Ngawi

Pengusaha Asal Ngawi Sukses Berbisnis Angkringan

Kopi Bukan untuk Dinilai, Penghubung saat Ngobrol

Jadi karyawan swasta bergaji cukup ternyata bukan jalan menuju sukses. Laki-laki ini memilih membuka kedai kopi. Pilihan itu membawanya sukses memiliki 11 kedai dan puluhan franchise.

=========================

SUGENG DWI, Ngawi, Jawa Pos Radar Ngawi

BEBERAPA kali Khius Suprianto menyentuh layar gawainya. Satu dua pesan WhatsApp dibaca. Sesekali jemarinya mengetik beberapa huruf membalas chat dari rekanan. Khius sangat mengandalkan telepon pintar itu. Terlebih saat di luar kota. ‘’Saya pantau usaha saya di Jakarta, termasuk beberapa teman yang konsultasi kedai kopi,’’ kata pemilik usaha Meloe Meloe Ngopi itu.

Berkiprah di dunia kopi sejak 11 tahun silam, kepiawaian Khius mencicipi kopi tak diragukan lagi. Dari situ dia memulai bisnisnya. Beragam tawaran jadi juri lomba bertema kopi acap diterima. Namun, semua undangan itu ditolak. ‘’Bagi saya, kopi itu tak dinilai, tapi sebagai sarana penghubung saat ngobrol,’’ ujarnya.

Pria 36 tahun itu tak pernah mengira usahanya kian berkembang. Berawal dari kejenuhannya berbisnis advertising bersama beberapa rekanan. Khius banting setir membuka kedai kopi pribadi. Bermodal angkringan di Jakarta, plus owner-nya.

Kala itu, Khius ditinggal pulang kampung karyawan. Mau tak mau dia harus bagi waktu antara usaha baru dan pekerjaannya. ‘’Waktu buka usaha saya masih jadi karwayan. Gaji saya lumayan sebenarnya,’’ ungkapnya sembari menyebut memilih buka usaha di Jakarta agar bisa tetap bekerja.

Pantang menyerah, warga lingkungan Balong, Beran, Ngawi, itu coba memesan katering demi memenuhi usahanya. Apes, dagangan acap tak laku. Dia mencari konsep jualan lainnya. Pun membawa angkringannya ke ranah kafe. ‘’Konsepnya tetap angkringan tapi dengan bahan yang lengkap. Belasan jenis kopi dan teknik penyeduhan. Jadilah Meloe Meloe Ngopi,’’ kenangnya.

Kini setidaknya 11 kedai Meloe Meloe Ngopi dimiliki Khius. Plus 50 lebih franchise angkringan tersebar di Jakarta,  Jawa Barat, dan Jogjakarta. Tak ingin jadi kaya seorang diri, memberi manfaat bagi karyawannya suatu kebahagiaan tersendiri. ‘’Sudah gak lagi jadi karyawan. Sejak 2014 sudah resign. Konsisten menggeluti usaha ini,’’ ucapnya.*** (sat/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button