features

Penerbang Giant Jadi Komandan Baru Lanud Iswahjudi

Tak Pernah Lupakan Kelezatan Bubur Sumsum Magetan

Marsma TNI Mochammad Untung Suropati resmi menakhodai Lanud Iswahjudi per 11 Januari 2021. Penerbang Sukhoi SU 27/30 itu menggantikan Marsma TNI Widyargo Ikoputra yang kini menjabat Kepala Staf Koopsau II. Danlanud Iswahjudi ini memiliki pengalaman bertugas di wilayah paling timur Indonesia hingga Rusia.

FATIHAH IBNU FIQRI, Maospati, Jawa Pos Radar Magetan

ASAM garam dunia kemiliteran dikuasai betul oleh Marsma TNI Mochammad Untung Suropati. Debutnya menjadi penerbang pertama F-5 Tiger di Lanud Iswahjudi, 1996 silam. Setelah dua tahun mengenyam pendidikan penerbangan pesawat tempur. ”Sangat bersyukur sekali dapat kembali bertugas di tempat saya terlahir sebagai penerbang pesawat tempur,” katanya.

Perwira tinggi berjuluk (call sign) Giant itu juga pernah menerbangkan Hawk buatan Inggris. Terakhir dia menjadi penerbang pesawat Sukhoi di Skadron Udara 11 Lanud Hasanuddin, Makassar. ”Tiap pesawat tempur relatif sama. Tapi, ada beberapa prinsip yang berbeda. Di situlah kelihaian penerbang diuji. Tiap penerbangan selalu penuh tantangan,” terang perwira tinggi yang telah memiliki 4.300 jam terbang itu.

Karir Untung semakin moncer saat dilantik menjadi Komandan Skadron Udara 11, 2011 silam. Dua tahun berselang dia dipercaya menjadi Danlanud Timika Papua pada 2013. Meski di Papua rentan pergolakan sosial, dia tetap dapat mengemban tugas dengan baik. TNI/Polri selalu sigap menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. ”Apa pun pengalamannya selalu berharga. Saya senang bisa bertugas ke salah satu daerah paling timur di Indonesia, Timika,” kenangnya.

Dua tahun berselang Untung diamanahi menjadi atase pertahanan (athan) di Rusia hingga 2018. Dia cukup terkesan saat bertugas di negara terdingin kedua di dunia itu. Meski kebutuhan sehari-hari sebagai anggota diplomat di bidang kemiliteran tercukupi, hidup di negara dengan musim dingin ekstrem cukup menegangkan. ”Di sana cuacanya cukup ekstrem. Rata-rata minus 42 derajat. Jadi, harus sering berganti sepatu dan baju. Tiap musim outfit-nya beda-beda,” terangnya.

Tiga tahun bertugas di Beruang Putih, Untung juga mempelajari bahasa Rusia. Bukan lisan, tapi juga tulisan alfabet Kiril. Sebagai bekal untuk komunikasi dengan para petinggi negara dan kemiliteran maupun masyarakat di sana. ”Meski ada penerjemah, saya harus paham dulu dasarnya supaya tidak keliru menangkap maksud dari setiap pembicaraan,” katanya.

Sekembalinya ke Indonesia, Untung tergabung dalam Military Attache Corp. Bertugas mengatur dan mengoordinasi setiap kegiatan kemiliteran yang berhubungan dengan luar negeri. Menjadi diplomat di bidang pertahanan cukup memberinya pengalaman dan kesempatan besar untuk belajar banyak hal. ”Tak hanya belajar bahasa, tapi juga budaya dan ilmu bertahan hidup di negeri orang. Sedikit banyak hal itu bisa diterapkan di Indonesia,” ungkapnya.

Perwira tinggi kelahiran Jakarta 48 tahun silam itu cukup menggemari seluruh genre musik tanah air. Dia juga piawai bermain gitar. Meski telah melanglang buana hingga Rusia, dia masih belum lupa dengan kelezatan bubur sumsum di Pasar Baru Magetan. ”Setiap berlibur ke Magetan, saya selalu menyempatkan mampir pasar untuk mencari bubur sumsum. Kapan-kapan ke sana lagi,” ucapnya. * (fin/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
               
         
close