Magetan

Pendapatan Uji Kelaikan Tutupi Kekurangan Retribusi Parkir

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Pembebasan denda keterlambatan uji kendaraan bermotor menjadi berkah bagi Dinas Perhubungan (Dishub) Magetan. Pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor itu melebihi target.

Kadishub Magetan Joko Trihono mengutarakan, capaian itu bakal menjadi tolok ukur PAD di tahun berikutnya. ‘’Setelah tidak ada pembebasan denda, apakah mereka akan tertib. Ini yang akan kami jadikan bahan evaluasi,’’ katanya.

Tahun 2019, Joko memberikan kelonggaran kepada pemilik kendaraan dengan menghapus denda. Mendasar Perbup 41/2019 tentang Pembebasan Denda Keterlambatan Uji Kendaraan Bermotor. Ketentuan itu berlaku mulai 16 September hingga 16 Oktober. Mengingat uji kendaraan itu wajib dilaksanakan setiap enam bulan sekali, Joko bakal membandingkan perolehannya pada Maret mendatang. ‘’Hasil Oktober 2019 dan Maret 2020 akan kami bandingkan. Nanti bisa dilihat mana pemilik kendaraan yang tertib dan tidak,’’ ujarnya.

Seharusnya pemilik kendaraan tak hanya mengujikan kelayakan kendaraan saat ada penghapusan denda. Pemenuhan laik jalan itu sejatinya bukan untuk menghindari sanksi ketika ada pemeriksaan. Namun, untuk menjamin keselamatan. ‘’Kami ingin para pemilik kendaraan taat uji kir,’’ tuturnya.

Capaian tertinggi, yakni pada retribusi PKB-mobil bus-bus. Capaiannya mencapai 228,97 persen. Empat retribusi kendaraan umum lainnya juga tidak kalah. Lebih dari 100 persen. Padahal, penghitungan yang dilakukan dishub masih belum final. Baru sampai 23 Desember lalu. Masih ada kenaikan hingga akhir tahun. Mengingat, dalam sehari bisa puluhan kendaraan yang antre untuk diuji kelaikannya. ‘’Yang ditentukan itu target minimal. Jadi, harus bisa melampaui target,’’ katanya.

Capaian target retribusi kendaraan bermotor itu bisa untuk menutup kekurangan target pada retribusi parkir di tepi jalan umum dan tempat parkir insidental. Kedua item itu gagal tertutup 100 persen. Secara global, capaian target PAD memang memuaskan. Persentasenya 112 persen. Dari target Rp 2,03 miliar, terlampaui hingga Rp 2,28 miliar. ‘’PAD itu bonusnya,’’ terangnya.

Joko mengatakan, sejatinya target kinerjanya bukan pada capaian pendapatan. Namun, bagaimana menekan angka kecelakaan lalu lintas di jalan. Yakni, melalui uji kelaikan kendaraan dan penyediaan sarpras jalan. Tak kalah penting, faktor utamanya yakni sumber daya manusia (SDM) alias pengendaranya. ‘’Tidak bisa semata-mata dilihat dari capaian PAD. Tapi, angka keselamatan berlalu lintas,’’ pungkasnya. (bel/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button