat yang tentu sulit kita jangkau.

Setelah sarasehan kita akan segera membentuk tim penulisan. Tentu akan banyak melibatkan banyak pihak dalam sarasehan ini. Dan juga memerlukan waktu panjang dalam penelusuran sumber dan referensi. Demikian juga dalam penulisan, juga perlu waktu. Namun harus segera dimulai sehingga sejarah Kabupaten Magetan dari berbagai aspeknya dapat segera terwujud. Yang kita harapkan nantinya, buku sejarah Kabupaten Magetan bila telah terwujud,  bisa menjadi rujukan siapa pun yang nantinya akan mencari dan menelusuri Kabupaten dari masa ke masa. Mudah-mudahan.

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

?php /** * The template for displaying the footer * */ defined( 'ABSPATH' ) || exit; // Exit if accessed directly do_action( 'TieLabs/after_main_content' ); TIELABS_HELPER::get_template_part( 'templates/footer' ); ?>
Close