News

Pelaku Zina Yang Belum Menikah Disebut

×

Pelaku Zina Yang Belum Menikah Disebut

Share this article

Pelaku Zina Yang Belum Menikah Disebut – Zina adalah persetubuhan antara laki-laki dan perempuan yang belum menikah; Memiliki perkawinan palsu (perkawinan tanpa wali, perkawinan mut’ah dan poligami dengan budak perempuan); atau memiliki ikatan kepemilikan (tuan atas budak).

Zina adalah akar kata (masdar) dari zana-jazni. Zina merupakan salah satu dari tujuh kejahatan utama yang diancam dengan hadd (jenis dan jenis hukumannya ditentukan oleh syariat dan merupakan hak Allah swt).

Pelaku Zina Yang Belum Menikah Disebut

Seseorang dikatakan bersalah melakukan zina jika dia melakukan zina setelah hubungan yang sah. Begitu juga dalam kasus suami/istri atau janda. Kebanyakan ulama menambahkan kriteria dewasa, cerdas, mandiri dan muslimah.

Surat An Nur Ayat 2: Pezina Belum Nikah Didera 100 Kali

Namun Imam Syafi’i tidak membutuhkan Islam, karena berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Malik dari Nafi dan diriwayatkan oleh Ibnu Umar, Nabi s.a.w. dia pernah melempari dua orang Yahudi yang melakukan perzinahan ketika mereka dilaporkan kepadanya oleh orang Yahudi lainnya.

Pengkhianat ini, menurut mayoritas ulama, harus dirajam sampai mati (dilempari batu sampai mati) berdasarkan hadits tanda tangan (Bukhari dan Muslim) bahwa Nabi, semoga Tuhan memberkatinya dan memberinya kedamaian, pernah merajam Mais, yang adalah seorang wanita. Keluarga Beni dari Juhajna. seorang pria dan wanita Yahudi dari Bani Amir di desa Azad.

Menurut al-Hasan al-Basri (ahli hadits dan fikih pada masa Tab’in) dan Ishaq (Fakhi), pezina dipukul 100 kali dan dirajam sampai mati. Berdasarkan sebuah riwayat, Ali bin Abi-Dhaalibi mencambuk Shurhah Al-Hamdani pada hari Kamis dan merajamnya sampai mati pada hari Jumat. Ali berkata: – Saya akan mencambuk berdasarkan kitab Allah (KS. 24: 2) dan saya akan meletakkan batu di Sunnah Rasul (saw).

Kelompok Az-Zahiri percaya bahwa pezina, serius atau tidak, harus dicambuk 100 kali menurut Zaahir (lahir) dalam Surah An-Nur (24) ayat 2.

Surat An Nur Ayat 2: Hukuman Bagi Penzinah Yang Belum Menikah

Pejantan gair muhsan adalah orang yang melakukan zina tetapi belum pernah melakukan persetubuhan yang sah sebelumnya. Pezina ini dicambuk 100 kali dan diasingkan dari desa selama 1 tahun.

Imam Syafii berpikir bahwa laki-laki dan perempuan harus didiskriminasi. Di sisi lain, Imam Malik mengatakan bahwa perempuan tidak diusir karena takut melakukan zina lagi sebagai musafir. Adanya hukuman khusus ini dikarenakan hadits yang diriwayatkan oleh Juba bin Samiti yang mengatakan;

“Pelacur dan gadis yang belum menikah, dipukul 100 kali dan diasingkan selama setahun” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah, Ad-Darimi, Malik dan Ahmad).

Adapun budak yang berzina, jika budak tersebut adalah wanita yang sudah menikah, hukuman maksimalnya adalah 50 kali cambukan (QS.4:25); Bagi yang belum bersalah, sebagian ulama berpendapat bahwa hukumannya adalah 50 kali cambuk, dan sebagian lagi mengatakan cukup (hukumannya diputuskan oleh hakim).

Baca Juga  Pukulan Dalam Tenis Meja Menggunakan Bagian Dalam Tangan Disebut

Sering Dinormalisasi, Ini 2 Azab Dunia Bagi Pelaku Zina

Adapun hukuman bagi budak pezina, fuqaha al-Amsar (kota besar) memiliki 50 cambukan (dituduh budak perempuan dengan catatan tertulis). Sementara Madhab Az-Zahiri mengatakan hukumannya maksimal 100 kali cambuk, menurut Zaahir (lahir) dalam Surat Al-Nur (24) ayat 2, tidak jelas apakah akan dihukum bagi orang merdeka atau budak.

Syariat Islam sangat ketat terhadap pezina karena masalah hak asuh anak merupakan salah satu dari lima tujuan syariat yang harus diutamakan (seperti perlindungan agama, jiwa, keturunan, akal dan harta). Namun, melakukan zina tidaklah mudah, itu membutuhkan bukti. Bukti dapat berupa pengakuan atau kesaksian.

