Magetan

Pemkab Magetan Merasa Dianaktirikan

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Pemkab Magetan merasa dianaktirikan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa. Pasalnya, berdasarkan Perpres Nomor 80 Tahun 2019 tentang Percepatan Pembangunan Ekonomi, Magetan tidak masuk dalam program wisata Selingkar Wilis.

 “Kata beliau (Khofifah, Red), Magetan masuk kawasan Selingkar Wilis, tapi namanya tidak. Tapi, biarpun hanya nama, kami merasa dianaktirikan,’’ kata Bupati Suprawoto Minggu (15/12).

Namun, Kang Woto -sapaan bupati Magetan- menyebut bahwa Khofifah memastikan Magetan tak akan tertinggal. Orang nomor satu di Pemprov Jatim itu sudah berpesan kepada Wagub Emil Dardak Elistianto agar Magetan tetap masuk dalam pembangunan tersebut.

Jika kabupaten lain dibangun, lanjut Kang Woto, Magetan tidak akan mendapat perlakuan berbeda. Melainkan diperlakukan sama seperti wilayah Selingkar Wilis lainnya yakni Nganjuk, Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Kabupaten Madiun, dan Ponorogo.

Kendati demikian, dia memastikan Magetan tetap mendapatkan jatah dari pemerintah pusat. Berdasarkan perpres tersebut, terdapat tiga sektor yang akan memperoleh kucuran dana. Untuk sektor pariwisata, Telaga Sarangan mendapatkan jatah sekitar Rp 100 miliar. Sumber dananya tak hanya dari pusat, melainkan juga dari akumulasi APBD dan kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU). ‘’Lima tahun selama pemerintahan Presiden Jokowi, insya Allah program itu akan dieksekusi,’’ ujarnya.

Kang Woto mengatakan, harapan masyarakat Magetan adanya interchange pun bakal terkabul. Duit sebanyak Rp 5 miliar akan digelontorkan untuk membangun pintu tol ruas Ngawi-Madiun di Kecamatan Kartoharjo. ‘’Beberapa kali bertemu presiden selalu saya sampaikan. Sampai beliau bilang exit tol ya?” ungkapnya.

Dia menambahkan, Magetan bakal mendapatkan dana Rp 3,15 triliun untuk percepatan pembangunan ekonomi daerah setempat. Dana itu bakal dikucurkan secara bertahap. Besaran uang yang akan dikucurkan setiap tahunnya tergantung kemampuan keuangan.

Lantaran dana tersebut merupakan sharing, Kang Woto berharap pemkab tidak urun terlalu besar karena kemampuan keuangan Magetan terbatas. “Semua akan menjadi prioritas. Dengan adanya perpres ini, mudah-mudahan bisa terlaksana. Presiden sudah berkomitmen,’’ tegasnya.

Dia menyebut, anggaran terbesar akan dialokasikan untuk pembangunan aneka industri kulit dan pengelolaan limbah, yakni sebesar Rp 3 triliun. (bel/c1/isd)

Tahun Depan, Perbaikan GOR Di-Plotting Rp 5 M

GOR Ki Mageti juga bakal dikucur APBD Rp 5 miliar. Sebelum sebagian atapnya dirusak puting beliung Rabu (11/12), rehabilitasi fasilitas umum olahraga itu memang sudah di-plotting penganggaran tahun depan.

Namun, dana sebesar itu hanya cukup untuk mengganti atap GOR. Sebab, material atap GOR beda dibandingkan gedung lainnya. Disesuaikan dengan peruntukannya. Padahal, kondisi lantai sudah tidak layak. Banyak yang sudah terangkat dan tidak rata. ‘’Dananya tidak memungkinkan untuk perbaikan lantai,’’ kata Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Magetan Suwata.

Januari segera disusun perencanaan rehabilitasi atap GOR. Sebab, prosesnya pasti bakal panjang. Selain lelang makan waktu lama, butuh konsultan perencana. ‘’Sekarang masih pengesahan APBD 2020,’’ ujar mantan kepala dinas komunikasi dan informatika (diskominfo) itu.

Setelah APBD 2020 disahkan, masih harus ada penjabaran APBD pula. Pelaksanaannya perlu dibuatkan peraturan bupati (perbup) terlebih dahulu. Untungnya, untuk merehabilitasi atap itu tidak membutuhkan detail engineering design (DED) lagi. Karena bangunan yang akan dibangun sudah ada. ‘’Kami akan lelangkan di awal tahun supaya cepat bisa direhab,’’ tuturnya.

Diakui Suwata, GOR itu belum pernah direhabilitasi sebelumnya. Sejak 2007 silam. Kondisi bangunan berusia 12 tahun itu jelas membutuhkan perbaikan. Karena kemampuan keuangan daerah terbatas, sehingga harus dilakukan secara bertahap. Mengingat prioritas Pemkab Magetan bukan hanya terfokuskan untuk merehabilitasi sarpras olahraga itu. ‘’Tahun depan baru atapnya. Tahun berikutnya ke item lain, melihat kemampuan daerah,’’ jelasnya.

Rehabilitasi itu memang sangat mendesak. Selain menjadi tempat pembinaan atlet, GOR juga dijadikan pusat kegiatan. Mulai instansi pemerintahan, sekolah, hingga hajatan perorangan. Apalagi, setelah alun-alun Magetan tak diperbolehkan untuk menggelar acara yang melibatkan sponsorship, banyak kegiatan yang dialihkan ke GOR. ‘’Kegiatan di GOR sangat padat. Bahkan, beberapa ada yang kami tolak karena berbenturan jadwalnya,’’ ungkap Suwata. (bel/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button