Magetan

Pencemaran Lingkungan Mendera Telaga Sarangan

Ayu Tapi Bau

Telaga Sarangan didera masalah pencemaran lingkungan. Beningnya air bercampur comberan dan kotoran hewan. Bau busuk yang menguar bikin wisatawan tidak kerasan.

 

TELUNJUK kanan Muhammad Marzuki menutup lubang hidung ketika duduk di depan gunungan bertuliskan Sarangan Lake to Remember 16 Agustus lalu. Gerakan itu setelah mencium bau tidak sedap di sekitar salah satu spot foto favorit Telaga Sarangan, Kelurahan Sarangan, Plaosan, Magetan, itu. ‘’Seperti bau comberan,’’ katanya.

Aroma busuk serupa menguar di beberapa tempat yang disinggahi Marzuki. Wisatawan asal Jawa Tengah itu sempat celingukan mencari sumbernya. Sampai akhirnya mendapati aliran air keruh mengalir dari pinggir telaga menuju ke tengah. Kemarau membuat air telaga surut hingga memperlihatkan dasarnya yang mengering. ‘’Saya tidak tahu dari mana asalnya. Tapi, karena warnanya agak gelap, saya yakin bukan dari sungai,’’ ujarnya.

Radar Magetan menemukan dua titik munculnya cairan berwarna kehitaman di dalam telaga. Lokasi pertama berada di barat telaga dekat wisma Perhutani. Comberan itu merembes di tanggul yang dipenuhi gulma. Pangkal aliran air keruh itu mengarah ke permukiman warga dan penginapan.

Titik kedua berada di dekat salah satu hotel yang berjarak sekitar 50 meter dari wisma itu. Cairan dengan bau menyengat keluar dari dalam pipa paralon berukuran empat dim. Peranti itu menyembul pada tanggul yang berada di bawah bangunan hotel. ‘’Baunya mengganggu pengunjung yang duduk di kursi pinggir telaga,’’ ucap Marzuki.

Lurah Sarangan Prima Suhardi Putra melihat dengan mata kepalanya sendiri comberan mengalir ke dalam telaga. Melalui pipa paralon di dekat wisma Perhutani. Fakta itu diketahuinya Sabtu (12/9) setelah menerima keluhan bau tidak sedap dari pengunjung. ‘’Saya lakukan pengecekan bersama dinas pariwisata dan kebudayaan (disparbud). Ternyata betul ada aktivitas pembuangan limbah ke telaga,’’ ungkapnya.

Prima lantas menginterogasi pemilik penginapan sekaligus restoran yang terdekat dengan titik pembuangan limbah itu. Pemilik, kata dia, mengakui praktik terlarang tersebut. Namun, asal cairan limbah dibantah bukan dari tempat usaha, melainkan limbah di rumahnya. Jaraknya sekitar 10 meter dari telaga. ‘’Pengakuannya cairan yang dibuang ke telaga itu hanya limbah dapur. Kalau MCK (mandi, cuci, kakus) ada tempatnya sendiri,’’ bebernya.

Prima mengaku pengusaha itu telah ditegur. Siap menghentikan aktivitas pembuangannya. Namun, ketika Radar Magetan kembali mendatangi lokasi Minggu (13/9), cairan limbah masih keluar dari pipa. ‘’Kami serahkan pengawasan ke dinas (pariwisata dan kebudayaan),’’ ucap Prima kala ditanya tindak lanjut dan indikasi pembuangan limbah tidak hanya satu titik.

Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Magetan Mochtar Wahid menyebut, pemilik hotel bisa saja membuang limbah usahanya ke telaga. Akan tetapi, indikasi tersebut perlu dipastikan lewat kroscek lapangan. Menelusuri dari hilir hingga hulu. ‘’Harus ada bukti kuat karena sifatnya bisa merugikan jika tidak terbukti,’’ katanya, Sabtu lalu (12/9).

Mochtar menerangkan, pengelolaan limbah yang sesuai standar menjadi salah satu syarat hotel mengantongi izin mendirikan bangunan (IMB). Ketentuannya harus memiliki tampungan limbah sendiri. Sejauh ini, kepatuhan para pengusaha hotel di kawasan telaga bermacam-macam. Ada yang sudah mengantongi, proses membuat bangunan baru, penambahan, atau renovasi. ‘’Artinya, kecil kemungkinan pipa itu dari hotel yang sudah ada IMB-nya,’’ ucapnya.

Pelanggaran sangat memungkinkan terjadi dengan modus merehabilitasi atau menambah bangunan tanpa memberi tahu ke DPUPR. Baik dilakukan pengusaha hotel maupun warga. Mereka leluasa membangun tanpa memperhatikan aspek tata ruang dan analisis mengenai dampak lingkungan (amdal). Yaitu berupa tidak melengkapi saluran pembuangan limbah. ‘’Kami tidak bisa mencatat (yang tidak dilengkapi saluran pembuangan limbah) karena tidak ada laporan ke kami. Sulit dideteksi,’’ terang Mochtar.

