Madiun

Penimbun Masker Bisa Kena Rp 50 Miliar

IAI Larang Apotek Layani Pembelian Skala Besar

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Kelangkaan masker, hand sanitizer, dan perlengkapan medis lainnya menjadi salah satu indikator kepanikan masyarakat menghadapi virus korona.

Pasal 107 UU Nomor 7/2014 mengancam penimbun penjara lima tahun atau denda Rp 50 miliar. Pasal 29 ayat 1 dalam UU itu juga melarang pelaku usaha menyimpan barang kebutuhan pokok dan/atau barang penting seperti masker dalam jumlah dan waktu tertentu pada saat terjadi kelangkaan. ‘’Kami tak segan menindak tegas,’’ kata Kasatreskrim Polres Madiun Kota Iptu Fatah Meliana usai serah terima jabatan (sertijab) menggantikan AKP Suharyono yang dimutasi menjadi Panit I Unit III Subdit II Ditreskrim Polda Jatim Rabu (4/3).

Fatah bakal menerjunkan satu tim berisi sepuluh personel untuk melakukan penyelidikan lapangan. Upaya itu dilakukan seiring kelangkaan di pasaran. Pun mengantisipasi segala bentuk penyimpangan yang dilakukan oknum nakal. ‘’Kami minta warga tidak terpancing dengan berita yang belum jelas kebenarannya,’’ ujarnya.

Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Kota Madiun turut melakukan upaya antisipasi dan meningkatkan pengawasan terhadap 80 apotek di Kota Karismatik.

Ada dua langkah terdekat yang akan ditempuh. Pertama, mengimbau warga untuk tidak menimbun masker ataupun perlengkapan medis lain. Kedua, membatasi pembelian masker serta mengimbau apotek untuk tidak melayani pembelian masker dalam skala besar. ‘’Pengelola atau penanggung jawab apotek tidak boleh memanfaatkan situasi,’’ kata Ketua IAI Kota Madiun Abdul Basit.

Pantauan Jawa Pos Radar Madiun, kelangkaan dan kenaikan harga masker terjadi sejak pertengahan Februari. Dari lima sampel apotek besar yang didatangi koran ini, hanya satu apotek yang memiliki stok masker. Harga per boks masker bedah melambung hingga Rp 250-Rp 400 ribu dari normalnya Rp 35 ribu. Jenis masker N95 mencapai Rp 1,78 juta dari harga normal Rp 200 ribu per boks. ‘’Sejak Februari lalu permintaan mulai meningkat. Dari distributor, harga memang sudah naik,’’ ujarnya.

Namun, Basit tetap berharap hukum ekonomi tak dimanfaatkan oknum tak bertanggung jawab. Banyaknya permintaan jangan sampai dimanfaatkan oknum tertentu untuk mengeruk keuntungan tidak wajar. ‘’Khawatir boleh, tapi jangan berlebihan. Anjuran dinas kesehatan, yang wajib memakai masker itu hanya yang sakit,’’ tuturnya.

Dia juga menyarankan agar warga tidak panik dengan membeli masker dalam jumlah besar. Apalagi sampai dikirim ke luar negeri. Hal itu dapat memperparah kelangkaan di pasaran. ‘’Yang seperti itu harus dihentikan,’’ tegasnya. (kid/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button