AdvertorialPonorogo

Pemkab Ponorogo Siapkan Anggaran Rp 12 Miliar, Bebaskan Seluruh Biaya Perawatan

PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo – Pemkab Ponorogo menunjukkan kepedulian kepada warganya yang terpapar Covid-19. Mereka yang kini dirawat di ruang isolasi dibebaskan dari berbagai biaya perawatan. Tak hanya pasien positif virus korona, pembebasan biaya perawatan juga berlaku bagi yang berstatus pasien dalam pengawasan (PDP) serta orang dalam pemantauan (ODP) yang dirawat di rumah sakit. ‘’Baik di RSUD maupun di rumah sakit swasta,’’ kata Bupati Ipong Muchlissoni.

Ipong menetapkan status tanggap darurat untuk Ponorogo terhitung sejak Senin (6/4). Diberlakukannya status tersebut membuat pemkab lebih maksimal dalam menanggulangi pandemi ini. Salah satunya melalui pembebasan biaya perawatan. Total anggaran dipersiapkan mencapai sekitar Rp 12 miliar. ‘’Dengan ditetapkannya status ini, program-program yang terkait dengan penanganan medis maupun sosial bisa dilaksanakan,’’ ujarnya.

Sementara itu, ada tiga pasien terkonfirmasi positif korona yang dirawat di ruang isolasi RSUD dr Harjono per pukul 18.50, Selasa (7/4). Selain mereka, ada sembilan PDP yang dirawat di rumah sakit, dan enam lainnya menjalani isolasi mandiri. Sementara, yang berstatus ODP berjumlah 305. Enam orang di antaranya dirawat di rumah sakit, dan 299 orang lainnya isolasi mandiri di rumah. ‘’Biaya bagi yang dirawat di rumah sakit ditanggung pemkab seluruhnya,’’ jelas Ipong.

Berbagai langkah lain juga dilakukan pemkab untuk menekan potensi penyebaran Covid-19 di Ponorogo. Di antaranya dengan meminta seluruh desa menganggarkan pengadaan masker bagi masyarakat, pembangunan fasilitas cuci tangan di berbagai tempat, serta pengecekan kesehatan di perbatasan masuk Ponorogo. Pekan lalu, Ipong juga mengajak masyarakat berdoa di rumah dan tempat ibadah secara serentak. ‘’Ikhtiar itu harus lengkap,’’ tegasnya.

Ipong berharap masyarakat dapat melindungi keluarga di rumah dengan tidak pulang ke kampung halaman. Sebab, tidak semua orang yang terpapar menunjukkan gejala. Dikhawatirkan, keluarga dapat terpapar virus yang dibawa pemudik. ‘’Ekspresikan cinta, rindu, dan sayang dengan tidak mudik. Banyak cara lain untuk mengekspresikan itu. Misalnya melalui berbagai media sosial,’’ terangnya. (naz/c1/odi/adv)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

?php /** * The template for displaying the footer * */ defined( 'ABSPATH' ) || exit; // Exit if accessed directly do_action( 'TieLabs/after_main_content' ); TIELABS_HELPER::get_template_part( 'templates/footer' ); ?>
Close