Lima warga dan tiga pengusaha hotel menolak memberikan keterangan ketika dimintai tanggapan aktivitas pembuangan limbah ke telaga. Mereka beralasan pemberitaan itu bakal berdampak pada turunnya kunjungan wisatawan. Di saat roda ekonomi belum sepenuhnya pulih akibat pandemi Covid-19. Sementara, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Magetan Sunardi meski banyak bicara, namun menolak keterangannya dikorankan.

 

Komisi B Tak Bisa Menoleransi

Mendengar Telaga Sarangan dijadikan sasaran tempat pembuangan limbah, telinga Ketua Komisi B DPRD Magetan Hari Gitoyo memerah. Dia akan memanggil OPD terkait untuk rapat dengar pendapat (RDP) pekan ini. ‘’Menjadi prioritas pertama,’’ katanya kemarin (15/9).

Hari akan memintai keterangan mengenai masih adanya limbah yang dialirkan ke dalam telaga. Selain itu, dasar telaga yang mengering belakangan jadi ”tempat sampah” pengunjung. Pihaknya tidak bisa menoleransinya. Karena kebersihan, kerapian, dan kenyamanan termasuk yang dijual ke wisatawan. Komisinya tidak ingin Telaga Sarangan yang ibarat gadis ayu itu berbau. ‘’Apalagi suasana Covid-19. Motonya harus sehat dan bersih,’’ ujarnya.

Hearing diharapkan mengerucut pada solusi untuk mengatasi permasalahan. Apakah harus membuat saluran limbah khusus atau bahkan peraturan yang mengikat. ‘’Tentu juga mempertimbangkan anggaran, kewilayahan, karakteristik masyarakat, dan sebagainya,’’ ucap politikus Partai Demokrat tersebut.

Menurut Hari, kunjungan wisatawan yang relatif sepi karena pandemi menjadi momen tepat untuk membenahi Sarangan. Pembangunan atau perbaikan bisa lebih optimal. ‘’Kami mengapresiasi banyaknya masukan yang disampaikan publik. Mudah-mudahan bermanfaat bagi kemajuan wisata di Magetan,’’ tuturnya. (odi/c1/cor)

Air Tercemar Limbah Hewan

AIR Telaga Sarangan tercemar. Dinas lingkungan hidup (DLH) mendapati pencemaran biologis yang cukup tinggi hasil pengecekan Maret lalu. Melebihi ambang batas yang ditentukan Peraturan Pemerintah (PP) 82/2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. ‘’Kami temukan kelebihan bakteri Total coliform (pencemaran limbah tinja hewan, Red) dari batas minimum,’’ kata Kepala DLH Magetan Uswatul Khasanah Selasa (1/9).

Ana, sapaan akrab Uswatul Khasanah, menyebut, kadar Total coliform 11.000 dari batas maksimal 10.000 per 100 mililiter. Angka itu menunjukkan banyak kotoran hewan masuk ke dalam telaga. Pencemaran, kata dia, diduga dari dua aktivitas. Pembuangan tinja kuda pariwisata dan peternakan di kawasan atas Sarangan. Peternak membuang kotoran hewan ke saluran air yang akhirnya masuk ke telaga. ‘’Jadi, belum tentu kotoran kuda wisata yang mencemari telaga,’’ ujarnya.

DLH juga mencatat kandungan berbahaya lainnya. Seperti bahan kimia anorganik dan bakteri Fecal coliform. Kadar pencemaran limbah tinja manusia itu 500 dari batas maksimal 2.000 per 100 mililiter. Kandungan tersebut masih di bawah ambang batas PP 82/2001.

Meski terbilang rendah, Ana mewaspadainya. Menurut dia, limbah rumah tangga juga menjadi penyebab pencemaran air. Sejumlah warga yang tinggal di pinggir telaga belum memiliki saluran pembuangan memadai. Sehingga, pilihannya membuang ke telaga. ‘’Kalau yang jauh, sudah ada saluran air tersendiri dan tidak masuk ke telaga,’’ tuturnya.

Agar pencemaran tidak semakin parah, Ana mengaku telah berkoordinasi dengan dinas pariwisata dan kebudayaan. Mulai pengunjung, pelaku wisata, hingga pedagang kaki lima diberi peringatan untuk tidak membuang limbah cair langsung ke telaga. ‘’Perlu dibuatkan saluran air tersendiri. Sehingga tidak langsung masuk ke telaga,’’ pungkasnya. (cor/c1)

12 Meter Sedimentasi, 20 Tahun Tak Dinormalisasi

SEDIMENTASI Telaga Sarangan memprihatinkan. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Magetan mencatat pendangkalan setinggi 12 meter dalam kurun dua dekade terakhir. Bila dipukul rata, terjadi pengendapan tanah sekitar 1,6 meter setiap tahunnya. ‘’Dari 36 meter pada 2000, kini tinggal 24 meter,’’ kata Kabid Sumber Daya Air DPUPR Magetan Yuli Karyawan Iswahyudi, Jumat (4/9).