Bukti naratif, menurut beberapa ulama seperti Imam Malik, Imam Syafi’i, Abu Dawud, Abu Tauri dan At-Tabari, satu kali sudah cukup, karena Nabi (saw) pernah berkata kepada temannya: “Kamu memeriksa wanita ini.” Jika dia menerima batu.

Wanita itu mengaku (tanpa menyebutkan berapa kali mengaku) ​​sampai dilempari batu sampai mati (HR. Bukhari, Muslim dan Musitta dari Abu Huraira).

Foto Dakwah: Kondisi Yang Sangat Memalukan Adalah Ketika Dipermalukan Di Padang Mahsyar

Abu Hanifah (Imam Hanafi), Ibnu Abi Laila, Ahmad dan Abu Ishaq mengatakan bahwa harus ada empat riwayat. Hal ini didasarkan pada hadits di mana Nabi pernah menolak seorang wanita yang mengaku melakukan perzinahan dan menuntut agar dia dilempari batu sampai mati. Setelah wanita itu mengaku empat kali, Nabi (saw) menerima pengakuannya dan kemudian merajamnya sampai mati (HR. Bukhari, Abu Dawud dan Ahmad).

Pembuktian kontradiksi keempat saksi tersebut berdasarkan surat Al-Nur (24) ayat 4. Saksi harus menyatakan di hadapan hakim bahwa keempatnya benar-benar melihat perbuatan zina. Bagi wanita pezina, buktinya mungkin kehamilannya. Jika ada bukti bahwa kehamilannya adalah akibat perkosaan, batas perzinahan tidak ditetapkan.

Ada dua jenis eksekusi. Jika berdasarkan pengakuan bersalah, yang pertama kali dicambuk atau dirajam adalah imam (penguasa). Jika kesaksian orang pertama yang dicambuk adalah kesaksian, maka dilakukan oleh masyarakat. Banyak orang harus ikut melaksanakan hukuman itu sesuai dengan bunyi surat an-Nur (24) ayat 2.

“Wanita yang berzina dan laki-laki yang berzina, pukullah masing-masing mereka seratus kali dan janganlah kamu menunjukkan belas kasihan (menjalankan agama Allah), jika kamu beriman kepada Tuhan dan Hari Akhir. , dan biarlah azab itu bersama sekelompok orang beriman.

Surat An Nur Ayat 2: Hukuman Bagi Pezina Ghairu Muhshan, Dicambuk 100 Kali

Jika hukumannya adalah cambuk, maka yang akan dicambuk adalah bagian belakang atau bagian belakang tubuh pezina. Jika hukumannya adalah rajam, setengah dari terpidana dikuburkan dan rajam dilakukan.

Baca Juga  Contoh Manfaat Dari Apresiasi Seni Budaya Adalah

Ketika Ali bin Abi Thalib merajam Shurahah al-Hamdaniya sampai mati pada hari Jumat, umat Islam mengepung terhukum untuk melakukan rajam. Ali berkata: “Bukan begitu, tembakanmu akan jatuh pada temanmu.” Jadi, berbaris seperti doa lalu lempar.”

Selain hukuman terbatas tersebut di atas, ada beberapa akibat lain bagi pezina (yang masih hidup dan tidak dirajam) menurut Surat Al-Nur (24) ayat 3.

“Seorang laki-laki yang berzina tidak menikah kecuali dengan wanita pezinah atau wanita musyrik; Dan wanita pezina tidak menikah kecuali dengan pria pezina atau pria musyrik, dan ini diharamkan bagi orang-orang beriman.

Jika Budak Wanita Suka Berzina Sebelum Menikah (umdatul Ahkam Ep 308)

Ayat ini, menurut Ahmad bin Hanbali (Imam Hanbali), menunjukkan bahwa seorang mukmin dilarang menikah dengan pezina. Namun sebagian besar ulama berpendapat bahwa larangan menikah dengan pezinah hanya dalam batas laknat, bukan larangan. Pada akhir ayat yang berbunyi wa hurrima jalika al-mu’min artinya yang dilarang adalah zina dan bukan perkawinan.

Hal ini didasarkan pada sebuah hadits yang menyatakan bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi (saw) dan mengeluh bahwa istrinya tidak menolak ajakan orang lain untuk berzina. Kemudian Nabi SCW bersabda “buka saja dirimu”. Pria itu menjawab: “Tapi aku masih mencintainya. Nabi (saw) menjawab: “Maka kamu tidak boleh menceraikannya, tetapi pertahankan istrimu lagi” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i dan Malik ). Tapi Ibn Qayyim menganggap hadits ini sebagai madhu (dibuat-buat, salah).

