Madiun

Pemkot Madiun Catat Penghematan Belanja Rp 24,6 M

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Pemkot Madiun mencatat penghematan anggaran Rp 24,6 miliar dari total 169 paket proyek fisik dan nonfisik 2019. Sesuai pagu, yang harus dibayarkan mestinya Rp 257 miliar. Hasil lelang, pemkot hanya membayar Rp 232,4 miliar kepada rekanan.

Kabag Adbang Sekretariat Kota Madiun Sulistranti Purwaningtyastuti mengatakan, penghematan tertinggi lelang pemeliharaan berkala Jalan Bali. Salah satu dari tujuh paket lelang di Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) 2019 itu pagunya Rp 4,6 miliar. Rekanan memenangkan tender Rp 3,8 miliar. ‘’Itu penawaran paling rendah,’’ katanya Minggu (5/1).

Sehingga efisiensi anggaran proyek tersebut mencapai 81 persen. Atau pemkot menghemat sekitar Rp 800 juta dari nilai pagu. Sementara secara keseluruhan penawaran rata-rata berkisar 91,7  persen dari pagu. Efisiensi didominasi proyek peningkatan jalan.

Dibanding 2018, efisiensi 2019 lebih tinggi. Pada 2018 sebesar Rp 16,7 miliar dari 159 paket pekerjaan dengan pagu Rp 199 miliar. ‘’Artinya tahun ini lebih hemat dibandingkan tahun sebelumnya,’’ ujarnya.

Faktor efisiensi yang dicapai 2019, salah satunya tingkat kompetisi yang diajukan penyedia jasa. Tahun ini harga yang disodorkan lebih bervariasi dan kompetitif. Saat ini pemkot tancap gas memulai proyek lebih awal. Bahkan beberapa proyek 2020 telah ditenderkan sejak Desember lalu. ‘’Target Januari ini akan mulai tender sekitar sepuluh paket proyek dinas pekerjaan umum dan tata ruang (DPUTR),’’ sebutnya.

Wakil Ketua DPRD Kota Madiun Istono mengapresiasi capaian pemkot tersebut. Dia menilai, dari sisi pengelolaan, efisiensi baik untuk menghemat anggaran. Namun, penghematan bukan ukuran kinerja. Sebab, efisiensi dikhawatirkan justru mengurangi kualitas pekerjaan. ‘’Jika penurunannya terlalu besar dari harga perkiraan sendiri (HPS) atau pagu anggaran, kami khawatir berdampak pada kualitas proyek,’’ tuturnya.

Menurut dia, efisiensi itu berasal dari penurunan pagu anggaran proyek dalam proses lelang. Artinya, nilai tawar dari  penyedia jasa lebih rendah dibanding pagu. Jika selisihnya terlalu besar, kata dia, bisa berpengaruh pada kualitas pekerjaan. ‘’Kalau bisa dihemat itu bagus, tapi jangan sampai menurunkan kualitas proyek yang sudah direncanakan,’’ katanya.

Jika selisih nilai tawar dan pagu terlampau jauh, menurut Istono, tataran perencanaan kurang matang. Sebab, seluruh detail kegiatan termasuk harga telah ditentukan dan disepakati dalam perencanaan. ‘’Tidak hanya efisiensi semata yang kami kehendaki. Tapi juga perencanaan yang matang,’’ ujarnya. (kid/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button