Magetan

Pemkab Magetan Ikut Pantau Pembangunan Embung Pendem

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Pembangunan Embung Pendem diyakini merupakan solusi terbaik mengatasi kekeringan di wilayah Kecamatan Ngariboyo. Proses pembangunan embung yang digawangi BBWS Bengawan Solo itu saat ini terus berjalan.

Kelak, embung itu tidak hanya dimanfaatkan sebagai sarana tampungan. Melainkan juga untuk memunculkan daerah-daerah resapan di sekitarnya. ”Tidak lagi hanya untuk menampung air hujan, tapi juga memunculkan mata air,” kata Kabid SDA Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Magetan Yuli Karyawan Iswahyudi Jumat (27/9).

Embung itu, kata Yuli, diproyeksikan bisa menampung air hingga 100 ribu meter kubik. Sementara, dana pembangunan yang dikucurkan pemerintah pusat mencapai Rp 14,9 miliar. Pelelangan hingga penerbitan surat perintah kerja (SPK) langsung ditangani pusat. Pemkab hanya menerima bangunan jadi. ”Menurut informasi yang kami terima, SPK sudah sejak akhir Juli lalu. Desember nanti ditargetkan selesai pembangunannya,” ujar Yuli.

Meski pembangunan fisiknya berada di tangan BBWS Bengawan Solo, lanjut dia, pemkab tetap ikut memantau progresnya. Juga kendala yang dihadapi pelaksana selama proses pengerjaan. ”Saat ini kami belum mengeceknya. Sedang fokus untuk kegiatan pada masa PAK (perubahan anggaran keuangan, Red),” tuturnya.

Yuli menerangkan, embung tersebut kelak bisa mengairi sawah di tiga desa pada dua kecamatan. Yakni, Desa Ngariboyo dan Pendem di Kecamatan Ngariboyo serta Joketro, Kecamatan Parang. ”Selama ini, saat kemarau, banyak petani yang mengeluhkan minimnya pasokan air irigasi,” ungkapnya.

Yuli menambahkan, embung tersebut dibangun di lahan seluas empat hektare. Pun, pembebasan tanah warga yang terdampak pembangunan embung telah klir dan dibayarkan sesuai dengan hasil appraisal. ”Sudah terbayarkan semua,” tegasnya.

Hanya, kata dia, untuk tanah kas desa (TKD) sampai saat ini masih ada masalah. Sebab, penggantian lahan aset yang terdampak embung itu butuh perlakuan berbeda. Tidak bisa dibayarkan dengan nominal uang. Melainkan ditukar dengan tanah pula. ‘’Tunggu diukur BPN. Kalau sudah klir, bisa langsung tukar guling,” pungkasnya. (bel/c1/isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close