Imam Hanafi dan Imam Syafii berpendapat bahwa wanita yang berzina tidak dibenarkan, karena dianggap belum menikah. Oleh karena itu, seorang wanita dapat menikah walaupun sedang hamil. Seperti yang dikatakan Imam Malik, masih ada tradisi untuk tidak mencampurkan benih (anak), apalagi jika yang dinikahi bukanlah orang yang berzina.

Konsekuensi lain dari zina adalah penunjukan mahram atau muhrim (wanita yang belum menikah), sebagaimana disebutkan dalam surat an-Nisa (4) ayat 22 (yaitu mantan istri ayahnya) dan surat an-Nisa’. (4) ayat 23 (ibu mertua, istri bapak dan istri anak).

Zina Adalah Hubungan Terlarang, Ketahui Dalil Hukum Dalam Islam

Imam Syafii dan Imam Malik berpendapat bahwa seorang wanita yang melakukan zina tidak mengakibatkan perkawinan dengan ibu dan anaknya. Juga, seorang wanita tidak boleh menikah dengan ayah dan anak pezina. Sedangkan Abu Hanifa, As-Sauri dan Al-Auzazi berpendapat bahwa pernikahan mereka dilarang oleh hukum karena melarang pernikahan.

Jika zina mengakibatkan lahirnya seorang anak, maka sebenarnya anak tersebut lahir dalam keadaan suci. Betapapun sucinya dia, dia memiliki posisi yang berbeda dari anak pada umumnya. Seorang anak tidak dapat ditelusuri kembali ke “ayahnya”, bahkan jika ayah kandungnya jelas dan bahkan jika “ayah” akhirnya menikah dengan ibunya.

Baca Juga  Dengan Adanya Internet Kita Dimudahkan Dalam Mengakses

Mengenai harta warisan, Imam Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad berpendapat bahwa anak zina tidak mewarisi dan tidak mewarisi dari “ayahnya” atau kerabat ayahnya. Dia mewarisi hanya dari pihak ibu dan kerabat ibu.

Sedangkan Syi’ah (Syiah) berkeyakinan bahwa anak zina tidak mewarisi dan tidak mendapat warisan dari “ayah” dan kerabatnya atau ibu dan kerabatnya. Wakil perkawinan perempuan zina adalah wali hakim. Wanita pezina digolongkan sebagai marah dani’ah (wanita berstatus rendah).

Tagih Sumpah Virgoun, Inara Rusli Bagikan Keterangan Hukuman Rajam Untuk Pelaku Zina

Zina di tangan dapat diartikan memiliki perasaan bernafsu terhadap wanita selain istrinya. Nafsu juga bisa disebut zina. Mendengarkan dengan senang hati suara wanita yang bukan wanita juga bisa disebut zina dan sebagainya. Perzinahan seperti itu biasa terjadi dalam literatur sufi. Mereka tidak hanya menghindari kejahatan besar, tetapi kejahatan kecil juga diupayakan untuk dihindari.

Kajian fikih Islam mengacu pada zina tangan, atau fikih disebut istimanaat. , mereka juga melindungi dari debu. Imam Syafii dan Imam Malik melarang merokok berdasarkan ayat dan hadits tersebut yang berbunyi:

“Hai para pemuda yang ingin menikah, menikahlah, jika tidak bisa berpuasa, karena puasa adalah obatnya. (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasa). I, Ed-Darimi dan Ahmed bin Hanbali).

Sebagian murid Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad bin Hanbal, termasuk Ibnu Taimiyyah, membolehkan (mubah) berzina dengan tangan agar tidak berzina. Namun pendapat ini dinilai lemah. Jadi larangan zina lebih kuat dari hukum kesopanan.

Tolong Bantu Jawab Ya Kak? Terimakasih,dikumpulkan Hari Ini

Kitab Abu Zahrah, Muhammad. al-Jarimah wa al-jukubah fi al-fiqh al-Islami. Kairo: Daar al-Fikr al-‘Arabi, t.t. Amir, Abdul Aziz, al-Ta’zir fi Shari’atul-Islamijeh. Alexandria: Dar al-Ittasam, 1978. Bahnasi, Ahmad Fatchi. al-Masculiyah al-Jina’iyyah al-Islamiyyah. Kairo: Dar al-Qalam 1961. –––––––. al-Juqubah fi al-Fiqh al-Islami.

Penginapan di jogja untuk pasangan yang belum menikah, pembersih kewanitaan yang aman untuk wanita yang belum menikah, penyebab kista pada wanita yang belum menikah, penginapan di dieng untuk pasangan yang belum menikah, penyebab penyakit kista pada wanita yang belum menikah, sabun miss v untuk yang belum menikah, hukum zina bagi yang belum menikah, wanita yang belum menikah, hukum zina bagi yang sudah menikah, artis yang belum menikah, pembersih miss v untuk yang belum menikah, taubat zina bagi yang sudah menikah