Madiun

Pemkot Madiun Reaktivasi Karantina Wisma Haji dan Stadion Wilis

Tembus 36 Kasus, Butuh Penanganan Serius

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Sehari setelah ledakan tujuh kasus dalam sehari, pemkot kembali mengumumkan penambahan satu kasus baru Kamis (6/8). Pasien nomor 36 berinisial ZA usia 55 tahun asal Tawangrejo, Kartoharjo. Pasien itu terlacak pernah kontak erat dengan pasien konfirmasi dari Kabupaten Ponorogo. Kontak terakhirnya ketika dalam satu mobil pribadi saat pulang dari Surabaya pada 12 Juli lalu.

ZA kemudian menjalani swab test lantaran sempat mengalami mual dan lemas. Saat ini yang bersangkutan menjalani isolasi mandiri di rumah. Kini, penambahan kasus baru di kota ini sudah tembus 36 kasus. Sebanyak 18 pasien sembuh, 7 pasien isolasi di rumah sakit, 10 pasien isolasi mandiri di rumah, serta 1 pasien meninggal dunia.

Wali Kota Madiun Maidi bakal menerapkan pola lama untuk menekan persebaran Covid-19. Salah satunya kembali memfungsikan tempat-tempat karantina. Selain di Wisma Haji, juga di kompleks Stadion Wilis Kota Madiun. ‘’Ini mulai kita tekan kembali. Untuk menggalakkan itu, ya mulai tingkat RT/RW, kampung tangguh, dan tiga pilar kita semangati,’’ kata Maidi usai menghadiri penilaian kampung tangguh di GCIO Diskominfo Kota Madiun kemarin (6/8).

Maidi menyebut, kebiasaan lama yang dulu diterapkan masyarakat mulai ditinggalkan. Jika sebelumnya orang atau pendatang dari luar kota, utamanya dari zona merah, melakukan pengecekan kesehatan di puskesmas, termasuk menjalani rapid test antibody, kini justru sebaliknya. Mereka datang ke Kota Madiun tanpa seleksi dan pemantauan ketat. ‘’Yang masuk kategori kontak erat atau datang dari luar kota nanti akan dideteksi tiga pilar di setiap kelurahan. Jangan diterima kalau dari zona merah sebelum ke puskesmas,’’ tegasnya.

Untuk meningkatkan imun masyarakat di tengah pandemi Covid-19, pemkot bersama forkopimda tidak henti-hentinya membagikan sayuran, susu, dan telur. Seperti yang dilakukan di Jalan Pahlawan kemarin. Puluhan ton sayur segar dibagikan kepada pengendara yang melintas. ‘’Protokol kesehatan diperhatikan, imun tubuh masyarakat juga kami tingkatkan agar tidak mudah terpapar Covid-19,’’ ujarnya.

Polisi Galakkan Jatim Bermasker

Pada sisi lain polisi terjun menggaungkan gerakan Jatim Bermasker yang diawali dengan pembagian masker, sayuran, susu, dan telur bersama wali kota, forkopimda, dan Direktur Pembinaan Masyarakat (Dirbinmas) Polda Jatim di depan Balai Kota Madiun di Jalan Pahlawan kemarin. Agar kesadaran masyarakat di masa adaptasi kebiasaan baru (AKB) kembali tergugah untuk disiplin menerapkan protokol kesehatan. ‘’Jatim Bermasker ini implementasi kebijakan dari pemerintah pusat,’’ kata Dirbinmas Polda Jatim Kombes Pol Dr R.S. Terr Pratiknyo.

Pratiknyo menjelaskan, gerakan itu selaras dengan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 6/2020 tentang Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan dalam Pencegahan dan Pengendalian Covid-19. Serentak dilaksanakan di seluruh 38 kabupaten/kota di Jawa Timur. ‘’Pak Presiden (Joko Widodo) menyatakan bahwa kita wajib bermasker. Oleh sebab itu, Forkopimda Jatim membuat program Jatim Bermasker,’’ terangnya.

Di Kota Madiun, gerakan tersebut di-launching di Perum Asabri, Kelurahan Kanigoro, Kecamatan Kartoharjo, kemarin. Pratiknyo menegaskan bahwa gerakan tersebut diklaim ampuh menjaga kesehatan, keamanan, dan kenyamanan masyarakat. Jika warga sehat maka dapat melakukan aktivitas dengan tetap mematuhi protokol kesehatan, serta menjalankan perilaku hidup bersih dan sehat. ‘’Saya lihat langsung di jalan, masyarakat Kota Madiun sudah patuh menerapkan protokol kesehatan. Kami apresiasi setinggi-tingginya kepada warga Kota Madiun,’’ ucapnya. (kid/c1/fin)

Protokol Kesehatan Bangunan Perlu Dipikirkan

IKATAN Dokter Indonesia (IDI) Cabang Madiun mendukung upaya pemkot kembali menerapkan pola lama. Apalagi IDI telah memprediksi kasus bakal meledak pascamobilitas dibuka tanpa ada restriksi. Bahkan golongan anak-anak yang selama ini dianggap luput dari pengawasan turut terpapar korona. Para dokter juga mengingatkan protokol kesehatan tidak hanya diterapkan bagi masyarakat, melainkan penting diaplikasikan untuk bangunan.

