KriminalitasMadiun

Pemilik Sabu-Sabu Eks Lokalisasi Gude Terancam Hukuman Mati

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Siti Artiya Sari, 38, dan Natasya Harsono, 23, terlihat tenang selama 15 menit menjalani sidang di Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Madiun Selasa (27/8). Dua terdakwa perkara pengedar narkoba jenis sabu-sabu (SS) empat kilogram di Desa Teguhan, Jiwan, awal Mei lalu, itu lugas menjawab pertanyaan Ketua Majelis Hakim Teguh Harissa.

Padahal, dalam sidang pembacaan surat dakwaan jaksa penuntut umum (JPU), keduanya terancam hukuman berat. Kurir perempuan yang dibekuk Badan Nasional Narkotika Provinsi (BNNP) Jawa Timur tersebut didakwa pasal 114 ayat 2  jo pasal 132 atau pasal 112 ayat 2 jo pasal 132 Undang-Undang (UU) 35/2009 tentang Narkotika. ‘’Karena termasuk narkotika golongan I yang beratnya melebihi lima gram,’’ kata JPU Tri Satrio Wahyu ditemui usai sidang sembari menambahkan ancaman hukuman maksimal mati.

Sidang dimulai pukul 12.50. Duo ratu sabu-sabu itu masuk ruang sidang mengenakan kemeja lengan panjang dibalut rompi oranye tanpa didampingi penasihat hukum (PH). PN memfasilitasi pengacara lantaran ancaman hukuman keduanya lebih dari lima tahun. Sebelum Nur Amin, JPU lainnya, membacakan dakwaan, Siti yang rambutnya diikat dan Natasya yang berkacamata itu lancar menjawab pertanyaan hakim seputar identitas diri. Keduanya sama-sama mengontrak di eks lokalisasi Gude, Teguhan, Jiwan.

Nur membaca berkas dakwaan selama lima menit. Diawali kronologis awal petugas BNNP Jatim meringkus 3 Mei lalu. Siti yang asal Kelurahan Bukit Tunggal, Jekan Raya, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, itu menerima telepon dari temannya, Edmon, narapidana Lapas Kelas I Madiun, 28 April. Dia diminta mengambil SS selundupan dari Malaysia di Pekanbaru, Riau. ‘’Terdakwa I (Siti, Red) pergi ke Pekanbaru mengambil paket dan lantas dikirimkan ke Madiun lewat jasa pengiriman,’’ papar Nur.

Tujuan alamat Siti mengirimkan satu kotak SS terbagi empat paket itu adalah rumah Sri Wahyuni, tetangga kontrakan berjarak 30 meter. Natasya yang ber-KTP Kelurahan Dukuh Kupang, Dukuh Pakis, Surabaya, bertugas memastikan barang sudah sampai pada 2 Mei. Siti dan Natasya digerebek petugas keesokan harinya setelah menguasai paket itu di rumah kontrakan.

Hasil penyidikan, Sri tidak terlibat dalam tindak kejahatan itu. Rumahnya hanya dijadikan modus sasaran pengiriman barang. ‘’Petugas BNNP mengamankan empat paket sabu isi 1,081 gram; 1.076 gram; 1.073 gram; dan 1.036 gram. Totalnya 4.266 gram atau 4,2 kilogram,’’ bebernya seraya menyebut keduanya menerima upah Rp 7 juta.

Teguh sempat meminta tanggapan Siti dan Natasya atas dakwaan yang dibacakan JPU. Keduanya menyampaikan tidak keberatan usai berdiskusi dengan dua PH yang mendampingi. ‘’Kami tidak mengajukan eksepsi. Tapi langsung ke proses pembuktian,’’ kata Sigit Haryo Wibowo, salah seorang PH.

Agenda sidang pekan depan adalah mendengarkan keterangan saksi. JPU berencana menghadirkan empat saksi. Seperti petugas BNNP dan orang yang terlibat dalam perkara itu. (cor/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close