Magetan

Pembacokan Pipa Dampak Pencurian Air?

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Sembilan titik pipa sambungan air di Dusun Gupakan, Dadi, Plaosan, Magetan, dibacok orang tidak dikenal. Kerusakan peranti itu membuat sedikitnya 1.500 warga setempat kini mengalami krisis air bersih.

Polisi masih memburu pelakunya. Motif perusakan diduga karena ada pihak yang tidak senang atas aktivitas pengambilan air dari sumber mata air Padas Jaran, kawasan hutan setempat. Pasalnya, praktik yang dilakukan warga dusun setempat itu ilegal. ‘’Suplai air dari sumber belum ada izin dari pemerintah,’’ kata Camat Plaosan Permadi Rabu (9/9).

Permadi mengungkapkan, pembacokan pipa dilakukan secara bertahap dalam kurun dua pekan terakhir. Laporan yang diterima, kejadian kali pertama 26 Agustus dan terakhir 1 September. Ukuran pipa yang dirusak bervariasi. ‘’Mulai 1,5 dim hingga empat dim,’’ sebutnya.

Mengapa motif perusakan mengarah pada praktik pencurian air? Sebelum menjawab, Permadi sempat merunut akar persoalan. Dia menyebut sumber air Padas Jaran mengalir di sungai yang menuju empat wilayah. Yakni, Desa Sidomukti, Buluharjo, Bulugunung, dan Kelurahan Plaosan. ‘’Para petani di wilayah tersebut menggunakan air untuk irigasi persawahan,’’ ujarnya.

Di sisi lain, warga Gupakan yang kebetulan dekat hulu merasa diuntungkan atas keberadaan sumber air. Air melimpah bisa digunakan untuk keperluan minum dan mandi tanpa harus membayar. Namun, hal itu berdampak luar biasa bagi para petani. Mereka butuh banyak air untuk bercocok tanam saat kemarau. ‘’Praktik ilegal telah berlangsung sekitar 20 tahun,’’ ungkap camat.

Permadi mengungkapkan, petani di wilayah bawah sempat mendatangi kantornya pekan lalu. Memprotes berkurangnya debit air untuk irigasi lahan pertanian. Petani, kata dia, menuding pengurangan itu imbas keberadaan pipa sambungan ilegal di Gupakan. Pihaknya lantas memfasilitasi mediasi dengan mengundang musyawarah pimpinan kecamatan (muspika). Namun, warga tetap meneruskan pengambilan air dari sumber. ‘’Pembacokan pipa ini kemungkinan adalah puncaknya,’’ ujarnya.

Menurut dia, warga Gupakan terlena dengan fasilitas sumber air. Sehingga tidak punya niatan membuat sumber air yang bisa dikelola sendiri. Salah satunya, penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (pamsimas). Program itu tengah dikoordinasikan dengan dinas pekerjaan umum dan penataan ruang (DPUPR). ‘’Pamsimas butuh persetujuan warga. Sebelumnya banyak yang menolak,’’ ungkapnya.

Dalam beberapa hari terakhir, kebutuhan air bersih sekitar 30 ribu liter warga Gupakan disuplai dari taruna tanggap bencana (taguna) dan badan penanggulangan bencana daerah (BPBD). Total empat tangki berukuran 6.000 liter dikirim setiap hari. Jumlah itu diklaim hanya cukup untuk pagi hingga siang. ‘’Sedangkan kebutuhan air saat malam dicukupi warga dengan swadaya mencari sendiri,’’ paparnya.

Permadi menyebut, kasus perusakan pipa sambungan telah dilaporkan ke mapolsek setempat. Tiga hari lalu penyidik melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan membawa sejumlah barang bukti (BB). ‘’Karena meski sudah dimediasi ternyata masih ada yang tidak terima dan melampiaskan dengan cara yang salah,” terangnya.

Terpisah, Kapolsek Plaosan AKP Munir membenarkan adanya laporan camat. ‘’Saat ini masih penyelidikan,’’ katanya singkat ditanya progres pengusutan. (fat/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button