Magetan

Pengelola THM Diminta Rapid Test Mandiri Para Pemandu Lagu

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Sarana dan prasarana (sarpras) dua tempat hiburan malam (THM) di Magetan belum layak untuk beroperasi di masa pandemi Covid-19. Tim asesmen kelayakan operasional usaha gugus tugas percepatan penanganan (GTPP) Covid-19 mendapati sejumlah persyaratan belum terpenuhi di Duta Cafe, Plaosan, dan Kafe Morodadi, Sarangan.

Fakta tersebut diketahui dalam lanjutan asesmen enam THM berizin yang mengajukan permohonan buka menyongsong adaptasi kebiasaan baru (AKB) Senin (3/8). ‘’Masih perlu dilengkapi,’’ kata Ferry Yoga Saputra, anggota tim asesmen kelayakan operasional usaha GTPP Covid-19.

Ferry menguraikan, pembatas jarak di Duta Cafe dan Morodadi belum memadai. Hand sanitizer belum tersedia di setiap ruangan, mikrofon belum diberi pembungkus, dan tidak ada tanda jarak antre di kasir. ‘’Ventilasi udara masih ada yang kurang,’’ sebutnya.

Selain sarpras yang belum layak, tim asesmen menaruh curiga Morodadi melakukan pelanggaran. Yakni, sudah beroperasi sebelum mendapat rekomendasi. Indikasi itu antara lain dari tanda pembatas berupa isolasi yang sudah mulai mengelupas. Sejumlah ruangan juga tercium bau rokok. ‘’Ini yang kami khawatirkan terjadi di THM lain. Sebelum ada rekom, sebaiknya jangan buka dulu,’’ tegasnya.

Ferry menyebut, THM yang belum mengantongi izin usaha tidak bisa mengajukan asesmen. Legalitasnya harus diurus lebih dulu. Pihaknya sangsi protokol kesehatan tidak bisa dipenuhi. Mempertimbangkan urusan izinnya saja belum beres. ‘’Kalau beroperasi, berbahaya bagi para tamu dan lainnya karena protokol kesehatannya tidak jelas,’’ bebernya.

Sekretaris Tim Asesmen Kelayakan Operasional Usaha GTPP Covid-19  Ari Budi Santosa menambahkan, pekerja dalam bisnis sing-song juga menjadi perhatian. Selain kasir, juga pemandu lagu (PL) yang menemani tamu bernyanyi. Pengelola diminta mengoordinasi minimal tes cepat Covid-19. ‘’THM rapid test mandiri,’’ ucapnya.

Hasil rapid test lantas dikirim ke GTPP. Data itu yang lantas dijadikan bahan kontrol pengawasan. Seandainya ada kasus konfirmasi positif korona dari klaster THM, maka pelacakannya bisa jelas. ‘’Hingga kini belum dapat data jumlah pemandu lagu masing-masing THM,’’ ujar kepala pelaksana badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) itu.

Ari menegaskan, pihaknya bakal langsung menutup THM bila muncul pasien positif. Bahkan, mengisolasi permukiman terdekatnya. ‘’Karena itu, THM harus mengawasi ketat tamu, karyawan, dan siapa pun yang kontak dengan tamu. Seluruh protokol kesehatan serta perilaku hidup bersih dan sehat harus dijalankan,’’ tandasnya. (fat/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button