AdvertorialMadiun

Pemkot Tertarik Lampu Sel Surya Inovasi Unipma

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Aspek ekologi harga mati dalam asas pembangunan modern. Segala hal terkait lingkungan wajib diperhatikan agar penataan kota yang digencarkan tidak mengundang mala.

Tak ingin mengabaikan itu, Pemkot Madiun menjadikan aspek ekologi sebagai landasan penataan kota. Salah satunya penataan penerangan jalan umum (PJU). ‘’Kota kita semakin maju itu tantangan,’’ kata Wali Kota Madiun Maidi usai menghadiri pengendalian dan pencegahan pencemaran udara dari emisi gas buang kendaraan bermotor dan mewujudkan perilaku sadar lingkungan (langit biru) di kantor kecamatan Kartoharjo Kamis (27/2).

Maidi pun berjanji bakal melakukan efisiensi PJU. Dalam setahunnya, anggaran pengadaan lampu cukup besar. Solusinya dengan menambahkan PJU berbahan sel surya. Di hadapan Maidi, Unipma memamerkan inovasinya. ‘’Kami tertarik dengan lampu sel surya yang dikembangkan Unipma (Universitas PGRI Madiun),’’ tegasnya.

PJU inovasi Unipma menjanjikan ramah lingkungan lantaran menggunakan energi dari tenaga surya. Sehingga radiasi yang ditimbulkan dari pencahayaan JPU dapat diminalisasi. ‘’Ini luar biasa. Lampu jangka panjang yang bernilai ekonomis tinggi,’’ ungkapnya.

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Madiun mengurusi 6.181 PJU. Tersebar di jalan, taman, dan beberapa titik publik lainnya. Dari total itu, sekitar 5 persen atau 531 PJU rusak. Sementara biaya pengadaannya selama ini tidak sedikit. Tahun ini saja anggaran penataan PJU yang diposting Disperkim mencapai Rp 5,6 miliar. Rinciannya Rp 3,7 miliar untuk pengerjaan jaringan dan meterisasi dan Rp 1,9 miliar untuk pemeliharaan dan perbaikan PJU. ‘’Sudah saatnya kita perlu menerapkan pola pola efisiensi dan ramah lingkungan,’’ tegasnya.

Maidi tak menampik sebaran PJU belum merata. Beberapa titik di Kelurahan Pilangbango belum terjangkau. Meski, sudah ada beberapa lampu sel surya yang telah dipasang di titik tersebut. Namun, lanjut Maidi, usia PJU tidak bisa bertahan lama. ‘’Setelah dua tahun rusak, itu jadi pemborosan,’’ imbuhnya.

Apalagi dalam pengadaan tiap JPU berbahan sel surya menghabiskan anggaran sekitar Rp 15 juta. Karena itu pihaknya bakal memanfaatkan produk lampu sel surya inovasi Unipma. Tidak tanggung-tanggung Maidi menunggu usulan PJU berbahan sel surya untuk disewa pemkot. ‘’Jika bisa diproduksi masal dan kualitasnya bagus. Sewa satu bulan atau satu tahunnya berapa. Perawatan dari sana semua. Itu lebih bagus,’’ tegasnya.

Maidi juga mengingatkan bahaya pencemaran lingkungan. Terutama dari limbah plastik. Dikhawatirkan, dampak pencemaran memengaruhi generasi masa depan. ‘’Anak jadi stunting, itu justru menjadi beban negara. Maka itu, harus kita jaga bersama. Limbah sampah kami jauhkan dari permukiman. Kami olah menjadi gas metan yang dapat dimanfaatkan,’’ ucapnya. (kid/fin)

Teruji Hemat Energi, Kantongi Label SNI

KETERTARIKAN Pemkot Madiun terhadap inovasi Universitas PGRI Madiun (Unipma) bukan tanpa alasan. Lampu sel surya telah teruji dan dirancang sesuai kebutuhan masyarakat.

Dosen Prodi Pendidikan Teknik Elektro (PTE) Unipma Pramudya Ardi merespon hangat antusiasme Wali Kota Maidi. Dalam waktu dekat pihaknya bakal membahas rancangan masterplan untuk diusulkan ke pemkot. ‘’Kami berterima kasih atas apresiasi ini,’’ kata Pramudya.

Pramudya menguraikan, penerangan jalan umum (PJU) berbahan sel surya itu semula diproduksi untuk kondisi darurat. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat saat terjadi bencana alam. Pramudya mencontohkan Kelurahan Pilangbango yang rawan banjir. Produk inovasi itu dipasang di sepanjang kawasan rawan bencana hingga titik kumpul evakuasi sampai rumah sakit. Jika terjadi pemadaman listrik, PJU sel surya akan tetap berfungsi sebagai penerang. Keberadaannya bakal memudahkan evakuasi dan menjauhkan risiko tersengat listrik saat terjadi bencana. ‘’Jadi kebutuhan darurat saat bencana dapat terpenuhi,’’ tegasnya.

Apalagi produk tersebut disertai dengan control smart. Artinya tingkat terang lampu dapat diatur menyesuaikan kebutuhan. Misalnya, lampu secara otomatis nyala pada pukul 17.00 dengan tingkat terang 100 persen. Kemudian meredup secara otomatis menjadi 75 persen pada pukul 22.00 hingga 04.00. Selanjutnya padam tepat pada pukul 05.30. ‘’Tingkat keredupannya bisa diatur,’’ ungkapnya.

Pramudya membeberkan produk tersebut didesain dengan spesifikasi kostum. Mulai lampu 30 watt, 40 watt, 60, watt, hingga 90 watt. Sebagai prototipe, produk tersebut menggunakan lampu 60 watt yang telah mengantongi label standar nasional indonesia (SNI). ‘’Nyalanya lain. Tidak mengandung radiasi tinggi,’’ sambungnya.

Lampu tersebut juga disertai baterai 12 volt/150 ampere. Baterai tersebut akan terisi secara otomatis dari energi matahari sehingga dipastikan ramah lingkungan. ‘’Secepatnya kami ajukan usulan untuk mendukung pembangunan Kota Madiun,’’ tuturnya.

Selain lampu tenaga surya ada beberapa produk inovasi lain yang mendapat apresiasi. Yakni motor listrik dengan dilengkapi baterai 36 volt/27 ampere yang ramah lingkungan. Bahkan Maidi sempat menjajal keliling ruang pertemuan Kecamatan Kartoharjo menggunakan motor tersebut. Produk lainnya berupa 3D printer dari sampah plastik. Serta Lampu yang otomatis nyala dan mati saat didekati. ‘’Semuanya merupakan produk ramah lingkungan,’’ imbuhnya.

Seluruh produk itu hasil karya mahasiswa terutama dari mata kuliah workshop pemanfaatan energi listrik. Sejak awal, mahasiswa diberi kebebasan mengajukan usulan inovasi yang akan dikembangkan. ‘’Menjadi produk akhir dalam mata kuliah itu,’’ tuturnya.

Kemudian dosen menyeleksi dengan berbagai indikator. Salah satunya menyesuaikan kebutuhan masyarat dan kebijakan pemerintah. Selanjutnya mahasiswa melakukan perancangan, desain hingga perakitan. ‘’Sejak awal kami menggali potensi setiap mahasiswa. Karena, merekalah yang akan menjadi generasi unggul di era industri 4.0 ini,’’ ucapnya. (kid/adv/fin) 

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close