Ketua IDI Cabang Madiun dr Tauhid Islamy SpOG membeberkan, selama ini publik mengenal kelompok komorbid sebagai golongan yang rentan terpapar Covid-19. Menurutnya, ada satu kelompok yakni anak-anak dan balita yang selama ini luput dari pengawasan. Terbukti adanya kasus bayi usia dua tahun di Kota Madiun terinfeksi Covid-19. ‘’Ternyata harus memperhatikan kelompok ini yang kadang terlupakan,’’ kata Tauhid Kamis (6/8).

Seperti diketahui, balita yang merupakan pasien nomor 31 asal Kelurahan Banjarejo, Taman, itu merupakan cucu dari pasien nomor 25, pedagang Pasar Sambirejo yang terkonfirmasi pada 23 Juli lalu. Saat ini bayi menjalani isolasi mandiri di rumah. Menurutnya tidak menjadi soal jika menjalani isolasi mandiri. Asalkan diterapkan protokol kesehatan dengan ketat. ‘’Justru pasien dengan kategori konfirmasi asimtomatik itu kan tanpa gejala, disarankan untuk isolasi mandiri,’’ ujarnya.

Tak kalah pentingnya, Tauhid meminta ibu bayi tetap memberikan air susu ibu (ASI) untuk mencukupi kebutuhan nutrisi buah hati. Agar kondisi kesehatan tidak turun dan segera pulih. Dia menyarankan saat memberikan ASI kepada bayi, si ibu mengenakan masker medis. Jika memungkinkan mengenakan face shield. ‘’Karena bayi butuh asupan gizi, ibu tetap memberikan ASI. Tapi, ibu harus mengenakan masker. Klaster keluarga jangan sampai bertambah,’’ tuturnya.

IDI mencatat klaster keluarga telah terbentuk di daerah. Klaster itu terbentuk dengan adanya transmisi atau penyebaran lokal. Asalnya dari importad case atau kasus yang dibawa karena mobilitas penduduk. Ledakan kasus itu telah diprediksi para dokter pascapemerintah melonggarkan mobilisasi masyarakat. ‘’Kami sudah prediksi hijaunya tidak lama, karena mobilitas penduduk ini. Dari situ menjadi transmisi lokal jika tidak segera ada restriksi,’’ ungkapnya.

Karena itu, IDI memberikan masukan tiga langkah ke pemerintah daerah dalam rangka menekan angka kasus baru. Pertama, menerapkan restriksi untuk mendeteksi warga yang masuk atau kembali dari luar daerah terutama zona merah. Langkah ini menurutnya sejalan dengan adanya kampung tangguh. ‘’Tentu ini menjadi sangat penting agar ada batasan. Kalau di los-kan pemerintah akan sulit mendeteksi,’’ ujarnya.

Kedua, pemerintah meningkatkan upaya testing, tracing, dan treatment (3T). Baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Menurutnya, 3T yang dilakukan dengan baik dapat menekan terbentuknya persebaran atau transmisi lokal bahkan klaster keluarga. ‘’Jika ingin memperlambat laju penularan, ayo lakukan restriksi, optimalisasi kampung tangguh untuk mendeteksi orang luar daerah. Setidaknya itu upaya untuk memperlambat,’’ tegas Tauhid.

Terakhir, menurut Tauhid, merupakan upaya baru yang penting dilakukan. Yakni, mengaplikasikan protokol kesehatan untuk bangunan. Sebab, menurutnya tidak ada gunanya jika masyarakat menerapkan protokol kesehatan namun berada di ruangan tertutup dilengkapi air conditioner (AC). Secara ilmiah virus akan tetap ada di ruangan demikian. ‘’Seluruh bangunan, entah umum atau pribadi, itu konstruksinya didesain bukan untuk pencegahan Covid-19. Karena dibangun sebelum pandemi dan tidak ada yang memprediksi ada pandemi seperti ini. Ini problem dan kita harus jeli,’’ jelasnya.

Tauhid menyarankan pemerintah menggandeng ahli di bidangnya untuk memberikan masukan. Sebab, tidak mungkin juga jika harus memaksa bangunan umum, entah perkantoran atau pusat perbelanjaan yang tidak memiliki jendela, harus dipasangi ventilasi. ‘’Protokol kesehatan untuk manusia cukup. Saatnya menoleh ke protokol kesehatan bangunan. Misalnya, sudah ada bangunan yang tertutup. Apa yang bisa dilakukan untuk memperlambat penularan? Yang tahu bukan kita, tapi orang-orang teknik di bidangnya,’’ tuturnya.

Solusi itu setidaknya dapat dijadikan antisipasi untuk membendung transmisi lokal maupun terbentuknya klaster keluarga. Juga mengantisipasi klaster baru di ruang tertutup. Entah rapat atau acara lainnya. ‘’Ini juga untuk mendukung ekonomi agar tetap berjalan,’’ ucapnya. (kid/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button