Menurut dia, pendangkalan belasan meter itu tergolong parah. Membandingkan vegetasi kawasan sekitar telaga yang dulu masih hijau dengan saat ini telah rusak. Pembalakan liar membuat kawasan hutan gundul. Kebakaran hutan Gunung Lawu lima tahun silam turut memperburuk kondisinya. ‘’Sehingga, setiap kali hujan mengguyur, semakin banyak lumpur yang terbawa ke penampungan air,’’ ujarnya.

Ketika air telaga surut, botol air mineral dan makanan ringan muncul di pinggir telaga. Menurut Yuli, tingginya sedimentasi juga disebabkan keberadaan sampah organik tersebut. ‘’Sampah plastik bukan hanya mencemari air, melainkan juga memperburuk sedimentasi,’’ ucapnya.

Telaga Pasir, nama lain Telaga Sarangan, belum pernah dinormalisasi sejak 20 tahun lalu. Padahal, pendangkalan bukan hanya berpengaruh terhadap konservasi ekosistem air. Melainkan juga aktivitas pariwisata dan penyaluran air ke lahan pertanian setempat. ‘’Dari fungsi awal telaga tampungan menjadi irigasi pertanian,’’ sebutnya.

Yuli tidak sepakat jika lembaganya yang diberi tanggung jawab normalisasi. Kewenangan itu harus diemban bersama sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD). Sebab sampah organik bisa masuk dalam telaga karena dipengaruhi aktivitas wisata. ‘’Kami akan mengoordinasikannya,’’ ujarnya.

Pihaknya telah mencegah sedimentasi kian parah dengan membangun tiga titik tampungan lumpur. Infrastruktur itu sebagai penyaring. Aliran sungai juga sedikit dibendung untuk meminimalkan lumpur masuk ke telaga. ‘’Saluran-saluran air lainnya juga dipantau. Jika vegetasi di sumbernya diketahui mulai buruk, kami akan membuat kantong lumpur atau membendungnya sedikit,’’ jelasnya. (cor/c1)

Sehari Produksi 1,5 Ton Sampah

TEMPAT sampah di kawasan Telaga Sarangan belum ideal. Selain jumlahnya kurang, sarana kebersihan yang mengelilingi telaga itu kondisinya juga tidak layak. Padahal wisata andalan Magetan ini dikunjungi ratusan wisatawan setiap harinya.

Kabid Pemeliharaan Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Magetan Teguh Adi Wiyono menyebut, ada 30 unit kotak sampah dan bak plastik. Sebanyak 15 di antaranya rusak. Tidak bisa lagi digunakan. Selain karena usang, ada bagian yang berlubang dan hilang. ‘’Ada tempat sampah berbahan anyaman bambu. Tapi juga tidak layak karena ukurannya kecil,’’ katanya 30 Agustus lalu.

Di sisa tahun ini, disparbud bakal menambah sembilan tempat sampah baru. Dinas lingkungan hidup (DLH) akan disurati terkait rencana pengadaannya. Ukuran panjang, lebar, dan tingginya lebih besar sekitar 40x40x120 sentimeter. ‘’Karena yang berfungsi hanya sembilan, total nantinya ada 24 tempat sampah. Jumlah itu sudah ideal karena jadwal pengambilan sampah akan dibuat lebih sering,’’ paparnya.

Teguh mengatakan, 24 pekerja dikerahkan untuk mengambil sampah di sekeliling telaga dan hotel. Tugas itu dilakukan secara bergiliran lima kali dalam sepekan. Yakni, Rabu, Jumat, Sabtu, Minggu, dan Senin. Ketika akhir pekan, petugas nonstop berkeliling. Sebab jumlah pengunjung meningkat dibandingkan hari biasa. Sampah yang terkumpul rata-rata 1,5 ton dalam sehari. Meningkat dua kali lipat saat akhir pekan. ‘’Itu sudah termasuk sampah yang diambil dari telaga,’’ ujarnya.

Disparbud mengklaim telah melakukan berbagai cara untuk menghilangkan kebiasaan buruk pelaku wisata dan pengunjung membuang sampah sembarangan. Menekan peningkatan sedimentasi karena sampah anorganik. Pencegahan juga pada pencemaran air akibat kotoran hewan. ‘’Kami membangun tiga titik pembuangan kotoran kuda pariwisata. Ukurannya 100x200x100 sentimeter,’’ ungkap Teguh.

Dia menerangkan, masing-masing mampu menampung kotoran sekitar satu meter kubik. Pengelolaannya di-handle tim dari paguyuban penyedia sewa kuda. ‘’Sudah bukan ranah dari tim kebersihan kami,’’ kata Teguh seraya menyebut masing-masing kuda telah dipasangi alat penampung kotoran. (cor/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close