Madiun

Penjual Bunga Ngalap Berkah di Bulan Suro

SUROAN menjadi berkah bagi para penjual bunga di dua makam leluhur Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Puluhan penjual bunga musiman itu telah menggelar lapaknya di sekitaran Makam Pilangbango dan Taman sejak Sabtu pagi (31/8). Selama dua hari mereka menyediakan bunga para peziarah dari berbagai daerah.

Suparti salah satunya. Perempuan kelahiran 1959 asal Desa Sirapan, Kecamatan/Kabupaten Madiun, itu menyediakan sedikitnya 500 bungkus bunga. Seperti tiap tahunnya, persediaan bunga yang disiapkan itu ludes selama dua hari. ’’Mulai buka Sabtu pagi jam 07.00,’’ kata Suparti.

Biasanya Suparti menjual bunga di daerah Babadan. Khusus Suroan dia memilih pindah di sekitaran makam. Hal itu telah dilakoninya sejak 15 tahun lalu. ‘’Tutup jam 22.00 malam, lalu Minggu pagi mulai buka lagi,’’ lanjutnya.

Dalam waktu dua hari, para penjual bunga dapat membawa pulang keuntungan berkisar Rp 300 ribu—Rp 500 ribu. Setidaknya keuntungan itu dirasakan Sulastri, asal Jogorogo. Dia yang biasanya jualan buah berpindah jualan bunga pada momen 1 Suro tiap tahunnya. ‘’Biasanya jualan buah di Pasar Joyo,’’ kata Sulastri.

Bunga wajib dibawa dalam tradisi nyekar. Biasanya terdiri bunga mawar merah, mawar putih, melati, kenanga, kantil putih, dan kantil kuning. Bunga itu pun memiliki makna tersendiri. ‘’Kalau berdasarkan cerita nenek yang juga jualan, bunga memiliki makna sendiri-sendiri,’’ lanjutnya.

Dia menjelaskan, bunga mawar merah bermakna kelahiran manusia ke dunia. Mawar putih dimaknai ketenteraman, sejahtera, dan damai. Bunga kantil identik dengan jiwa spiritual yang kuat. Melati bermakna selalu melibatkan hati atau kalbu dalam setiap tindakan. Sedangkan bunga kenanga bermakna generasi penerus leluhur. ‘’Kurang lebih dijadikan satu untuk menjaga warisan leluhur sesuai dengan laku dan aturan orang Jawa,’’ ungkapnya.

Karena itu, bunga dalam tradisi nyekar bagi orang Jawa merupakan syarat. Karena itu, beberapa warga memilih menjadi penjual bunga dadakan di sekitaran makam. Bahkan, warga yang ngalap berkah di momen Suroan ada yang berasal dari luar kota. Parsi, warga asli Magetan, salah satunya.

Dia datang dari Magetan untuk mengais rezeki. Selama dua hari dia mampu membawa pulang uang sekitar Rp 600 ribu. Sayangnya, meningkatnya permintaan bunga diiringi dengan kenaikan harga bunga. Biasanya dia kulakan bunga di Pasar Sleko seharga Rp 20 ribu per kilogram, kini naik menjadi Rp 35 ribu. ‘’Iya, harga bunga naik juga,’’ kata Parsi.

Meski harga bunga naik, dia bersama puluhan penjual bunga dadakan tetap mengais rezeki. Menurutnya, kenaikan itu tidak berpengaruh terhadap pembeli. ’’Masih sama meskipun harga bunga naik. Pembeli masih ada karena setiap yang berziarah pasti membeli bunga,’’ ucapnya. (kid/c1/ota)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button