Madiun

Pendaki Asal Madiun Meninggal saat Naik ke Lawu Bareng Istri

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Perjalanan pasangan suami istri (pasutri) Koco Yuwono–Sugiyarti melakukan pendakian Gunung Lawu pada Senin lalu (20/9) awalnya baik-baik saja. Sesaat sebelum mendaki, keduanya pun sempat ngopi dan menyantap gorengan di sebuah warung. ‘’Saya tawari sarapan tapi nggak mau,’’ kata Sugiyarti, istri Koco, Rabu (22/9).

Koco dan Sugiyarti melakukan pendakian Lawu via Cemoro Kandang, Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah. Keduanya berangkat dari Kota Madiun pukul 04.00. Ini bukan pengalaman baru bagi pasutri asal Jalan Majapahit, Kelurahan Winongo, Manguharjo, tersebut mendaki alam bebas. Sebelumnya, keduanya telah mendatangi beberapa lokasi di dataran tinggi seperti Bukit Mongkrang dan Pertapaan Pringgodani, Karanganyar.

Selesai sarapan sekitar pukul 08.00, Koco-Sugiyarti bersama rombongan pendaki lain mulai bergerak naik. Beberapa jam berselang, mereka sampai di pos 2. Kemudian, saat hendak menuju pos 3, Sugiyarti merasa ingin buang air besar (BAB). ‘’Suami dan seorang pendaki menunggu saya. Sedangkan dua orang lainnya jalan duluan,’’ kenangnya.

Sekitar 10 menit berselang setelah Sugiyarti BAB, tiba-tiba Koco mengalami kejang hingga tersungkur di tanah. Spontan perempuan 46 tahun itu memangku kepala sang suami dan meminta teman pendakinya menghubungi tim SAR. ‘’Tapi, karena susah sinyal, dua teman turun ke base camp untuk mencari bantuan,’’ ujarnya.

Lantaran medan yang sulit dan lokasi yang jauh, lanjut Sugiyarti, tim SAR baru tiba sekitar pukul 15.00. Mereka langsung memeriksa denyut nadi Koco yang kala itu sudah sangat lemah. Tidak lama kemudian, Sugiyarti diminta turun ke base camp ditemani beberapa anggota tim SAR.

Sugiyarti yang sudah kalut dengan peristiwa yang menimpa suaminya akhirnya tak sadarkan diri di tengah perjalanan menuju base camp. Lalu, tim SAR membawanya ke puskesmas terdekat. ‘’Saat di sana (puskesmas, Red) saya tidak diberi tahu kalau suami sudah tiada,’’ ungkapnya.

Sebelum pendakian tersebut, Sugiyarti mengungkapkan bahwa Koco menunjukkan beberapa gerak-gerik di luar kebiasaan. Misalnya, malam sebelum berangkat mendaki, Koco meminta seorang anaknya untuk mengajari bacaan beberapa surah pendek Alquran lantaran ingin mengimami salat Duhur di tengah perjalanan mendaki. ‘’Sebelum mendaki, suami biasanya rajin olahraga pagi, ini tidak sama sekali,’’ tuturnya. (tr1/c1/isd/her)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button